cuaca aja bisa berubah apalagi manusia.
Setelah Leon dan Kirana pergi, toko kembali terasa sepi, namun ketegangan yang ditinggalkan masih mengambang di udara. Muhi mencoba untuk menenangkan dirinya, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, tak lama kemudian, langkah kaki terdengar lagi–Berat, tergesa-gesa, dan penuh amarah. Pintu toko terbuka dengan suara berderak, dan Leo masuk kembali dengan wajah merah padam.
"Lo semua seneng ya, berhasil ngerusak suasana gue?!" Teriak Leon, suaranya serak penuh amarah. "Gue nggak butuh orang-orang yang cuma bisa ngeganggu hidup orang lain!"
Muhi langsung mendongak, tatapan Leon dengan tajam. Niala dan Daca yang tadinya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kini langsung terdiam. Mereka tahu ini akan menjadi masalah besar.
"Lo nggak usah berteriak kayak gitu," jawab Muhi, suaranya dingin dan tenang, namun penuh penekanan. "Kalau lo nggak suka dengan cara gue tadi, itu masalah lo, bukan masalah gue."
"Masalah gue? Lo pikir gue nggak tahu apa yang lo pikirin, Muhi? Lo tuh cuma diem-diem, nggak pernah mau nyoba buat ngerti orang lain! Lo cuma ngurung diri lo dalam cangkang, nggak peduli apa yang terjadi di sekitar lo!" Leon tersenyum sinis, melangkah lebih dekat dengan Muhi, matanya menyala-nyala.
"Iya, Muhi. Lo tuh terlalu kaku! Lo nggak pernah bisa rileks, nggak pernah coba buat bersenang-senang!." Timpal Kirana, yang ternyata diam-diam mengikuti dari belakang, ikut membuka suara.
"Cukup, ya Leon!" Perintah Niala dengan suaranya yang mulai naik 1 oktaf. "Lo jangan seolah-olah jadi orang yang paling paham! Lo gak punya hak buat ngatur hidup orang lain! Lo cuma pengen cari masalah!"
"Cari masalah? Gue tuh nggak tahan sama orang yang nggak bisa nyantai! Gue nggak mau hidup di tempat yang penuh orang sombong kayak kalian!" Leon menatap Niala dengan tajam, tubuhnya bergetar.
"Kalo hidup lo penuh dengan masalah, jangan salahkan gue, Leon. Lo yang gak bisa ngontrol diri lo sendiri, makasi buat perhatian Lo tapi maaf gue cukup kecewa sama apa yang Lo perbuat sama Gue." Sungut Muhi, Muhi menghela napas dengan kasar, merasa darahnya mendidih, namun dia mencoba menahan diri.
"Jangan lo ajarin gue cara hidup!" Leon berteriak, kali ini lebih keras, melangkah semakin dekat. "Gue bisa pergi kapan aja, Muhi! Lo kira gue butuh tempat kayak gini?! Gue gak butuh kerja sama orang-orang yang cuma bikin gue stres!"
Mereka saling beradu mulut, seperti apa yang mereka ucapkan adalah kebenaran.
"Lo pikir lo bisa intimidasi kita begitu aja? Lo gak bisa ngomong sembarangan kalau lo nggak tahu situasinya. Kita semua punya hak buat hidup dengan cara kita sendiri!". Dava yang mendengarnya, melangkah maju, menatap Leo dengan tegas.
"Lo pikir, lo bisa ngelawan gue? Gue keluar dari sini! Gue nggak mau ngadepin orang-orang kayak kalian yang nggak bisa nerima siapa gue!" Leon tertawa, namun tawa itu terasa penuh kebencian.
Dengan emosi yang meluap, Leo membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum dia pergi, dia menatap Muhi sekali lagi dengan pandangan penuh kebencian.
"Lo tunggu aja, Muhi. Gue bakal buktikan kalau gue bisa lebih baik tanpa orang-orang kayak lo di sekitar gue."
"Pergilah," jawabnya pelan, namun tegas. "Lo nggak bakal nyari masalah sama kita lagi, Lo itu pengecut Leon Lo yang merundung Lo juga yang kabur."
Muhi hanya menatapnya dengan tatapan yang tak terbalas, hatinya sedikit lega meski amarahnya belum sepenuhnya reda.
"Kalo ngga Lo yang mulai, mana mungkin Gue mulai Muhi." Geram Leon dengan tangan menggengam erat secarik kain, yang entah dari mana ia dapatkan.
"Gue yang mulai? Sadar Leon sadar. Lo duluan yang ngunci Gue di kamar mandi, Lo yang sengaja ngepel dengan keadaan basah sampe buat Gue cidera, sampe Lo mau nabrak Gue, waktu Gue baru pulang dari kampung Salah Gue apa Leon, APA. BAHKAN KITA BARU KENAL DUA TAHUN TERAKHIR LEON TAPI LO UDAH MAU RENGUT NYAWA GUE." Hardik Muhi, membuat Leon diam tak berkutik.
Kejujuran Muhi atas prilaku Leon membuat ketiga manusia itu tercengang, bahkan Kirana yang notabanenya selalu berada di depan pemuda itu ikut terkejut dengan apa yang telah Leon lakukan.
"Itu karena Gue tau, Lo akan ngerebut posisi Gue Muhi." Kekeh Leon, tampak ada rasa sakit di sana.
"Tapi cara Lo salah, Le. Gue kira Lo cuma ngga suka sama Muhi, Gue beneran ngga nyangka Lo nyakitin dia." Ujar Kirana, dengan tangan bergetar menyentuh pundak Muhi.
Terlihat jelas bahwa Kirana tidak mengetahui rencana picik yang akan Leon lakukan.
"Maaf, Kiran. Aku minta maaf, aku cuma ngga mau Aku tersingkirkan." Ujarnya dengan nada lirih lalu melangkah keluar dengan langkah cepat, dan pintu toko kembali tertutup dengan keras. Suasana di dalam toko menjadi sunyi.
"M-muhi, Aku min–" Ujar Kirana dengan suara terbata-bata, meski belum sempat melanjutkan ucapannya. Muhi terlebih dahulu memotongnya.
"Gak papa, Kirana." Timpalnya dengan Tulus, bahkan memeluk gadis di hadapannya.
"Gila, itu lebih parah dari yang gue kira." Niala menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menatap Muhi, Dava dan Kirana. Membuat Dava menggeleng, matanya penuh keprihatinan.
"Gue udah nyangka bakal kayak gini. Tapi, dia tuh gak ngerti batas, kan? Selama ini dia cuma mikirin dirinya sendiri."
"Gue nggak tahu apa yang dia pikirin. Tapi yang pasti, gue nggak akan biarin dia ganggu lagi."
Muhi menghela napas panjang, matanya menatap pintu yang masih berayun.
Niala mendekat, menepuk bahu Muhi dengan lembut. "Lo nggak sendirian, Muhi. Kita semua di sini buat lo."
Muhi menatap Niala, sedikit tersenyum meskipun wajahnya masih tampak lelah. "Terima kasih, Nia. Gue rasa sekarang, gue siap ngadepin apapun yang datang."
"Tapi, Lo hutang cerita kok bisa tau kalo yang mau nabrak Lo waktu itu si Leon?" Tanya Dava dan Niala hampir bersamaan, membuat Muhi tersenyum dan mulai bercerita.
Suasana dalam toko kini terasa lebih tenang, namun ada rasa lega yang mengalir. Mereka tahu, meskipun Leon telah pergi, mereka tidak akan menghadapi tantangan ini sendirian. Dengan saling mendukung, mereka bisa menghadapi apapun yang datang, tanpa takut atau terintimidasi oleh siapa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
