"Ketika hati berbicara di bawah langit sore, sebuah pengakuan yang tak terucap selama ini akhirnya terungkap."
Sore itu, taman kota tampak begitu tenang. Angin berhembus pelan, membawa aroma segar dari dedaunan dan bunga yang bermekaran. Di salah satu bangku yang terletak di tengah taman, Muhi duduk dengan santai, menikmati suasana sore yang tenang. Rambutnya tergerai anggun, mengenakan gaun sederhana yang membuatnya tampak lebih elegan. Matanya yang cemerlang mengamati langit yang berwarna keemasan, penuh dengan harapan dan ketenangan.
Di kejauhan, Yegi, pemuda puitis yang sudah lama menyimpan perasaan pada Muhi, terlihat mendekat. Dikenal dengan kata-kata indah dan sifatnya yang penuh kelembutan, Yegi selalu mencoba untuk berbicara dengan cara yang berbeda. Hari itu, di bawah langit yang hampir senja, dia merasa hatinya penuh dengan kata-kata yang ingin diungkapkan.
Dengan langkah hati-hati, Yegi mendekati Muhi. Senyumnya yang lembut menunjukkan rasa ingin tahu, namun matanya tampak sedikit cemas. Begitu sampai di dekat Muhi, ia berdiri beberapa langkah di belakangnya, menunggu Muhi menoleh.
"Dek." Panggil Pemuda itu, suara lembutnya yang bergema di udara yang tenang. Muhi pun menoleh ke arah suara itu, dan saat itu juha matanya bertemu dengan netra mata pemuda yang selalu membuat hatinya merasa nyaman, senyum kecil terbit di wajahnya.
"Dalem, kenapa Mas?" Tanya Muhi, matanya yang lembut memandang pemuda itu.
Yegi tertegun mendengar sebutan "Mas" yang keluar dari bibir Muhi. Biasanya, Muhi selalu memanggilnya dengan sebutan itu, tapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia tidak bisa menahan perasaan yang tumbuh semakin dalam, ia ingin berbicara lebih banyak, lebih dekat, lebih personal dengan gadis itu. Namun, rasa gugup masih membayangi dirinya.
“Dek Muhi,” kata Yegi dengan suara penuh kelembutan, mencoba membangun kedekatan lebih. “Aku ingin berbicara denganmu, sesuatu yang sudah lama terpendam.”
Muhi menoleh lagi, sedikit bingung mendengar Yegi memanggilnya "Dek". Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan cara Yegi menyebutnya. Biasanya, dia merasa nyaman dengan cara mereka berinteraksi, tapi kali ini, hati Muhi sedikit berdebar lebih cepat. Mungkin karena Yegi berbicara dengan nada yang sedikit lebih serius.
"Biasanya juga langsung ngomong, pie Mas?" Jawab Muhi terkesan ketus dan lengkap dengan bahasa jawanya, tetapi kali ini ada sedikit keraguan di matanya. Bagaimana bisa ia menjawab atau menanggapi sesuatu yang lebih dalam, ketika selama ini mereka selalu berbicara dengan santai?
Yegi menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Aku tahu, mungkin aku agak berbeda dari kebanyakan orang. Aku suka berbicara dengan cara yang sedikit berbeda, tapi hari ini aku ingin berbicara denganmu secara jujur, tanpa embel-embel puisi atau kata-kata manis lainnya.”
Muhi mendengarkan dengan seksama, rasa penasaran tumbuh semakin besar di dadanya.
“Muhi,” Yegi melanjutkan, matanya menatap mata Muhi dengan penuh perhatian, “sejak pertama kali kita bertemu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku sering menulis tentang perasaan ini, menulis tentangmu dalam setiap bait puisi yang kubuat. Tapi aku rasa hari ini aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku.”
Muhi terdiam, perasaan itu mulai meresap ke dalam hatinya. Ada ketegangan yang melayang di udara, membuatnya sedikit cemas namun juga penasaran.
“Muhi,” Lanjutnya lagi, suaranya semakin pelan namun penuh dengan keyakinan, “Aku suka padamu. Aku suka caramu melihat dunia, caramu berbicara, bahkan caramu tersenyum. Aku suka bagaimana kau bisa membuat segala sesuatu terlihat lebih indah hanya dengan hadir di sekitarnya. Aku ingin bertanya, apakah kamu mau berjalan bersamaku dalam cerita ini? Apakah kamu mau menjadi bagian dari hidupku?”
Sungguh, kata-kata itu datang begitu mendalam, seperti puisi yang diciptakan hanya untuk seorang gadis. Namun, meskipun Yegi sudah mengungkapkan perasaannya, Muhi merasa sedikit canggung dengan cara Yegi menyebutnya sebagai "Dek". Mungkin ini saatnya untuk menanggapi dengan halus.
Muhi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
“Mas Yegi,” kata Muhi, suaranya lembut namun penuh pengertian, “Nyuwun pangapunten, mboten kersa yen panjenengan nyebat kula 'Dek', amargi kula niku dudu anak cilik ingkang pantes dipunsebat kados mekaten." Sambung Muhi dengan sopan, Muhi yang biasanya nyaman kini mulai terusik dengan panggilan tersebut. (maaf, saya tidak ingin jika Anda memanggil saya 'Dek', karena saya bukan anak kecil yang pantas dipanggil seperti itu.)
Yegi terkejut mendengar jawaban itu. Sebelumnya, dia sering memanggil Muhi dengan sebutan "Dek" tanpa merasa ada yang salah. Tetapi, ada sesuatu dalam cara Muhi berkata yang membuatnya merasa lebih hati-hati, lebih menghargai.
“Maafkan aku, Muhi,” kata Yegi dengan rendah hati, merasa sedikit malu. “Aku hanya merasa lebih dekat denganmu. Mungkin aku terbiasa memanggilmu seperti itu, tapi jika itu membuatmu tidak nyaman, aku akan menghormatinya.”
Muhi tersenyum, tatapan matanya yang penuh kehangatan kini mengalir dengan lembut. “Aku mengerti, Mas Yegi. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman. Hanya saja, aku lebih suka kalau kita berbicara dengan cara yang lebih setara, lebih dekat, tanpa ada jarak seperti itu.”
Yegi mengangguk pelan, matanya penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Muhi. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang. Aku benar-benar ingin kamu merasa nyaman.”
Muhi merasa lega mendengar itu, seolah satu lagi beban telah luruh dari pundaknya. “Tidak masalah, Mas. Aku hanya ingin kita tetap bisa berbicara dengan nyaman, seperti dulu,” ucapnya dengan nada tenang dan tulus.
Sejenak, keheningan menyelimuti mereka. Namun keheningan itu tak lagi canggung—ia hadir sebagai ruang yang hangat, penuh pemahaman diam-diam. Tak ada ketegangan, hanya kedekatan yang sederhana, tapi nyata.
Akhirnya, Yegi meraih kesempatan untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan. “Muhi, aku ingin tahu, apakah kamu bisa melihatku bukan hanya sebagai teman biasa? Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku sangat menyukaimu.”
Muhi menatap Yegi dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya, dia merasakan bahwa perasaan yang tumbuh dalam dirinya bukan hanya tentang persahabatan. “Mas, aku juga suka padamu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tetapi aku ingin kita menjalani ini bersama.”
Dan di bawah langit senja yang semakin redup, Yegi dan Muhi akhirnya bisa merasakan kebahagiaan dalam kedekatan mereka. Tidak ada lagi keraguan atau rasa canggung. Mereka tahu, perjalanan ini baru saja dimulai, dan bersama-sama, mereka siap menghadapinya.
"Maaf Mas, aku benar-benar tidak bisa jika harus bersamamu. Lukaku terlalu dalam, Mas. Aku tak ingin menjadikanmu pelarian untuk melupakan masa laluku yang belum sepenuhnya sembuh." Muhi menundukkan kepala, mencoba menahan rasa perih di dadanya. Dia tahu, keputusan ini bukan hal yang mudah, tetapi hati kecilnya meyakinkan bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Tak ingin melihat ekspresi kecewa di wajah Yegi, Muhi perlahan melangkah mundur, berusaha melepaskan dirinya dari beban yang mulai terasa terlalu berat untuk dibawa.
Yegi menatap Muhi dengan mata yang terlihat sedikit sedih, namun ia mengangguk perlahan. "Aku paham, Dek," katanya dengan lembut, mencoba menahan emosi yang ingin keluar. "Aku tidak akan memaksamu, dan aku menghargai keputusanmu. Aku hanya ingin kamu bahagia, meski itu bukan bersamaku."
Dia menarik napas panjang, seolah berusaha untuk melepaskan semua yang ada di hatinya. "Aku akan terus mendukungmu, walau dari jauh. Jangan pernah merasa sendirian." Yegi tersenyum tipis, walaupun senyum itu tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan.
Muhi mengangguk, merasakan hangat dari kata-kata Yegi. Mereka berdua berdiri dalam keheningan, saling memandang dalam hening yang penuh makna. Akhirnya, Yegi membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan meninggalkan Muhi dengan hati yang tenang, meskipun ada kesedihan yang masih tertinggal. Muhi melihat punggungnya pergi, dan meskipun ia merasa lega, ada bagian dari hatinya yang tetap merasa kehilangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
SonstigesSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
