"Banyak hal yang tak ingin kita tinggalkan dalam hidup ini namun semua pasti ada akhir sesuai dengan ketentuan-Nya."
Hari ini adalah hari pertama Muhi libur karena dia adalah pemenang minggu ini. Gadis itu memutuskan untuk berlibur bersama Riski dan Jovan, kebetulan mereka sedang berada di kota. Setelah menyusun pakaian yang akan dibawanya ke rumah Riski yang sebelumnya ia tempati, Muhi pun siap. Setelah selesai, dia berpamitan dan memasuki mobil yang sedari tadi menunggu dirinya.
"Suwe banget, cah ayu," ujar Jovan, yang sudah lelah menunggu Muhi di depan mess.
(Lama banget, cantik.)
Kemudian, keduanya asyik berbincang dan menikmati perjalanan. Tanpa mereka sadari, Riski yang sedari tadi duduk diam tampak diabaikan, bahkan kehadirannya tidak diperhatikan.
"Lupain wae, Mui, aku di lupain wae," ujar Riski dengan nada lelah karena merasa tak dihiraukan.
(Lupain aja, Mui, aku di lupain aja.)
"Ya Allah, Ikiii, kangen banget lohhhhh!" jawab Muhi dengan antusias, baru menyadari kehadiran Riski yang sejak tadi tidak dia ajak bicara.
"
Nyenyenye," sambung Riski, lalu ketiganya melanjutkan cerita masing-masing, dari Jovan yang tengah menjalankan bisnis hingga Riski yang ternyata sedang merasakan jatuh cinta.
Hari ini, ketiganya memutuskan untuk keliling kota dan menikmati waktu bersama. Kebetulan, bukan hanya Riski dan Jovan yang ingin menemui Muhi, tetapi Muhi juga mendapat cuti. Setelah berkeliling dan menikmati berbagai makanan, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko buku, atas permintaan Muhi yang sejak awal ingin mengunjungi tempat itu. Entah untuk sekadar mencari suasana yang lebih tenang atau sekadar mencari buku yang sudah lama diincarnya.
"Mui," panggil Jovan setelah melihat rak novel yang ada di depan mereka. Judul-judul buku itu terpampang jelas di sana.
"Iya, bentar, mau ambil ini dulu," jawab Muhi, lalu mulai berjinjit untuk mengambil satu buku yang sudah lama ia incar. Namun, meskipun ia berusaha sekuat tenaga, buku tersebut tetap tidak dapat dijangkaunya. Bukan karena Muhi pendek, tapi rak bukunya yang terlalu tinggi. Muhi memiliki tinggi tubuh sekitar 156 cm, yang menurutnya tidak terlalu pendek untuk seorang wanita. Setelah beberapa kali mencoba, dengan tidak sengaja Muhi terpeleset karena tali sepatu yang dibiarkan terbuka.
"Aduh," keluhnya setelah merasakan tubuhnya terjatuh. Anehnya, meski jatuh, ia tidak merasakan sakit sedikit pun.
"Hati-hati, Purnama," suara bariton yang familiar itu membuat Muhi terkejut. Ia segera membuka mata, merasa cemas sekaligus lega saat menyadari siapa yang mengingatkannya.
"Apaan sih, pegang-pegang lepasin!" perintah Muhi, tubuh mungilnya terjatuh begitu saja.
"Tapi gak gini juga kali," sambung Muhi dengan nada kesal, kemudian ia berdiri dan mulai membersihkan tubuhnya dari debu-debu yang menempel pada pakaiannya. Tanpa menjawab, pemuda itu segera mengambilkan buku yang sedari tadi Muhi incar, lalu memberikannya kepada gadis itu sebelum pergi begitu saja.
"Dasar gak jelas. Btw, makasih ya," teriak Muhi setelah melihat buku berjudul Hidup Tanpamu Itu Berat, lalu berjalan menuju Jovan yang juga sedang memilih novel untuk diberikan kepada Muhi.
"Cah ayu, awakmu gelem ora novel iki?" tawar Jovan sambil menunjukkan sebuah novel berjudul Hana;N. (Cantik, kamu mau novel ini nggak?)
"Novel opo kui? Aku rong tau eroh ki." (Novel apa itu? Aku belum pernah lihat.)
"Iki lo, enek sinopsise. Jajal woco disek nak, seneng ngomongo engko tak tumbaske. Teros nak arep novel lio yo jupuk aku seng bayar, aku tak ngolei si Riski." terang Jovan sambil melangkah meninggalkan Muhi sendirian. (Ini loh, ada sinopsisnya. Coba baca dulu kalau suka bilang aja nanti aku beliin. Terus kalau mau novel lainnya, ambil aja, aku yang bayar. Aku mau cari Riski dulu.)
Setelah membaca sinopsis, Muhi mulai tertarik dengan novel bertema religi dan perjodohan tersebut. Gadis itu berharap bisa menjadi wanita yang lebih paham agama dan mendapatkan jodoh seperti Hana yang mampu meluluhkan Hanan dengan imannya. Ia lalu mengambil satu novel lama yang berjudul Laila Majnun.
"Ternyata kamu suka juga novel ini? Aku kira orang seperti kamu, Purnama, gak suka novel lama," tanya pemuda yang kini berdiri di belakang Muhi, membuat gadis itu terkejut dan sedikit berteriak.
"Jangankan novel, aku saja masih mencintai dia," jawab Muhi, kemudian terdiam. Meskipun Muhi tidak mengenal pemuda di hadapannya, mendengar ia menyebut kata "Purnama", Muhi teringat pada salah satu pemuda yang DM dirinya kemarin.
"Kenapa?" tanya Muhi, dengan nada sedikit heran.
"Kepo," jawab pemuda itu singkat, diikuti dengan senyum tipis. Muhi kemudian melangkah menuju kasir, tanpa menyadari tatapan lembut yang mengikutinya.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, saat kita pertama kali bertemu," batin pemuda itu, masih dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya. Dengan langkah ringan, ia akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
Tokoh utama udah mulai nunjukin dirinya nihh, janlup pantengin terus _Badai Kepulangan_
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
