Pagi itu, langit masih cerah dengan sinar matahari yang hangat menyinari jalanan kota. Muhi sudah berada di taman kota, menunggu Yegi yang sudah mengajak bertemu untuk sarapan bersama. Ini pertama kalinya mereka menghabiskan waktu bersama di luar acara komunitas seni, dan Muhi sedikit penasaran dengan bagaimana percakapan mereka kali ini.
Tak lama, Yegi muncul dengan langkah tenang, mengenakan kemeja putih yang sederhana namun tetap memancarkan aura puitisnya. Senyumnya terlihat lebar ketika melihat Muhi yang sudah duduk di bangku taman.
“Muhi, kamu datang lebih cepat dari yang aku kira,” kata Yegi sambil duduk di samping Muhi.
"Iya, aku tadi bangun lebih pagi. Kayaknya aku butuh udara segar setelah seminggu penuh kerja." Ujar Muhi, dengan tawa kecilnya
“Ah, udara pagi, seperti kata-kata yang baru terucap, memberi ketenangan sebelum dunia mulai berlarian.” Jawab Yegi, membuat Muhi tersenyum. Memang, Yegi selalu punya cara berbicara yang membuat segalanya terasa lebih berarti, bahkan hal-hal kecil seperti ini.
“Mungkin, ya. Kalau gitu, kita mulai sarapan?” Tanya Muhi, mengalihkan pembicaraan. Mugi tidak terlalu suka dengan kalimat-kalimat yang menyangkut puitis tapi entah mengapa semenjak mengenal Yegi ia sangat menyukainya
Yegi mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju kafe kecil yang tidak jauh dari taman. Di sana, mereka memilih meja di pojok, dengan cahaya matahari pagi yang menyinari ruangan.
Selama makan, Yegi tak henti-hentinya memuji Muhi, kali ini dengan cara yang lebih sederhana. “Kamu tahu, Muhi, ada sesuatu tentang dirimu yang membuat aku merasa nyaman. Entah itu cara kamu melihat dunia, atau sekadar senyum yang tak pernah lepas dari wajahmu.”
“Yegi, kamu bisa aja. Kamu selalu lihat hal-hal kecil dalam diriku yang kadang aku nggak sadari.”
Muhi tersenyum, meskipun sedikit merasa canggung dengan pujian itu.
“Karena kadang hal-hal kecil itu yang paling berharga, kan?” jawab Yegi, sambil menatap Muhi dengan senyum yang tulus. "Kamu tahu, tidak banyak orang yang bisa membuat dunia sekitarnya terasa lebih indah hanya dengan keberadaannya. Tapi kamu, Muhi, kamu punya itu."
Muhi menunduk, merasa pipinya sedikit memerah. "Aduh, kamu nggak berhenti memuji ya," katanya sambil tertawa ringan.
Yegi tertawa bersamanya. "Tidak hanya memuji, Muhi. Aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan. Kamu punya cara yang luar biasa untuk membuat orang merasa diterima."
Obrolan mereka pun berlanjut dengan santai, membicarakan hal-hal ringan, mulai dari buku yang Yegi baca hingga tempat makan yang mereka kunjungi. Seiring berjalannya waktu, Muhi merasa semakin nyaman. Keberadaan Yegi memang memberi rasa yang berbeda, seperti suasana pagi yang tenang dan penuh kemungkinan baru.
Setelah selesai makan, mereka keluar dari kafe, dan Yegi mengeluarkan ponselnya. “Bagaimana kalau kita foto bersama di sini? Sebagai kenang-kenangan pagi ini?”
Muhi terkejut, namun tersenyum. “Ayo, kenapa enggak?”
Yegi mengarahkan kameranya ke mereka berdua. Mereka berpose ringan, dengan senyum yang lebih alami karena percakapan yang sudah membuat suasana semakin hangat. Yegi mengambil beberapa foto, lalu menatap layar ponselnya.
“Lihat, Muhi, kamu terlihat manis dalam foto ini. Sederhana, tapi tetap punya daya tarik yang tak bisa dijelaskan.” Kata Yegi, matanya berbinar melihat hasil foto itu.
Muhi tersenyum, sedikit terharu dengan kata-kata Yegi. “Terima kasih, Yegi. Aku senang bisa menghabiskan waktu sama kamu hari ini.”
Yegi hanya tersenyum, menatapnya dengan penuh perhatian. “Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berada di sini denganmu, Muhi. Hari ini terasa sempurna.”
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan, melanjutkan percakapan ringan mereka, menikmati pagi yang cerah dan penuh kemungkinan. Meskipun perjalanan mereka baru dimulai, Muhi merasa, entah mengapa, ada sesuatu yang lebih mendalam dalam pertemuan mereka kali ini. Sebuah kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Setelah beberapa langkah berjalan santai, Muhi dan Yegi memutuskan untuk berjalan ke taman kecil yang berada di seberang jalan. Matahari semakin tinggi, sinarnya semakin hangat dan membuat suasana pagi terasa lebih menyenangkan. Mereka duduk di bangku taman yang menghadap ke sebuah kolam kecil, menikmati semilir angin pagi yang sejuk.
"Kadang, aku berpikir tentang hidup," ujar Yegi, memecah keheningan, suara puitisnya kembali mengalir seperti angin yang lembut. "Tentang bagaimana setiap detik berharga, bagaimana setiap pertemuan memiliki makna yang mendalam. Seperti hari ini, misalnya. Pertemuan yang sederhana, tapi terasa seperti sebuah kisah yang harus dikenang."
"Aku nggak tahu kalau kamu bisa melihat semuanya begitu dalam, Yegi. Tapi aku senang bisa ada di sini sekarang, menikmati hari ini."
Ucap Muhi, sembari memandang Yegi, merasa ada sesuatu yang dalam dalam kata-katanya.
"Karena hari ini, di sini, kita bisa saling berbagi cerita tanpa terburu-buru. Kita tidak harus menjadi siapa-siapa, hanya menjadi diri kita sendiri. Kamu tahu, aku suka bagaimana kamu begitu apa adanya, Muhi." Ungkal Yegi, lalu tersenyum, menatap Muhi dengan mata yang penuh makna.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa, Yegi. Kadang aku merasa nggak seistimewa itu." Muhi merasa sedikit terkejut, namun ada rasa hangat di dalam dadanya.
"Ah, kamu lebih istimewa daripada yang kamu kira," jawab Yegi, dengan suara yang lembut tapi penuh keyakinan. "Kamu punya ketulusan yang membuat orang merasa nyaman. Itu sesuatu yang tidak bisa didapatkan dengan mudah."
Muhi terdiam sejenak, meresapi kata-kata Yegi. Hatinya terasa ringan, dan dia mulai merasa lebih dihargai dari yang sebelumnya dia kira. Mungkin memang benar, Yegi selalu bisa melihat sisi baik dalam dirinya yang selama ini ia abaikan.
"Terima kasih, Yegi." Kata Muhi pelan, dengan senyum yang tulus.
Membuat Yegi menatapnya dengan senyum yang sama.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan."
Setelah beberapa waktu, mereka memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan mereka, menikmati sisa pagi yang masih segar. Mereka berhenti di beberapa tempat, berbicara tentang berbagai hal ringan, mulai dari musik hingga makanan favorit. Suasana semakin hangat, dan Muhi merasa semakin dekat dengan Yegi. Meskipun pertemuan ini baru saja dimulai, dia merasa nyaman seolah sudah mengenal Yegi sejak lama.
Di sebuah kafe kecil, mereka duduk dan memesan beberapa makanan ringan untuk makan siang. Sambil menikmati hidangan, Yegi kembali membuat Muhi tertegun dengan kata-katanya.
"Muhi, aku rasa setiap orang punya peran yang unik di dunia ini. Ada yang terlihat besar, ada yang kecil. Tapi tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Semua peran itu, meskipun tak terlihat, tetap membuat dunia berjalan."
"Jadi, menurutmu, kita semua penting?" Tanya Muhi, sembari memandang Yegi, mendengarkan dengan seksama. Lalu Yegi mengangguk.
"Tentu. Seperti halnya kamu. Mungkin kamu tidak selalu merasa seperti pahlawan, tapi dengan cara kamu menjalani hari-hari, kamu sudah membuat perbedaan besar. Semua yang kamu lakukan, dari kerja kerasmu hingga cara kamu memperlakukan orang, itu semua berarti."
"Terima kasih, Yegi. Kamu benar-benar tahu bagaimana membuat orang merasa lebih baik." Ungkap Muhi lagi, setelah merasa matanya sedikit berkaca-kaca, hatinya terasa hangat oleh kata-kata Yegi.
Yegi tersenyum, matanya berbinar. "Itulah tujuanku. Membuat dunia ini sedikit lebih indah, sedikit lebih baik," Ujarnya lalu menatap Muhi dengan tatapan mendalam, " Setidaknya lupakan masalahmu karena tragedi lama hanya digantikan dengan tragedi yang lebih luar biasa."
"Maksudmu?" Tanya Muhi dengan rasa penasaran yang begitu besar, namun sang empu hanya tersenyum, lebih tepatnya menyendiri kecil.
Lalu mereka berdua menikmati waktu mereka, makan siang di bawah langit yang semakin cerah. Muhi merasa bahwa pertemuan ini adalah awal dari sesuatu yang lebih baik—sebuah perjalanan yang belum diketahui ujungnya, tetapi sudah terasa begitu nyaman dan penuh harapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
AléatoireSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
