Xtra

1.3K 126 70
                                        

Pembagian rapot. Hal yang menjadikan aku harus cuti dari agensi, karena sekolahnya Adrian mengharuskan kehadiran kedua orang tua murid.

"Jangan-jangan kamu ranking satu?" Blaze berkata. Tangannya memegang setir, matanya memerhatikan jalanan, tapi pikirannya melalang-buana kesana kemari.

Adrian meringkuk di pangkuanku. Wajahnya cemberut. Dia terlihat tidak begitu menyukai acara pembagian rapot. Aku bingung mengapa.

"Papi Ayam, teman sekelasku itu otaknya otak ilmuwan semua," Adrian mengeluh. Dia tetap bersender di dadaku, menelungkup seperti kangguru di kantong berbulu ibunya, dan menikmati bungkusan selimut fleece di punggungnya. "Masuk sepuluh besar pun, itu sudah bagus,"

Aku memeluk Blaze mini lebih erat dan berkata, "anak ayam sayang, tidak apa-apa. Yang penting, kamu udah berusaha,"

"Mamiiii!" Blaze mini mengeratkan cengkraman tangannya pada kain bajuku. Dia meremasnya karena kesal dan muak. "Teman sekolahku rata-rata abnormal. Ada anak ilmuwan berotak seperti kalkulator. Ada anak songong bin narsis tapi aslinya pinter. Ada anak nggak logis bermulut pedas—setiap hari dia membicarakan siklus krebs, dekarboksilasi oksidatif atau kadang oxygen delivery, atau asam basa Steward. Ada pula politisi cilik dengan filsafat-filsafat membingungkan yang menggagas semua manifestonya dari mamanya, karena katanya, mamanya dosen teknik elektro,"

"Itu enggak masuk akal," Komentar Blaze. Dia membanting setir ke bangunan yang berdiri di pinggir jalan, dan lahan parkirnya dijadikan ladang bisnis oleh kepala sekolahnya. Mobil ini disetop oleh satpam, dan diarahkan ke jalur alihan dengan mesin karcis otomatis.

Blaze mini mendengus, "Iya 'kan, Papi Ayam? Sampai-sampai aku berpikir, ini kelas macam apaan? Untung aku bisa bertahan hidup di dalamnya."

Blaze mini memang begitu. Dia selalu mengeluh setiap kali orang tuanya diminta datang ke sekolah. Nilainya tidak terlalu buruk. Dia hanya bertanya-tanya darimana datangnya anak-anak di kelasnya, dan mengapa mereka bisa menjadi pribadi seunik itu? Blaze mini sering mencurahkan isi hatinya padaku. Tapi untungnya, dia menyukai teman-temannya.

Blaze mini tidak suka belajar, sama seperti Papi Ayamnya. Blaze mini sukanya main. Blaze mini biasanya rutin mengajak orang tuanya jalan-jalan, dan memoroti kami habis-habisan dengan jajan-jajan, main kesini dan kesitu, kemudian mengunjungi area berbayar yang rerata letaknya bukan di Malaysia. Lalu, mempergunakan muka tidak berdosa, dia akan jatuh tidur ketika kami menempuh perjalanan pulang. Dia cinta main, bukan belajar.

Sesampainya di sekolah Blaze mini, kami segera turun. Blaze mini tidak bersemangat, jadi dia tidak mau turun dari gendonganku. Dia seperti lem yang menempel erat ke leherku. Dia memintaku membawanya, memboyongnya kemana-mana seperti janin yang ditampung di perut ibunya. Blaze mini benar-benar menuruni sifat ayahnya. Dia ternyata berketergantungan dan clingy.

Kami pergi ke lorong sekolah yang keadaannya ramai, tetapi kondusif. Tidak ada terlalu banyak orang, sebab meski mereka mengundang semua orang tua murid, mereka pun punya banyak ruangan menganggur untuk mengorganisir acara keinaikan kelasnya.

Di belakang tubuhku, aku merasakan tangan iseng yang merayap ke pinggangku, dan memegangnya erat. Aku menoleh ke samping untuk memelototi pesaingnya; Blaze besar. Kebiasaan. Dasar ayam. Mau gimana pun, ayam tetap ayam. Ayam tidak bisa menahan diri di khalayak umum, dari dulu sampai sekarang. Ayam begini, kalau bukan suamiku, sudah aku sembelin untuk dimasak opor atau gulai.

Di rumah, aku punya dua ayam. Satunya besar, dan satunya berukuran lebih ekonomis, yakni mini. Ayam besarku bertingkah ada-ada saja, dia iseng, dia jahil, dan dia sama sekali tidak mau makan kalau tidak disuapi akhir-akhir ini. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena aku terlalu banyak berpergian jauh, tanpa mengajaknya, dan begitulah caranya merajuk.

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang