Setelah mereka berjalan santai di trotoar kota, menikmati percakapan ringan, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan kecil yang tidak terlalu ramai. Di sana, mereka menemukan sebuah booth foto box yang tampak menarik di sudut dekat pintu masuk.
“Lihat, Muhi, ada foto booth! Ayo kita coba?” Ujar Yegi dengan senyuman lebar, matanya berbinar penuh semangat.
Muhi menatap booth itu, lalu tersenyum. “Kenapa tidak? Sepertinya seru, ya?”
Mereka berjalan menuju booth tersebut. Suasana di sekitar mereka terasa cerah, meskipun suasana di dalam toko sedikit lebih ramai. Mereka berdua masuk ke dalam foto booth dan mulai menyesuaikan posisi. Yegi sedikit berlari memasuki ruang booth terlebih dahulu, diikuti oleh Muhi yang tertawa pelan.
“Gimana, nyaman?” Tanya Yegi, menatap Muhi yang sedang mengatur duduk di kursi kecil.
Muhi mengangguk, masih tersenyum. "Siap-siap, ya."
Layar di booth mulai menyala, dan mereka berdua bersiap untuk pose pertama. Kamera mulai menghitung mundur, dan dengan cepat Yegi membuat gerakan lucu dengan wajahnya, membuat Muhi tertawa. Kemudian, mereka berpose untuk beberapa kali foto, dengan berbagai ekspresi—Dari tertawa lepas, saling berpose serius, hingga pose konyol yang membuat mereka berdua semakin menikmati momen itu.
Ketika sesi foto selesai, mereka keluar dari booth dengan senyum lebar dan tertawa bersama. Yegi memeriksa hasil fotonya, lalu berkata dengan nada lembut, "Lihat, Muhi, dalam setiap jejak cahaya yang tertangkap kamera ini, kamu tetap benderang, meskipun hanya dalam sekejap senyuman. Di setiap potret itu, ada sesuatu yang indah tentang dirimu—bahkan di pose yang paling sederhana."
"Kita kelihatan konyol, kan?" jawabnya dengan canda. Pertanyaan tersebut membuat Muhi tersenyum malu, sedikit merasa terharu dengan pujian itu.
Yegi menggeleng, tetap tersenyum.
"Tidak, Muhi. Dalam potret itu, aku melihatmu lebih dari sekadar gambar. Aku melihat kebaikan dalam setiap detiknya, seperti cahaya yang memantul lembut di tengah hujan." Goda Yegi, yang mampu membuat Muhi tersenyum kecil, merasa nyaman dengan kata-kata Yegi yang selalu penuh makna.
"Kamu ini, selalu bisa mengungkapkan sesuatu dengan cara yang bikin hati terasa ringan."
Ujar Muhi, senyumnya tak bisa pudar dari wajahnya dan tawanya menggema, mengisi foto booth dengan tawanya.
Mereka berdua keluar dari booth foto, masih memegang hasil foto yang baru mereka ambil. Yegi melirik ke arah Muhi, lalu berkata dengan lembut, "Lihatlah, Muhi, bagaimana setiap momen ini seolah menjadi kisah kecil yang terukir di lembaran waktu. Kita mungkin hanya berjalan bersama untuk sementara, namun dalam setiap detik kebersamaan ini, ada sesuatu yang abadi yang tertinggal."
Muhi menatap Yegi, sedikit terpesona oleh cara dia memandang dunia. "Kamu ini, ya, selalu bisa membuat segala sesuatunya terasa lebih indah."
"Aku hanya berkata apa yang terlihat, Muhi. Kamu, dengan segala kesederhanaan dan kehangatanmu, membuat dunia ini terasa lebih terang." Ucapnya, Yegi tersenyum, seolah menyadari bahwa kata-katanya memang bisa memberi makna lebih dalam.
Setelahnya mereka berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu, menikmati udara segar yang menyambut mereka di luar. Di sepanjang jalan, Yegi masih sesekali melontarkan kalimat-kalimat yang penuh makna, dan Muhi hanya bisa tersenyum mendengarnya. Rasanya, setiap kata yang keluar dari mulut Yegi seperti alunan musik yang mengiringi langkah mereka.
Setelah beberapa langkah, Yegi berhenti sejenak dan melihat ke langit yang mulai berubah warna, menandakan sore yang akan datang. "Muhi, aku rasa setiap pertemuan yang kita alami adalah bagian dari perjalanan yang tak bisa dijelaskan dengan mudah. Ada sesuatu yang indah dalam kesederhanaan ini, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
De TodoSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
