Mau galau, tapi dia juga
Suka aku.
Langit sore mulai berganti warna. Abu-abu yang sempat menguasai langit perlahan mundur, digantikan jingga yang lembut di balik awan. Hujan sudah reda sepenuhnya saat Muhi dan Yegi keluar dari café, masing-masing membawa satu buku puisi yang tadi mereka pilih.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar basah. Sesekali Muhi memainkan ujung syalnya, dan Yegi memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, menyamankan diri dalam udara dingin selepas hujan.
"Mas," panggil Muhi pelan, "kalau bukan Sapardi, Mas paling suka puisi siapa?"
Yegi menoleh, senyumnya muncul perlahan. "Mas suka Joko Pinurbo. Puisinya kadang konyol, kadang nyentil, tapi dalem banget. Ada satu puisinya yang Mas inget banget sama salah satu puisinya,"
T
uturnya kemudian berhenti sejenak, mengingat-ingat baitnya.
"Aku ingin mencintaimu secara sederhana. Seperti pensil yang setia pada rautannya. Meski tahu akan selalu kehilangan sebagian dari dirinya.”
Muhi menatap Yegi penuh kekaguman. “Mas ingetin aku kayak peran puisi dalam hidup, nyambung ke rasa, gak ribet, tapi juga gak bisa diremehkan.”
Yegi tertawa kecil. "Kamu sendiri, Dek Muhi? Suka siapa selain Sapardi?"
“Emmm,” Muhi berpikir sejenak, “aku suka Aan Mansyur. Puisinya tuh kayak, bisikan yang nyampe ke hati. Lembut, tapi ngena.”
Muhi lalu membuka bukunya, menunjukkan salah satu kutipan yang ia tandai.
“Aku sedang mencintaimu. Diam-diam. Dalam doa. Dalam jarak dan waktu.”
Yegi tersenyum, lalu menatap lurus ke jalanan di depan. “Kata-kata kayak gitu tuh, bikin kita sadar kalau cinta gak perlu teriak-teriak. Cukup diresapi, dipahami.”
Mereka menyebrang jalan. Kendaraan lewat dengan suara gemuruh lembut yang terpantul dari jalanan basah. Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, mereka melanjutkan percakapan tentang penyair-penyair legendaris—Chairil Anwar yang garang, Widji Thukul yang membakar semangat, hingga Emha Ainun Nadjib yang penuh kebijaksanaan.
Muhi tiba-tiba tertawa kecil. “Dulu aku pikir puisi itu cuma buat anak galau. Tapi makin kesini, aku ngerasa puisi justru jadi tempat paling nyaman buat pulang.” Ujarnya kemudian Yegi melirik Muhi.
“Mas juga gitu. Dan sekarang, Mas pengen kamu jadi puisi yang Mas baca tiap hari.”
Muhi menunduk, pura-pura menutupi senyumnya. Pipinya mulai bersemu, tapi ia tak berkata apa-apa. Hanya suara langkah mereka berdua yang terdengar di antara suara daun yang jatuh dan angin sore yang membawa kenangan.
Dan entah kenapa, dunia terasa sangat tenang saat itu. Seperti kalimat terakhir dari sebuah puisi yang tak ingin segera ditutup.
M
alam harinya, Muhi sedang berdiri di dapur kecil, mengaduk panci sup ayam sederhana yang aromanya mulai memenuhi ruangan. Di meja makan, Naila duduk santai sambil memainkan sendoknya, menunggu dengan sabar.
“Wangi banget, Mui. Beneran ini Lo yang masak?” Goda Naila, bibirnya menyungging senyum nakal.
Muhi hanya menoleh sambil nyengir, “Lah, masa iya Mas Yegi? Ya Gue lah. Lo kira Gue gak bisa masak?”
Naila tertawa kecil. “Bukan gak bisa, tapi ini wangi banget. Kaya sup waktu lebaran.”
Muhi hanya mengangkat alis, lalu mulai menuangkan sup ke dua mangkuk yang sudah tertata rapi. Ia duduk berhadapan dengan Naila, meletakkan sendok lalu mengambil napas panjang.
Mereka mulai menyantap dengan perlahan. Hangat kuah sup menyapu tenggorokan, rasa gurihnya pas. Muhi memandang Naila, lalu berkata pelan, “Na, Gue kemarin book date sama Mas Yegi loh.”
Naila mendongak, ekspresinya langsung berubah jadi antusias. “Serius? Astaga, akhirnya! Terus gimana?”
Muhi tersenyum malu, matanya menatap mangkuknya. “Kami ketemu di kafe. Awalnya cuma ngobrol soal buku, terus muter-muter cari rak puisi. Eh, ketemu bukunya Sapardi Djoko Damono.”
Naila mengangguk cepat. “Wah, yang romantis-romantis itu, kan?”
“Iya, Nai. Astaga Mas Yegi bacain puisinya. Pelan banget, kalem. Tapi, kena banget di hati.” Muhi menghela napas, kemudian melanjutkan dengan suara lebih lembut, “Dia bilang cinta itu kaya baca buku. Gak bisa lompat ke akhir. Harus dibaca pelan-pelan, dimengerti.”
Naila meletakkan sendoknya. Ia menatap Muhi dengan ekspresi serius namun lembut. “Lo sadar gam si itu cowok ngomong begitu? Romantis banget sih, jarang lo cowok sekarang yang bisa ngungkapin perasaan sehalus itu.”
Muhi tertawa lirih, “Gue juga gak nyangka. Dia selalu bisa bikin gue tenang dengan kata-katanya itu. Gak buru-buru, gak maksain.”
Naila menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Jadi kalian, udah jadian?”
Muhi mengangguk kecil, pipinya merona. “Iya. Tapi kita gak buru-buru bilang ke siapa-siapa. Rasanya masih pengen nikmatin pelan-pelan aja.”
Naila tersenyum lebar, lalu menjulurkan tangan dan menepuk tangan Muhi pelan. “Bagus Gue setuju banget. lo itu pantas dapet cinta yang pelan tapi penuh. Yang bikin Lo merasa dilihat, dimengerti.”
Mereka melanjutkan makan dalam hening yang hangat. Tak ada suara selain sendok menyentuh mangkuk dan rintik hujan di luar jendela.
Muhi melirik ke arah jendela, lalu berkata pelan, “Na, kadang Gue takut bahagia ini cuma sebentar.”
Naila menoleh, lalu menjawab, “Apaansih, Lo selama ini udah banyak ngalah, banyak sabar. Sekarang waktunya Lo percaya, kalau bahagia juga bisa milih tinggal lebih lama. Apalagi kalau Lo jagain dengan hati.”
Muhi tersenyum. Malam itu, sup sederhana, hujan kecil, dan obrolan hangat menjadi penanda—bahwa pelan-pelan pun, cinta bisa tumbuh dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
AcakSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
