"Perubahan datang bukan karena paksaan, tapi karena kenyamanan dan saling menghargai."
Keesokan harinya, Muhi memutuskan untuk mencari saran dari sahabatnya yang paling bisa diandalkan, Jovan. Dia merasa bingung dan ragu setelah kejadian kemarin dengan Yegi. Jovan adalah orang yang selalu bisa memberikan perspektif yang berbeda, dan itulah yang Muhi butuhkan sekarang.
Mereka bertemu di kedai kopi favorit mereka yang terletak di sudut jalan. Suasana pagi itu cukup tenang, hanya terdengar suara mesin kopi dan percakapan beberapa orang yang sedang menikmati waktu senggang mereka. Muhi duduk di depan Jovan, gelas kopi hitam hangat ada di depannya. Dia menghela napas, tampak sedikit gelisah.
"Jov, gue bingung deh," Muhi mulai membuka percakapan, suaranya terdengar ragu. "Kemarin Yegi bilang gitu, gue nggak tahu harus gimana. Dia jujur soal perasaannya, dan gue nggak tahu apakah gue bisa ngerima itu. Gue masih mikir, gue takut kalau gue salah langkah."
Jovan mengangguk pelan, matanya menatap Muhi dengan penuh perhatian. Dia bisa melihat betapa Muhi terlihat bimbang dan ragu.
"Mui, gue ngerti lo lagi bingung. Lo nggak bisa langsung ambil keputusan, itu wajar. Tapi gue cuma mau bilang, lo harus dengerin hati lo sendiri. Kalau lo ngerasa lo belum siap, ya nggak usah dipaksain. Yang penting lo jujur sama perasaan lo, sama Yegi juga. Jangan sampe lo nyakitin diri sendiri atau dia."
Muhi mengangguk perlahan, merasa sedikit lega setelah mendengar saran Jovan. Namun, dia masih merasa ada keraguan yang membebani pikirannya.
"Emang gue bisa ngerasa siap, Jov? Gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Gue juga nggak mau jadi beban buat dia," Muhi berkata dengan suara pelan, seperti mencari jawaban dari dalam dirinya.
Jovan menyandarkan tubuhnya pada kursi, berusaha memberi pandangan yang lebih jelas. "Mui, nggak ada yang bisa ngomong lo harus siap atau nggak. Itu soal waktu. Kalau lo udah ngerasa siap, lo akan tahu kok. Jangan buru-buru, jalanin aja dulu, jangan dipaksain."
Muhi menatap Jovan, masih berpikir keras. "Tapi gimana kalo gue malah menyakiti dia karena gue nggak bisa balas perasaan dia?"
Jovan tersenyum lembut, mencoba menenangkan sahabatnya. "Lo nggak akan tahu kalau lo nggak coba, Mui. Jangan takut gagal. Kalau lo jujur dari awal, kalau lo jelasin dengan baik-baik, gue rasa Yegi bakal ngerti kok. Yang penting lo nggak bohongin diri lo sendiri."
Muhi terdiam, masih merenung. Akhirnya dia mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang. "Iya, mungkin lo bener. Gue harus lebih jujur sama diri gue sendiri."
Jovan memberi senyuman bangga, menyadari bahwa Muhi sedikit demi sedikit mulai menemukan jalan keluar dari kebingungannya.
"Yaudah, jangan terlalu dipikirin. Lo tahu kan, kalau ada orang yang bener-bener buat lo nyaman, lo pasti bakal tahu kapan waktu yang tepat. Jangan terburu-buru. Kalau lo memang belum siap, yaudah, nggak masalah."
Muhi tersenyum sedikit, merasa lebih yakin. "Thanks, Jov. Lo emang sahabat terbaik."
Mereka pun melanjutkan obrolan, meskipun masih banyak yang ada dalam benak Muhi. Tapi satu hal yang pasti, dia tahu sekarang dia harus lebih mendengarkan dirinya sendiri dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati.
Beberapa menit kemudian, Riski datang bersama pacarnya, Dava, yang kebetulan adalah teman kerja Muhi. Keberadaan Dava membuat Riski sedikit berbeda. Biasanya, Riski adalah cewek tomboi yang selalu tampil cuek dan santai, tapi kali ini dia tampak lebih feminim, mengenakan dress yang manis dengan gaya rambut yang rapi. Dava, yang biasanya tenang dan simpel, terlihat tersenyum bangga mendampinginya. Muhi yang melihat perubahan ini tidak bisa menahan rasa heran dan ingin tahu lebih banyak.
"Eh, Riski, kok hari ini kok malah tampil feminim gini? Pantesan, Dava nggak lepas-lepas dari Lo." Ujar Muhi dengan sedikit terkejut namun penuh rasa ingin tahu.
Riski tertawa ringan, merasakan perhatian dari teman-temannya. "Hehehe, ini karena Dava nih, jadi bisa tampil beda sedikit. Lagian kan, kalau dia suka, kenapa nggak dicoba?" jawab Riski, senyum manisnya tak lepas.
Muhi menatap Riski dan Dava bergantian, masih mencoba mencerna perubahan pada Riski. "Wah, Dava, ternyata Lo punya daya tarik ya, bisa bikin Riski berubah gini. Caranya gimana sih?" Tanya Muhi kepo, sembari menatap Dava dengan penasaran.
Yang membuat Dava tersenyum malu, jelas merasa sedikit tersanjung.
"Ah, nggak ada yang spesial sih, Muhi. Mungkin cuma karena Riski juga mulai merasa nyaman dan percaya diri. Kan, tiap orang punya keunikan masing-masing. Gue nggak pernah maksain, yang penting dia tetap jadi dirinya sendiri," jawab Dava dengan suara tenang dan lembut.
Muhi mengangguk-angguk, tapi tetap penasaran. "Lah, kok bisa, sih? Kan Riski dulu bukan tipe yang suka tampil feminim gitu. Ada tips nggak buat Gue biar bisa jadi kayak Dava yang bisa mengubah sikap cewek yang tomboi jadi lebih lembut dan feminim?" Muhi melirik Riski, berharap mendapatkan tips atau rahasia dari mereka berdua.
Riski tersenyum tipis, merasa senang karena Muhi memberi perhatian lebih pada hubungan mereka. "Kalau soal itu, ya bener kata Dava. Yang penting, kita nyaman aja, Mui. Gue nggak merasa dipaksa buat berubah. Tapi ya, kalau Dava senang gue lebih rapih, kenapa nggak dicoba? Gue jadi ngerasa lebih cantik, gitu."
Dava ikut menimpali, "Iya, yang penting jangan terlalu maksa, Mui. Kalau lo bisa bikin cewek nyaman dan ngerasa dihargai, pasti ada perubahan yang datang tanpa dipaksa. Percaya deh."
Muhi mengangguk-angguk lagi, semakin terkesan dengan keduanya. "Jadi intinya, lo berdua emang saling menghargai, ya. Gue bisa lihat banget, lo berdua tuh pasangan yang cocok banget."
Dava dan Riski saling tersenyum. Riski memandang Dava dengan tatapan penuh cinta, sementara Dava menanggapi dengan senyum hangat, seakan mengerti betul apa yang dimaksud Muhi.
"Mui, kita kan saling mengisi, bukan saling mengubah. Jadi, ya gitu deh," kata Riski dengan nada santai namun penuh makna.
Muhi akhirnya tertawa kecil, merasa tercerahkan. "Ternyata, yang paling penting itu saling percaya dan merasa nyaman, ya? Makasih banget deh, udah kasih pencerahan. Gue jadi tahu harus gimana."
Jovan, yang dari tadi mendengarkan percakapan, ikut tersenyum. "Tuh kan, Mui, gampang kan? Jangan terlalu mikirin hal-hal rumit, yang penting lo nyaman dengan diri lo dan orang yang lo suka."
"Betul banget," Muhi menjawab, merasa lega dan lebih paham. "Pokoknya, gue bakal coba lebih hati-hati dan nggak terburu-buru. Makasih, guys!"
Obrolan mereka pun berlanjut, dengan keempatnya saling berbicara ringan dan tertawa bersama. Muhi merasa lebih tenang dan siap untuk menghadapi perasaannya, setelah mendengar saran dan nasihat dari teman-temannya yang bijaksana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
CasualeSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
