Beberapa minggu berlalu sejak Pel Leo memberikan pujian untuk Muhi, dan semuanya berjalan lebih baik dari yang dia harapkan. Suasana di toko semakin hidup, dan itu bukan hanya karena peningkatan jumlah pelanggan, tetapi juga karena semangat yang lebih positif di antara para karyawan. Setiap orang merasa lebih dihargai, dan itu berkat cara Muhi memimpin dengan kelembutan namun penuh ketegasan.
Namun, di balik semua kemajuan itu, Muhi merasa ada hal yang masih mengganjal. Dia tahu bahwa kepemimpinan bukanlah segalanya dalam sebuah toko. Muhi mulai merasakan betapa banyak tantangan yang masih harus dihadapi, tantangan yang datang dari luar maupun dalam tim itu sendiri. Ada satu hal yang masih perlu diperbaiki: cara mereka mengelola stres dan tekanan kerja yang kerap datang, terutama saat menghadapi bulan-bulan sibuk seperti sekarang.
Suatu sore, saat toko mulai sepi setelah jam sibuk, Muhi duduk di meja kantornya, memandang layar komputer yang menampilkan laporan penjualan. Pikirannya kembali melayang, mengingat betapa besar peranannya dalam membawa toko ini sejauh ini. Di sampingnya, ada secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin.
"Muhi?" Suara Niala tiba-tiba memecah kesunyian, membuat Muhi sedikit terkejut. Niala berdiri di pintu dengan wajah serius. "Ada yang perlu dibicarakan."
"Ada apa, Nia?" Jawab Muhi lalu mengangguk, mempersilakan Ni masuk.
Niala melangkah masuk, lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Muhi. "Gini, Muhi," Nia mulai, terlihat sedikit ragu. "Aku pikir kita harus mulai memperhatikan kesejahteraan tim juga. Belakangan ini, ada beberapa teman yang mulai merasa lelah dan stres karena beban kerja. Kita udah semakin banyak pelanggan, dan itu artinya semakin banyak tekanan."
Muhi menatap Deva, mendengarkan dengan seksama. "Aku paham. Kita memang harus mulai memperhatikan itu. Kesejahteraan tim penting banget, terutama di saat seperti ini."
"Bener, kita perlu cari cara supaya semuanya bisa tetap semangat tanpa burnout. Gimana kalau kita coba buat sistem shift yang lebih fleksibel atau kasih reward buat mereka yang udah kerja keras?" Timpal Dava, yang tiba-tiba muncul di pintu ikut bergabung, menambahkan.
Muhi berpikir sejenak, mengangguk perlahan. "Itu ide bagus, Dava. Kita bisa buat program insentif, atau mungkin bisa tambah waktu istirahat bagi yang butuh. Yang pasti, kita nggak boleh biarkan tim merasa terbebani, atau mereka bisa kehilangan semangat kerja."
"Aku tahu kamu pasti ngerti gimana cara terbaik untuk ini, Muhi. Kamu kan nggak cuma mikirin keuntungan, tapi juga mikirin tim kita." Ucap Niala, lalu keduanya tersenyum, merasa lega melihat Muhi memahami masalah mereka.
Muhi tersenyum kecil, merasa lebih yakin dengan keputusan-keputusan yang akan datang. "Yang penting kita semua tetap bisa bekerja dengan hati, bukan cuma mengejar angka. Kalau tim merasa dihargai dan punya waktu untuk diri mereka sendiri, mereka akan bekerja dengan lebih semangat."
Sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, pintu toko terbuka dan masuklah Pak Leo, membuat ia sedikit terkejut
"Eh, kalian sedang ngomongin apa?" tanyanya sambil mendekat.
Niala dan Dapa tersenyum, sementara Muhi berdiri menyambut Pak Leo.
"Kami sedang membicarakan bagaimana menjaga kesejahteraan tim, Pak. Banyak teman yang mulai merasa kelelahan karena beban kerja yang semakin meningkat." Jelas Muhi, membuat Pak Leo mengangguk, wajahnya serius namun penuh perhatian.
"Itu hal yang penting. Kamu benar, Muhi. Toko ini berkembang pesat, tapi kita nggak boleh lupa sama mereka yang bekerja keras di balik layar. Kalau mereka kelelahan, itu akan berdampak ke kualitas kerja dan pelayanan."
Muhi mengangguk setuju. "Kami berpikir untuk memberi waktu istirahat lebih banyak dan mungkin memberikan insentif untuk mendorong semangat mereka. Kita harus buat mereka merasa dihargai."
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
