- 10

795 112 55
                                        

Pernahkah aku bilang, bahwa ada alasan lain yang mendorong agar aku setuju menikahi Blaze, selain dari keinginanku untuk menyelidiki kematian Kakek?

Ini salah satunya. Menyesuaikan tipe istrinya, Blaze merombak habis-habisan hantaran pernikahan yang biasanya berupa sepatu wanita, peralatan mandi, kotak berisi cincin, liontin, anting-anting, bros, dan kancing manset, atau buket uang, atau set pakaian. Blaze menggantinya dengan Zephyrus full upgrade supaya aku bisa grinding sampai mampus di Elden Ring, memuat semua peta Assassin's Creed Odyssey tanpa ngelag, menginstal semua emulator untuk memainkan game di setiap seri Playstation, Nitendo, Xbox Series S—atau tidak! Karena aku tinggal memasangnya memalui Steam!

Laptop itu hanya salah satu dari banyaknya kotak-kotak transparan pada hantaran pernikahannya. Satu kotak hantaran diduduki oleh processor komputer di atas kain beludru dan bunga-bunga mawar tiruan yang menancap ke gabus dudukannya. Satu kotak hantaran memuat motherboard dan motherboard socket. Satu hantaran mengungkung sebuah GPU berbentuk kipas RGB menyala-nyala bertuliskan GTX 1650 DDR6. Dan kotak hantaran lainnya menyimpan unit SSD dengan kecepatan 500-an MB/s di read dan write, M.2 NVMe berlogo Republic of Gamers, dan case berulik lampu neon dari sistem air.

Benda-benda itu dapat disatukan menjadi CPU komputer dengan kekuatan luar biasa hebat, yang mustahil drop FPSnya, dan kesulitan mengolah grafik game macam apapun.

Aku mengelus salah satu kotak, kotak berisi case dengan perintilan lampu-lampu menyala, yang tentunya akan memakan banyak voltase listrik. Bentuknya mengerikan, warnanya obsidian, kerangkanya gagah dan keras. Bahkan tidak semua Youtuber mempedulikan tampilan CPU mereka. Tapi di depan mataku, segalanya terlihat sempurna.

Kemudian aku beralih ke kotak hantaran satunya. Kotak itu kotak satu-satunya yang berisikan barang wajar; perhiasan. Satu set perhiasan, wujudnya kecil-kecil, terdiri atas kalung mutiara tanpa bandul, sebuah kelereng mutiara—anting, dan cincin dari emas putih. Secara visual, perhiasannya tidak mencolok. Tapi aku menekuninya, berusaha mencari tahu berapa besaran harganya, dan dimana Blaze membelinya.

Semua kotak hantarannya berjejer rapi di atas meja persegi panjang di garasi. Kesemuanya dihias oleh mawar-mawar imitasi warna merah, hiasan daun perak yang terbuat dari kawat-kawat mungil, dan selongsongan bunga peony sebagai pemanisnya. Sebetulnya warna-warna itu terlalu mencolok, sebab sejatinya, pernikahan kami digelar sederhana. Tidak ada semaraknya musik dangdut, atau gebyar sawer-sawer uang. Hanya ada Ice di panggung orkestra, bermain bersama-sama anak panti.

Ice duduk di kursinya, jemarinya menari di atas tuts-tuts pianonya, kakinya lihai memainkan sostenuto, dan pedal sustaining, mengasilkan alunan melodi berlanggam tenang dalam gubahan lagu klasiknya. Gentar memainkan ocarina, mulutnya meniupkan udara ke lubang-lubang instrumen musik berbentuk kerang laut itu, memberikan sentuhan manis pada simfoni permainan piano Ice. Sedangkan Sopan, Sori, dan Supra beriring-iringan menggesekkan bow mereka ke senar biola, menyajikan orkesta penuh harmoni keselarasan.

Dan Glacier, satu anak yang kurang berbakat bermain musik itu tidak berhenti merekahkan senyum di sepanjang jalannya upacara pernikahan. Dia berdiri di atas panggung, di sampingnya Sopan.

Tangannya Glacier memegang trikona, yakni instrumen musik berbahan logam yang ditekuk membentuk segitiga terbuka di salah satu ujungnya, terbuat dari tembaga berilium, dan memiliki pemukul. Saat paduan musiknya berhenti, Glacier menghantamkan batang pemukul trikona di tangan kanannya pada segitiga trikona di tangan kirinya, dan kemudian, dia menghasilkan suara 'Tingggggg!' yang menandakan berakhirnya lagu. Hanya itu jobdesknya.

Tamu undangannya pun tidak banyak. Blaze tidak mengundang koleganya yang berasal dari luar desa, dan menjadikan acara ini lebih private. Padahal sebelumnya, aku berharap, Blaze mau mengundang satu sampai dua orang dari proyeknya, sehingga aku bisa mengetahui keadaan lingkungan bekerja Blaze. Dengan mengundang kolega Blaze, aku bisa berbasa-basi untuk menanyakan soal kejadian lima tahun silam. Mereka narasumber yang sempurna.

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang