Kalaupun aku jatuh cinta dengan orang lain, perasaan itu tidak akan pernah sama ketika aku mencintaimu.
Syahrul berdiri di depan rumah itu, menatap pintu yang sudah lama tak ia ketuk. Rumah yang penuh dengan kenangan tentang tawa, canda, dan percakapan panjang antara dirinya dan Muhi. Rumah yang dulu terasa begitu hangat, di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa ada yang menghakimi. Senja itu, semuanya terasa berbeda—Waktu telah mengubah banyak hal, namun kenangan itu seakan tak tergantikan.
Setelah beberapa detik ragu, ia mengetuk pintu dengan hati berdebar. Tak begitu lama lintu itu terbuka, dan di sana, berdiri Ibu Sansa—Wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum hangat, seakan ia adalah bagian dari keluarga ini. Namun, wajah Ibu Sansa kini tampak tampak tak begitu sehat, dengan kerutan halus yang menandakan waktu telah berlalu begitu cepat.
"Syahrul?" Sapa Ibu Sansa dengan lembut, namun penuh kehangatan, seperti biasa. "Apa kabar, nak?"
"Assalamualaikum, Ibu," Suara Syahrul tercekat. Tak pernah ia menyangka bisa berdiri di sini, setelah sekian lama. "Saya baik, Bu. Sudah lama sekali ya, saya tidak berkunjung."
Ibu Sansa menjawab salam dengan tersenyum tipis, matanya menyiratkan kehangatan yang tidak pernah pudar. Lalu memberikan isyarat agar Syahrul memasuki ruang tamu yang telah lama tak pemuda itu injaki.
"Iya, sudah lama sekali. Tapi kamu tetap terlihat seperti anak itu, yang sering datang ke sini bersama Muhi. Saya selalu ingat bagaimana kalian berdua bercanda dan tertawa bersama."
Kata-kata Ibu Sansa seperti angin yang mengalir lembut, membawa Syahrul kembali ke masa lalu, ke saat-saat di mana kebahagiaan terasa begitu sederhana. Ketika dunia hanya berputar di sekitar Muhi, di sekitar mereka berdua.
"Maaf lancang Muhi, di mana, Bu?," tanya Syahrul dengan sedikit kegugupan yang ia sembunyikan. "Saya ingin bertemu dengannya."
Ibu Sansa mengangguk pelan, pandangannya hangat. "Muhi sedang di kamar. Sepertinya ia sedang beristirahat, silahkan duduk nak Ibu panggilkan Muhi."
Syahrul menghela napas pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Baik, saya akan menunggu di sini."
Ibu Muhi memberikan isyarat agar Syahrul duduk, lalu kembali melangkah menuju dapur. Syahrul duduk dengan hati yang penuh kerinduan, tetapi juga kecemasan.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki yang familiar terdengar di lorong. Syahrul menoleh, dan di sana, di ambang pintu, berdiri Muhi.
"Syahrul?" Suara Muhi, rendah dan penuh keheranan, mengalun lembut. "Kamu, datang?"
Syahrul tersenyum kecil, meskipun hatinya penuh dengan perasaan yang sulit ia ungkapkan. "Iya, aku datang. Sudah lama, sangat lama sekali semenjak perpisahan itu."
Ibu Muhi muncul di ambang pintu, memperhatikan mereka berdua dengan senyuman yang penuh pengertian. "Nak Syahrul kamu ini, sudah seperti anak-anak Ibu sendiri," katanya dengan lembut. "Tapi, mungkin sekarang adalah waktunya untuk kalian saling memahami, bukan hanya sebagai masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan hidup masing-masing."
"Tenang saja Bu, aku dan Syahrul sudah berteman. Tidak ada lagi masalah antara kami." Ungkap Muhi, kemudian memeluk Ibu dengan hangat.
"Ah bener banget, Bu. Kemarin saja aku dan Muhi sudah berkeliling dan menikmati senja bersama sama seperti dulu." Sambung Syahrul, dengan senyum tengilnya.
"Jadi nak, apa pekerjaanmu sekarang? Dan bagaimana kabar Ibumu?." Tanya Ibu Sansa, di bawah atap rumah yang dulu penuh dengan tawa mereka, Syahrul dan Muhi hanya duduk, merasa waktu yang berlalu tak mampu memisahkan mereka sepenuhnya. Terkadang, pertemuan itu bukan tentang memaksa untuk kembali ke masa lalu, tetapi tentang saling menerima segala yang telah terjadi. Waktu, meskipun tak bisa diputar kembali, memberikan mereka ruang untuk menemukan makna baru dalam setiap kenangan.
Syahrul merasa seakan waktu berjalan begitu cepat. Waktu yang ia habiskan bersama Muhi dan Ibunya terasa begitu singkat, tetapi begitu bermakna. Dalam pertemuan yang singkat ini, banyak hal yang tak terucap—namun setiap detik terasa penuh dengan kenangan yang tak bisa diulang.
Di ruang tamu yang nyaman itu, ia menatap ibu Sansa yang masih tersenyum hangat, dan Muhi yang duduk di sampingnya dengan tatapan yang penuh makna. Mereka berbicara sedikit tentang masa lalu, tentang impian yang mereka punya, tentang segala yang terjadi. Namun, Syahrul tahu, tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa banyak perasaan yang tersembunyi dalam dirinya.
"Ibu, Muhi," kata Syahrul akhirnya, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Aku rasa sudah saatnya aku pulang."
Ibu Muhi mengangguk dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Bukannya ini terlalu cepet, Nak? Tapi terima kasih sudah datang. Kami senang bisa bertemu lagi."
"Nanti Syahrul janji bakal main lagi kok, yaudah Aku pulang ya Bu." Akhir Syahrul, ia merasakan perasaan yang campur aduk di dadanya. Ia ingin berkata banyak hal, ingin menjelaskan semua yang tersimpan dalam pikirannya, tetapi kata-kata itu terasa begitu sulit untuk keluar. Ia hanya bisa mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang menggerogoti hatinya.
Dengan langkah perlahan, Syahrul berdiri dari kursi, melangkah menuju pintu. Sebelum ia melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah Muhi dan ibunya, memberi mereka senyum yang mencoba mengungkapkan segala rasa yang tak terucap.
"Terima kasih sudah menerima aku, sekali lagi," ujarnya pelan, seperti sebuah perpisahan yang sudah lama ditunggu, meskipun tidak pernah diinginkan.
Dengan perlahan, Syahrul membuka pintu dan melangkah keluar. Suara pintu yang tertutup terasa seperti tanda dari akhir sebuah bab, tetapi juga awal dari sesuatu yang baru. Di luar sana, dunia menunggu, dan Syahrul tahu, walaupun langkahnya kini jauh dari rumah itu, kenangan tentang Muhi dan ibunya akan tetap tinggal dalam hatinya, tak tergantikan oleh waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
