Kafe itu terasa hangat meskipun angin sore sedikit berhembus melalui jendela yang terbuka, meja tempat Muhi duduk seakan menjadi tempat yang penuh dengan kenangan yang tak terucapkan, tempat di mana semua perasaan terpendam seperti larut dalam secangkir cappuccino yang masih teronggok di depan Muhi. Ia menatap ke luar jendela, matanya seakan menembus langit yang berwarna senja, berpikir tentang segala sesuatu yang terjadi, tentang Yegi, tentang perasaan yang tak kunjung terjelaskan.
Suara pintu kafe berbunyi, meski sudah berkali-kalo berbunyi entah keinginan dari mana Muhi memutuskan untuk menoleh ketawa pintu tersebut. Dengan hati yang terus berharap semenjak melihat pemuda itu, Muhi berusaha menenangkan diri. Kejadian sebulan yang lalu cukup membuatnya terpukul, rasanya banyak kekecewaan yang gadis itu ingin luapkan, namun terkalahkan karena rasanya. Rasa yang entah muncul dari mana, namun Gadis itu merasa nyaman dengan adanya perasaan itu. Terdapat ketenangan setiap melihat siluet matanya, pemuda itu tampak menenangkan memberikan kesan istimewa pada setiap ucapannya. Muhi yang sibuk memandangi pemuda itu lantak tak sadar dengan pergerakan kecil nan hati-hati yang pemuda itu lakukan langgkahnya seakan terasa berat. Pemuda itu tersenyum malu, sedikit gugup, namun matanya tetap setia menatap Muhi. Dalam sekejap, semua perasaan yang sempat terkubur muncul kembali, dan hati Muhi tak bisa memungkiri adanya gelombang perasaan yang aneh.
"Assalamualaikum." Salamnya dengan senyum yang terasa hanya di dalam hati gadis tersebut, rasanya gadis itu enggan menatap hal lain selain pemuda dihadapannya.
"Waalaikumsalam, kenapa? Lo mau buat gue sakit hati lagi, belum cuku–" Protes Muhi yang langsung dihentikan pemuda itu, dengan perlahan Yegi melepaskan tangannya yang semula berada di atas kepala Muhi. Kini beralih memegang kedua pipi gembul milik gadis itu.
"Apakan saya pernah mengajarkan seperti ini? Sikapmu sangat tidak sopan. Sebaiknya kamu mempersilahkan saya duduk terlebih dahulu." Ujar Yegi, kemudian mendudukan diri tepat disamping gadis tersebut.
“Muhi." Panggil pemuda itu dengan suara yang terdengar lembut, seakan ada keraguan yang tertahan di sana. Yegi duduk di depan Muhi, matanya berusaha mencari jawaban dalam tatapan Muhi. Membuag Muhi menunduk, tak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdegup cepat, dan seolah dunia berhenti berputar.
“ya?" ucapnya pelan, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai mengalir deras. "Sekarang jelaskan mengapa anda datang kehadapan saya?" Sambung gadis tersebut membuat Yegi menarik napas dalam-dalam, matanya penuh dengan rasa penyesalan dan kerinduan yang terpendam lama.
“Muhi, Saya tidak tahu, kata-kata tidak akan pernah cukup jika hanya untuk menjelaskan apa yang saya rasakan. Tapi, Saya tidak akan pernah terus-terusan menyembunyikan perasaan Saya kepada kamu. S-saya ingin kamu menjadi bagian dari hidup saya, Muhi,” Ujar Yegi dengan suara bergetar, tatapannya dalam, seakan menembus jiwa Muhi.
"Saya tidak aka peduli seberapa banyak waktu yang akan saya buang atau seberapa banyak luka yang akan membuat saya terluka, Saya hanya ingin kesempatan untuk bener-bener ada buat kamu. Saya tau kamu sempat menolak saya, hanya karena mantan kamu itu, tapi sekarang saya ingin mencoba peruntungan kedua, Saya Yegi Mahendra ingin menjadikan kamu Muhi Antarisa sebagai bagian dari hidup saya, Saya ingin merasakan setiap detik bareng kamu, Saya sudah meyakinkan diri bahwa tidak akan ada lagi kata ragu di hati saya.”
Muhi terdiam, merasa setiap kata yang keluar dari mulut Yegi bagaikan angin yang menembus hatinya. Ia menatap Yegi, mencari keyakinan dalam mata pria itu. Selama ini, Yegi selalu datang dengan cara yang penuh dengan keraguan, tetapi saat ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketulusan yang tak bisa dibantah.
“Lo beneran yakin? Lo tahu kan, gue bukan tipe orang yang gampang percaya, apalagi sama manusia kaya Lo” jawab Muhi pelan, mencoba menahan perasaan yang mulai mengalir deras. "Jujur Gue takut, takut kalau nanti semua itu cuma jadi kenangan yang terlupakan, takut mengulang badai yang lebih hebat dari sebelumny." Ujar Muhi dengan suara bergetar, tampak kecemasan dalam setiap ucapannya. Membuat Yegi meraih pipi Muhi dengan lembut, menatapnya dengan penuh perhatian.
“Muhi, kadang kita harus berani menempuh jalan yang penuh ketidakpastian. Saya tidak bisa menjanji segala sesuatu akan sempurna, tapi Saya berjanji, Saya akan terus berusaha jadi yang terbaik untuk kamu. Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu, tidak akan pernah membiarkan kamu merasakan kesedihan sendirian.”
Muhi menatap Yegi dalam diam, merasakan ketulusan dari setiap kata yang diucapkannya. Perlahan, ia mengangkat wajahnya, membiarkan Yegi melihatnya tanpa penutupan.
“Lo tahu nggak? Gue juga mulai ngerasain sesuatu yang lebih dari sekedar teman. Tapi Gue takut, takut kalau perasaan ini akhirnya jadi beban. Tapi, gue juga nggak bisa ngelawan apa yang gue rasa sekarang,” ujar Muhi dengan lembut, tatapannya penuh dengan kebahagiaan yang baru saja lahir.
Yegi tersenyum tipis, matanya penuh harapan. “Jadi, Kamu akan terima Saya? Kamu akan menjadi bagian dari hidup saya?” Tanya pemuda itu, dengan suara yang lebih lembut, penuh pengharapan.
Muhi menunduk sebentar, mencoba meresapi perasaannya sendiri. Lalu, perlahan ia mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Iya. Gue terima. Gue akan coba, dengan sebik mungkin" Jawab Muhi dengan suara pelan, namun dalam hatinya ada kebahagiaan yang tak tertandingi.
Yegi tersenyum lebar, senyum yang tak bisa disembunyikan lagi. Ia meraih tangan Muhi dan menggenggamnya erat, seakan tak ingin melepaskannya. “Terima kasih, Sayang. Saya berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini,” ujar Yegi dengan suara penuh keyakinan.
Muhi hanya mengangguk, meskipun jantungnya masih berdetak cepat. Di tengah kedamaian kafe yang perlahan semakin sepi, mereka berdua duduk bersama, merasakan momen yang mereka tunggu selama ini. Waktu terasa melambat, dan saat itu, Muhi tahu satu hal—bahwa perasaan yang pernah ia sembunyikan kini tidak perlu lagi disembunyikan.
“Bersama Kamu, Aku merasa bisa jadi diri aku sendiri, Mas” Ujar Muhi dengan lembut, tatapannya penuh dengan kebahagiaan yang baru saja lahir.
Yegi tersenyum dengan tulus, merasa segala keraguan yang ada kini menguap. “Dan Saya akan selalu berada di sini, Muhi. Untuk kamu, dan hanya kamu” Putus Yegi, matanya tak pernah lepas dari Muhi, menyimpan janji yang akan selalu ia pegang.
Di tengah kedamaian senja itu, dua hati yang sempat terluka kini menemukan jalan mereka masing-masing. Semua kata-kata yang terlontar seakan menjadi janji yang terucap tanpa syarat. Dan di kafe yang tenang itu, mereka tahu, ini adalah awal dari perjalanan baru mereka, bersama.
"Tapi kamu tidak lupakan, aku masih memendam rasa kepada pemuda lain." Ujar Muhi pelan, takut jika Pemuda itu yang kini tengah menjadi kekasihnya marah.
"Iya saya tau, kita mempunyai masalalu maka dari itu kita harus membuat Tragedi lama, diganti tragedi baru yang lebih luar biasa.
Kita harus mulai terbiasa dengan yang terjadi kepada diri kita," Ujarnya denger lembut, kemudian menunjukkan jari kelingnya yang langsung disusul oleh kelingking Muhi. "Janji ya, Kita akan terus berjuang sampai nanti bisa kembali dalam dekapan yang sama." Sambungnya, membuat Muhi tersenyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
