10. Perkenalan

82 56 10
                                        

“Lebih baik kehilangan setelah memiliki, daripada merasa kehilangan padahal belum pernah memiliki sejak awal.”


“Jadi, kenapa kamu sangat menyukai hujan?” tanya seorang pemuda yang sejak kemarin terus mengganggunya. Hari ini, Muhi kembali bertemu dengannya.

Muhi yang tengah sibuk memilih camilan di minimarket memilih untuk diam, pura-pura tidak mendengar.

“Budek ya?” lanjut pemuda itu, kali ini suaranya sedikit lebih keras, berharap mendapat respon.

Muhi menghela napas pelan, mencoba mengabaikan. Hari ini, dia memutuskan untuk berbelanja sendiri ke Indomaret, membeli beberapa jenis snack, mi instan, serta sayuran. Namun, entah bagaimana, pemuda ini kembali muncul seperti bayangan yang enggan menghilang.

“Masnya ini kenapa sih? Kita gak kenal, loh, Mas!" omelnya, tatapan kesal mulai terpancar dari wajahnya.

“Yaudah, ayo kenalan,” balas pemuda itu santai, lalu menjulurkan tangan dengan senyum tipis di bibirnya.

Muhi menatapnya ragu, tapi pada akhirnya ia menjabat tangan itu dengan enggan. Jika dengan berkenalan bisa membuat pemuda ini berhenti mengikutinya, maka ia akan melakukannya.

“Gue Muhi,” ucapnya singkat, lalu buru-buru menarik tangannya kembali.

“Gue Yegi. Yegi Mahendra,” balas pemuda itu, senyum di wajahnya tak luntur sedikit pun.

Muhi hanya mengangguk kecil, kemudian berbalik melanjutkan belanjanya. Namun, Yegi tetap mengikuti di belakangnya, membuat Muhi mendengus frustrasi.

“Ya Allah, Mas, lo gak ada kerjaan lain, ya?” keluhnya.

“Ada,” jawab Yegi singkat.

Muhi menatapnya curiga. “Terus kenapa lo masih di sini?”

Yegi menyeringai kecil. “Kerjaan gue sekarang ngikutin purnama gue.”

Muhi menghela napas panjang, menatap ke atas seolah meminta kesabaran dari Tuhan. Namun, di balik kekesalannya, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Setelah berkeliling mencari beberapa snack dan bahan makanan, kini mereka tengah mengantre di depan kasir, menunggu total belanjaan sambil memakan camilan.

"Totalnya 250 ribu, Kak. Mau bayar cash atau—"

Belum sempat pegawai Indomaret menyelesaikan kalimatnya, Yegi lebih dulu menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah.

"Baik, Kak. Ini kembaliannya," ucap pegawai itu sambil menyerahkan uang kembalian.

Tanpa banyak bicara, keduanya keluar dari minimarket. Sesuai permintaan Muhi, mereka memutuskan mencari Cafe untuk sekadar bersantai dan makan.

Namun, setelah berkeliling kurang lebih 30 menit, Muhi mulai merasa tidak nyaman. Berada dalam mobil hanya berdua dengan Yegi terasa aneh baginya.

"Lo niat cari Cafe atau sekadar ngajak gue jalan-jalan?" tanyanya dengan nada kesal.

Yegi terkekeh, melirik Muhi sekilas. "Iya, itu di depan ada kok cafe-nya," sahutnya, kemudian segera memarkirkan mobil setelah menemukan tempat yang tepat.

Begitu turun dari mobil, Yegi menunjuk salah satu stand tekwan di hadapan mereka. "Kita di sini aja, ya?" tanyanya.

Muhi hanya mengangguk pelan. Dalam hati, ia berpikir wajar saja jika pemuda itu membawanya ke sini. Mungkin uangnya sudah habis untuk membayar belanjaan tadi.

"Nanti gue aja yang bayar," kali ini Muhi memimpin percakapan. "Lo udah sering ke sini?"

"Udah kok, mamangnya aja udah tahu gue biasanya pesen apa," ujar Yegi santai, lalu menunjuk ke arah mamang penjual yang sedang menyiapkan dua mangkok tekwan.

"Yakan emang gor dodol tekwan. Ya Allah, seng koyo ngene iso di retur ora?" ujar Muhi gemas, lalu menggenggam bahu Yegi.

Yegi yang awalnya bingung hanya bisa diam, tapi dalam hatinya ia merasa gemas melihat ekspresi Muhi. Gadis itu mencengkeram bahunya seakan menggunakan tenaga dalam, tapi nyatanya Yegi sama sekali tidak merasakan tekanan apa pun.

"Maneh nyarios naon?" tanya Yegi dengan nada menggoda.

"Eh? P, maksud?" Muhi tampak semakin bingung, kebingungannya jelas tergambar di wajahnya.

Belum sempat Yegi menjawab, mamang tekwan datang dengan senyum tengilnya, meletakkan dua mangkok tekwan di meja mereka.

"Ciee, saha eta?" goda mamang itu, masih dengan senyum tengilnya, membuat Muhi risih dan langsung menyenggol tubuh Yegi.

"Ari si Mamang, kepo ah," ujar Yegi santai, membuat Mamang tersebut pergi dengan senyum kecutnya.

"Makan gih," lanjut Yegi setelah memastikan si Mamang benar-benar pergi.

Muhi hanya mendengus kecil lalu mulai menyantap tekwannya tanpa banyak bicara. Suasana di antara mereka terasa tenang, hanya sesekali terdengar suara sendok yang beradu dengan mangkok.

Setelah menghabiskan makanan masing-masing, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi. Yegi mengantar Muhi pulang, dan di sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak terdiam.

Namun, setelah cukup lama dalam kebisuan, Yegi akhirnya membuka suara.

"Bisa motoran, Dik?" tanyanya tiba-tiba.

Muhi melirik sekilas dengan tatapan bingung, lalu hanya berdehem sebagai jawaban.

"Kopling juga bisa?" lanjut Yegi, entah memang ingin tahu atau hanya sekadar mencari topik pembicaraan.

"Enggak," jawab Muhi singkat.

Yegi terdiam sejenak, lalu dengan cepat menimpali, "Kalau menjaga hati Mas, bisa?"

Ia memainkan alisnya dengan gaya menggoda, membuat Muhi langsung merasa muak. Gadis itu pura-pura tertawa kecil, tapi tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.

"Kenapa diem? Gak bisa berkata-kata karena terlalu baper, ya?" goda Yegi lagi dengan senyum jahilnya.

Muhi hanya menghela napas panjang, menatap lurus ke depan seolah tidak mendengar. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, kenapa pemuda ini tidak pernah kehabisan cara untuk membuatnya kesal?

Tentu, berikut adalah perbaikan pada kalimat yang Anda minta:

"Gak, ini udah kan? Gue mau pulang, capek," ucap Muhi dengan senyum terpaksa, lalu diangguki oleh Yegi.

Setelah sampai, Yegi memutuskan untuk langsung pulang, bukan karena keinginan sendiri, tapi karena keinginan gadis yang sedari dulu mencuri perhatiannya.

"Iya, Mas pulang dulu ya, Dik," pungkasnya, kemudian melajukan kendaraannya.

"Mui," panggil Riski yang ternyata sedari tadi menunggunya. "Ayo pulang ke desa, Ibumu sakit," sambung Riski, kemudian memeluk Muhi.

"Ibu? Ibu kenapa, Ki?" tanya Muhi dengan tangan yang bergetar.

"Ayo kita pulang, Jovan bentar lagi kesini," ujar Riski dengan pelukan yang semakin erat dan enggan ia lepaskan.

"Jangan panik, Mui. Ibu akan baik-baik aja, ya. Udah jangan nangis, kita tinggal nunggu Jovan aja ya," sambung Riski.

Hampir sepuluh menit kedua gadis itu menunggu, namun Jovan tak kunjung datang. Akhirnya Muhi memutuskan untuk menghubungi Jovan.

"Assalamualaikum, Van. Awakmu nengdi to, Van?" tanya Muhi dengan penuh kecemasan. (Kamu di mana sih, Van?)

"Waalaikumsalam, dengan siapa?." Ujar pemuda di ujung sana, terdengar bukan seperti suara Jovan. Dengan cepat Muhi memberikan ponsel tersebut kepada Riski lalu keduanya mendengarkan bersamaan.

"Jangan bercanda, Van." Geram Riski, kemudian mengalihkan panggilan menjadi videocall.

"Lo siapa?." Tanya Muhi setelah mengetahui bahwa yang sedang ada di sebrang sana bukanlah Jovan, melainkan pemuda asing dengan pakaian dokter.

Badai Kepulangan.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang