La mbok ojo koar-koar koyo anak'e sampean bener ae lo.
Part ini kebanyakan bahasa jawa
°
°
°
°
°
°
°
P
agi ini Muhi memutuskan untuk ke pasar, membeli beberapa bahan makanan seperti biasa saat ia masih berada di desa. Muhi memutuskan untuk ke pasar dengan berjalan kaki saja, toh pasar juga dekat.
"Nduk, awakmu anak'e Buk Sansa karo Pak Andra kan?" sapa Ibu-ibu yang terkenal sebagai tukang gosip di desa ini. Penampilannya yang selalu tampak nyentrik dengan baju bunga-bunga dan rok berwarna hijau, tak lupa juga dengan tas kecil yang selalu ia bawa serta make up menor setiap harinya. (Nak, kamu anaknya Bu Sansa sama Pak Andra kan?)
"Nggeh, Buk, ibu lula wes lali tah? Kakean ngegosip sih," jawab Muhi dengan senyumnya, membuat Bu Lula tampak kesal. (Iya Buk, Ibu Lula udah lupa ya? Kebanyakan ngegosip sih.)
"Bukane koe ki kerja? Nak ora salah ya, nak ora salah jek sebulan kok wes balek ki ngopo, ra betah kerja karo wong sugeh," ledek Ibu Lula, dengan tawanya. (Bukannya kamu ini kerja? Kalau nggak salah ya, kalau nggak salah baru sebulan kok udah pulang aja kenapa nih? Gak betah ya kerja sama orang kaya?)
"Nak ora salah, nak ora salah yo Buk, yo. Buk Lula iki wes tukang ngegosip ket aku bayi sampe saiki opo, dusomu ki ora nambah akeh to Buk, ra gelem tobat? Ra kelingan koncomu bien mati pie mergo ngegosip, opo ibu Lula arep koyo ngunu?" jawab Muhi dengan kekehan kecil, lalu melangkah meninggalkan Bu Lula yang sedang mematung di tempat. Entah dia menahan emosi atau sedang berpikir, tapi rasanya mana bisa manusia seperti dia berpikir. (Kalo gak salah, kalo gak salah ya Buk. Buk Lula ini udah ngegosip dari aku bayi sampe sekarang, apa dosamu nggak makin banyak ya Buk? Gak mau tobat? Ga inget ya temenmu kemaren meninggal gara-gara ngegosip? Buk Lula mau kaya gitu?)
Setelah hampir satu jam membeli bahan makanan, Muhi memutuskan untuk pulang. Muhi sengaja membeli banyak bahan makanan hari ini, karena besok lusa ia akan pulang. Sesekali membeli banyak bahan makanan tampaknya membuat Muhi tersenyum manis sepanjang perjalanan membayangkan betapa senangnya adik bungsunya yang akan melihat banyak sayuran serta makanan, karena memang adik bungsu Muhi sangat menyukai sayur-sayuran.
"Ibu, aku pulang." Ujar Muhi saat telah sampai di depan pintu, dengan tiga kantong besar di hadapannya.
"Ya Allah, Nduk. Akeh banget awakmu tuku opo wae?, ucap sang Ibu setelah melihat tiga kantong besar belanjaan anaknya, yang tadi meminta kepasar. (Banyak banget, kamu beli apa aja?.)
"Nduk, awakmu angel-angel ngolek duet pas balek kok tuku koyo gene akehmen? La oleh-oleh winggi wae urong entek meski wes di bagekne." Sambung Bu Sansa, yang di saksikan oleh tetangga mereka. (Nak, kamu susah-susah cari uang pas pulang malah beli kaya gini banyaknya.)
"Yo–"
"Yo ra angel Bu Sansa, nak anakmu kerjone ra bener." Sambung Bu Lula yang entah muncul dari mana, berkat ucapan Bu Lula, tetangga Muhi mulai berpikir hal-hal yang tidak masuk akal.
(Ya nggak susah Bu Sansa, kalau anakmu kerjanya nggak bener.)
"Haduh, pie arep bener coba Bu Lula wongkan awakmu seng ngajari Sinka kerjo gak bener." Jawab Muhi dengan santai, membuat sang Ibu menarik pelan lengan Muhi.
(Hadeh, gimana mau bener coba Bu Lula, kalau kamu aja ngajarin Sinka kerja nggak bener.)
"Maksudmu opo, malah ngowo-ngowo Sinka? Iri nak anakku oleh wong sugeh." Cibir Bu Lula, membuat Muhi tertawa, saat Ibu Sansa ingin membalas ucapan Bu Lula, Muhi terlebih dahulu menjawab.
(Maksudmu apa, malah bawa-bawa Sinka? Iri karena anakku dapet orang kaya?)
"Nak saiki paham to Ibuk-ibuk sekalian." Ujar Muhi dengan santai, lalu mengangkat belanjaannya dibantu oleh sang Ibu. (Nah, sekarang paham kan ibu-ibu sekalian?)
"Dah, Bu Lula. Ikut seneng deh anaknya jadi pelakor, yuk mana soraknya?." Ledek Muhi yang diiringi sorakan dari para tetangga yang menyaksikan perdebatan Muhi dan Bu Lula. (Dah, Bu Lula. Ikut seneng deh anakmu jadi pelakor, yuk mana soraknya?)
"Wes tuek kakean polah."
(Udah tua kebanyakan tingkah.)
"Mendeng Urusi kae anakmu."
(Mending urusin anakmu.)
"Wong tuone wae ta bener, pantes anak'e koyo ngono." (Orang tuanya aja ga bener, oantes anaknya kaya gitu.)
"La pie anak'e ra seregep wong mamak'e wae ndukong." (lah gimana anaknya ga seneng, kalo ibunha aja mendukung.)
"Minim pengetahuan."
"Rondo yo ngunu." (Janda ya gitu.)
Begitulah sindiran demi sindiran yang masih terdengar dari luar rumah, namun Muhi dan ibunya hanya diam, enggan menanggapinya. Justru, Muhi merasa terhibur melihat bagaimana para tetangganya bereaksi terhadap Bu Lula. Sikapnya yang ceplas-ceplos memang sering membuat siapa pun mati kutu, bahkan tak jarang ada yang sakit hati karenanya.
"Ibuk arep maem karo opo? Iki aku tuku sayur karo iwak, Ibuk kari milih arep maem karo sing endi," ujar Muhi setelah memasuki dapur, lalu menurunkan belanjaan yang sedari tadi ia tenteng.
(Ibu mau makan pakai apa? Ini aku beli beberapa sayur dan ikan, Ibu tinggal pilih mau makan yang mana.)
"Ibu ora kepengin maem, Nduk. Coba takon karo Ayah arep maem karo opo," jawab sang Ibu, suaranya terdengar lemah. Wajahnya masih tampak pucat, membuat Muhi semakin khawatir. Setelah membujuk ibunya untuk beristirahat, Muhi segera beranjak ke belakang rumah untuk menemui sang Ayah yang tengah sibuk mengurus ternak. (Ibu lagi nggak pengen makan, Nak. Coba tanya Ayah mau makan pakai apa.)
"Ayah," panggil Muhi pelan, melangkah mendekat.
"Pripun, Cah Ayu?" sahut sang Ayah dengan senyum hangatnya, masih sibuk memberi makan ayam-ayam mereka. (Bagaimana, anak cantik?)
"Niki, Yah. Aku kan mau balek, tumbas sayur. Aku empun takon kaleh Ibuk arep jangan opo, eh jere Ibuk malah kon takon karo Ayah," jelas Muhi, lalu duduk di dekat sang Ayah sembari menyentuh burung merpati yang memang mereka pelihara. Dengan telaten, Muhi membersihkan tubuh merpati tersebut, meniru persis apa yang dilakukan sang Ayah. Sementara itu, sang Ayah masih berpikir menu apa yang ingin ia makan siang ini.
(Gini, Yah. Aku kan tadi pulang dari pasar beli sayur, aku juga udah nanya ke Ibu mau masak sayur apa, eh malah disuruh nanya ke Ayah.)
"Jangan opo yo, Nduk? Ayah yo bingung, tapi panas-panas ngene enak maem sop sih," putus sang Ayah setelah berpikir cukup lama. Tangannya terangkat, mengusap lembut puncak kepala Muhi.
(Sayur apa ya, Nak? Ayah juga bingung, tapi kalau cuaca panas begini enaknya makan sop sih.)
"Nduk, Cah Ayu, mau bapak kerungu opo seng Bu Lula omongne neng awakmu. Disepurane yo, Nduk, ojo dijupuk neng ati. Awakmu ojo koyo dekne, yo? Ayah sakjane ra seneng nak awakmu ngomong kasar koyo mau. Tapi Ayah yo reti, nak awakmu ngeroso loro ati. Sesok meneh ojo diulang, yo, Nduk. Wedine engko jenengmu elek neng deso iki," lanjut sang Ayah, menasihati putrinya yang kini tengah beranjak dewasa. (Nak, anak cantik, tadi Ayah dengar apa yang Bu Lula katakan padamu. Maafkan saja, ya, Nak. Jangan diambil hati, dan jangan sampai kamu jadi seperti dia, ya? Ayah sebenarnya nggak suka kalau kamu ngomong kasar seperti tadi. Tapi Ayah juga paham kalau kamu sakit hati. Besok jangan diulangi, ya, Nak. Takutnya nanti nama kamu jadi jelek di desa ini.)
Muhi tertegun. Ada perasaan bersalah yang menyusup ke dalam hatinya, tapi di sisi lain, ia juga merasa bahwa ucapannya tadi tidak sepenuhnya salah.
"Enggeh, Yah," ujar Muhi akhirnya, pasrah.
"Ora iso, Yah. Wong koyo Bu Lula kuwi pancen pantes digonokne ngono," celetuk sang Ibu, yang ternyata sedari tadi diam-diam mendengar percakapan antara suami dan anaknya. Nada suaranya tegas, seolah tak mau ada bantahan. Pak Andra yang awalnya hendak menasihati lebih lanjut pun hanya bisa terdiam, memilih untuk tidak membantah istrinya.(Gak bisa, Yah. Orang seperti Bu Lula memang pantas diperlakukan seperti itu.)
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
DiversosSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
