"Uangku untuk keluarga, dan membuat kalian bahagia."
•
•
•
•
•
•
•
•
•
"Buk, Yah maem yok wes mateng iki," Panggil Muhi setelahnya bary memanggil kedua adiknya, "Myha, Mahen. Makan dek cepet kedapur." Sambungnya lagi sembari menyiapkan beberapa hidangan yang sudah di request oleh beberapa anggota keluarganya. (Buk, Yah ayo makan udah mateng nih.)
"Yey makan apa kita hari ini," Ujar si kecil Mahen sembari mendukung diri disalah satu kursi dekat dengan Muhi. "Wih, keren. Ada Sop ayam, tempe, tahu, loh Yuk mana Ikan asinnya?." Sambung Pemuda kecil itu dengan cemberut karena tidak ada ikan asin di meja makan.
"Udah, hari ini kita makan ini aja. Mungkin Ayuk lupa beli Ikan asin, lagian emang kamu gak suka Sop ayam? Kalo gak mau, ini aku beliin ikan asin tapi kamu makan make ikan asin aja." Ujar Myha menggoda sang Adik atas sikapnya yang selalu menginginkan ikan asin.
"Ya suka lah enak aja." Sahut Mahen lalu mulai mengambil hidangan tersebut, membuat Muhi tertawa gemas atas sikap kedua adiknya.
"Udah, udah siapa yang makannya paling banyak nanti sore Ayuk ajak jalan-jalan sambil beli bakso." Ucap Mugi menyampaikan niatnya yang sedari dulu ia pendam, meski hanya untuk mengajak kedua adiknya untuk jalan-jalan.
Setelah mendengar ucapan sang kakak membuat kedua kakak beradik itu makan dengan lahap, lalu di susul dengan siapa demi suapan oleh kedua orang tua Muhi. Sebenarnya Muhi juga tau mengapa Mahen bertanya prihal ikan asin yang tidak ada di meja makan seperti biasanya, bahkan Muhi juga melihat rasa senang yang di rasakan setiap anggota keluarga saat ia memasakkan Sop ayam yang dulu hanya mereka makan saat adanya lebaran saja itupun hanya sop dari kentang dan juga wortel tanpa ayam di sana.
Setelah selesai makan kedua adik Muhi segera membersihkan meja makan lalu berlari keluar ruang makan untuk segera mengerjakan tugas sekolah, Myha bilang ia tidak ingin cepat-cepat pulang saat jalan-jalan bersama Muhi hanya karena belum mengerjakan Pr begitu juga dengan Mahen yang segera belajar membaca.
"Nduk, emang perlu kamu ajak adik-adikmu untuk jalan-jalan? Apa uangm masih ada nak, Ibu sama Ayah gak mau kamu kerja lalu habis dalam sehari hanya karena keluargamu." Ujar sang Ayah menegur sang putri, sedari tadi ia terlihat gelisah ia takut jika anak gadisnya tidak bisa merasakan nikmat uang yang ia hasilkan sendiri.
"Ayah ini kenapa si? Lagian aku kerjakan untuk kebahagiaan kita, jalan-jalan sama Myha, Mahen juga gak ngabisin banyak uang " Ucapnya lalu melangkah mendekati kedua orang tuanya, kemudian memberikan pelukan singkat, "Yah, Buk. Aku kerja buat kalian juga kok, In Syaa Allah aku bakal bikin kalian bahagia." Sambungnya lalu kembali memeluk kedua orang tuanya, kemudian kedua orang tua Muhi tersenyum menyaksikan berapa dewasanya pemikiran anak tersebut.
Sore menjelang malam ketiga adik dan kakak itupun mulai keluar rumah, namun Muhi merasa ada yang kurang jika mereka pergi hanya bertiga saja. Sembari menunggu kedua adiknya yang masih sibuk merapikan pakaian Muhi memutuskan untu kembali memasuk rumah, dan mengajak kedua orang tuanya.
"Dek, kalian tunggu di sini ya. Ayuk mau kedalem sebentar." Ucapnya yang langsung di angguki oleh kedua adiknya, kemudian ia kembali memasuki rumah tersebt untuk menemui kedua orang tuanya.
"Buk, Yah," panggil Muhi setelah memasuki rumah tersebut, setelah melihat kedua orang tuanya yang tengah berada di kamar membuat Muhi segera mengajak keduanya untuk pergi bersama.
"Buk, Yah. Ibukkan wes mulai sehat ayok melok, ra penak nak gur wong telu tok. Tak enteni neng jobo ya." Sambung Muhi lalu segera beranjak pergi meninggalkan keduanya tanpa menunggu jawaban dari mereka.
(Ibukku udah mulai baikan ayo ikut, gak enak kalo keluar cuma bertiga. Aku tunggu di luar ya.)
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
