Karena kesempurnaan bukan tentang yang baik-baiknya saja, hanya saja ada baik-buruknya
Yegi Mahendra.
"Sampek kapan Lo suka sama dia? Emang Lo gak mau cari pacar lagi Udah dua taun Lo gamon kedia."
Sarkas Riski saat mendengar bahwa Muhi masih sering menangisi Syahrul, bahkan gantungan hanphone serta wallpaper masih foto saat mereka bersama. Riski sangat merasa muak menghadari tingkah laku Muhi, namun tak ayal belum ada pemuda yang mampu membuka hati Muhi padahal Muhi sangat cantik dan banyak pemuda yang mengincarnya.
"Tapi-" Belum sempat menyelesaikan ucapannya Riski lebih dahulu membungkam mulut Muhi.
"Lo mau bilang apa hah? Lo gak capek, jangan jadi orang bodoh Muhi jangan. Lo cantik, seksi bahkan agama lo lebih besar dari gue dan jovan, memang salah kostum aja." Lagi-lagi Riski mengoceh tanpa henti.
"Sini hp Lo," pinta Riski yang langsung mere but hp Muhi, lalu melepas gantungan kunci yang sedari tadi menggangu penglihatannya.
"Mui, ini gue ambil bukan karna gue egois atau apalah. Tapi gue mau Lo move on, ya gue mohon banget Mui gue capek liat Lo nangis mulu." Sambungnya kemudian memeluk tubuh Muhi, tampak jelas di wajahnya bahwa gadis itu sangat marah namun tak ayal ia hanya menurut saja karena yang Riski katakan termasuk hal yang benar.
"Maaf, Ki." Ujar Muhi dengan isakan tangis yang terbungkam.
"Gpp sayang, Lo cuma perlu perlahan lupain dia ya." Pinta Riski sekali lagi yang langsung di angguki oleh Muhi, setelahnya kedua gadis itu tertidur.
Berikut adalah perbaikan kalimat yang Anda berikan:
Setelah sekitar dua jam tertidur, Muhi terbangun dan melangkah perlahan, khawatir jika Riski terbangun olehnya. Sesampainya di ruang tamu, ia memutuskan untuk keluar menuju taman, berjalan dengan langkah gontai hingga akhirnya duduk termenung.
Banyak hal yang dipikirkannya; bahkan untuk sekadar bercerita, ia merasa tidak mampu. Ia bingung harus pulang ke mana, padahal sudah di rumah, namun ada bagian dari dirinya yang hilang setelah sekian lama. Muhi memang jarang berbicara, namun selalu menjadi tempat bagi orang lain untuk berbagi.
Seiring waktu berlalu, cuaca yang tadinya cerah kini berubah menjadi mendung, mencerminkan perasaannya. Ada rasa sesal yang tak mampu diungkapkan, namun juga rasa kesal yang ingin dilampiaskannya.
"Purnama," gumam Muhi pelan.
"Purnama."
"Dek," panggil pemuda itu untuk ketiga kalinya, baru Muhi sadar bahwa ada seseorang yang sejak kemarin terus mengganggunya.
"Dek, ternyata kamu akan merespons saat aku menggunakan kata itu," lanjutnya, namun Muhi tidak menghiraukannya, bahkan memalingkan wajah untuk menutupi rasa kesalnya.
"Lo siapa sih? Mau lo apa? Lo nggak capek ketemu gue terus?" sindir Muhi setelah rasa kesalnya sedikit mereda, namun ia masih merasa sangat kesal.
"Saya Yegi, Yegi Mahendra," ujar pemuda tersebut memperkenalkan diri. Muhi hanya menjawab dengan sebuah "Oh" sebagai respons.
Setelah itu, hanya ada keheningan di antara mereka, diiringi rintik hujan yang terus membasahi tubuh keduanya. Tak satu pun dari mereka yang bergerak untuk mencari tempat berteduh.
"Meneduhlah, Mas," perintah Muhi, membuat Yegi meliriknya.
"Untuk apa meneduh, jika hatiku sudah terlanjur terbasahkan karena sikap lembutmu?" ujarnya, membuat Muhi refleks memukul lengan Yegi tanpa senyum di bibirnya.
"Bodoh," batin Muhi, tak habis pikir dengan kekonyolan Yegi.
"Kamu sendiri, mengapa tidak berteduh?" tanya Muhi setelah sekian lama membisu.
"Berteduh hanya untuk manusia-manusia lemah. Aku lebih memilih tetap berjalan meski hujan menghalang. Lagipula, aku sangat mencintai hujan." celetuk Yegi, kemudian mendongakkan wajah dan memejamkan mata, menikmati setiap rintik hujan yang mengenai wajahnya.
"Cantik," puji Yegi, membuat Muhi sontak berdiri dan meninggalkan Yegi.
"Modus," teriak Muhi, kemudian berlari kecil menuju rumah. Setelah sampai di pintu, Riski menyambutnya dengan memberikan handuk.
Riski sudah tahu kebiasaan Muhi yang selalu bermain hujan, entah itu di sekolah atau di mana saja. Sepertinya, Muhi memiliki ikatan batin dengan hujan; setiap kali akan turun hujan, Muhi selalu tahu lebih awal.
"Gimana, seru?" tanya Riski sedikit basa-basi, merasa tidak enak setelah mengambil gantungan kunci milik Muhi.
"Not bad, tapi agak kesel soalnya ada cowok yang dari kemarin selalu ada di mana pun gue berada," keluh Muhi setelah memakai handuk, lalu mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Yegi yang terus-menerus ia temui.
"Jangan-jangan dia suka sama lo," tebak Riski, membuat Muhi melengos pergi, dengan sedikit berpikir bahwa apa yang Riski katakan itu mungkin benar.
"Orang, mungkin," ujar Muhi dengan santai. "Lagi pula, mana ada orang yang menyukai gue hanya dengan beberapa kali pertemuan?"
"Gak ada yang gak mungkin. Lo lupa dulu waktu masuk SMA ada kakak kelas yang ngaku suka di lapangan, padahal kita aja baru masuk SMA, belum kenal siapa-siapa?" tanya Riski, namun tak membuat Muhi berpikir lebih jauh; toh itu urusan mereka mau suka atau tidak.
"Tandanya gue cantik," ucap Muhi dengan congkak, lalu dengan cepat memasuki kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
AléatoireSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
