18. Pulang kekota

37 29 3
                                        

Kasih sayang Ayah dan Ibu sepanjang masa.

Pagi itu, udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Muhi berdiri di depan pintu, tas kerja tersampir di bahunya, siap untuk kembali ke kota. Beberapa kali, ia menatap rumah yang telah menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya, tempat di mana segala kenangan masa kecil dan remaja bermula. Seiring detik yang berdetak, hatinya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan—Antara rindu dan kecemasan yang menguat setiap kali ia akan meninggalkan rumah ini.

Ibunya sedang berada di dapur, dan ayahnya duduk di kursi kayu tua di ruang tamu, matanya sedikit sayu seperti biasa, tapi penuh kasih. Muhi tahu, hari ini mereka akan melepasnya lagi untuk kembali ke kota, seperti yang sudah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, entah mengapa, perasaan itu tetap tidak pernah mudah, seolah setiap perpisahan mengundang keheningan yang dalam.

Ibu Muhi muncul dari dapur, menyeka tangan dengan kain pel dan memandang putrinya yang tengah berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh dengan kesan yang sulit terbaca. Ibu Muhi tersenyum, meski ada raut kekhawatiran yang samar di matanya. "Nak, kamu sudah siap?" Tanyanya, suaranya lembut namun penuh pengertian.

Muhi mengangguk, namun hatinya terasa berat. "Iya, Bu. Sudah siap."

Ibu Muhi melangkah mendekat, menyentuh pipi Muhi dengan lembut, seperti ingin memastikan bahwa anak perempuannya ini akan baik-baik saja di sana. "Kamu tahu, kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu," katanya pelan. "Tapi, kadang-kadang, rasanya kita selalu ingin kamu lebih lama di sini. Rumah ini selalu menunggu kamu buat pulang sayang."

Muhi menghela napas, mencoba menahan perasaan yang mulai menghimpit. "Aku tahu, Bu," jawabnya, suaranya hampir berbisik. "Aku akan kembali lagi, pasti yang penting Ayah dan Ibu sehat selalu, begitu pula dengan Mahen dan Myha."

Ayah Muhi, yang sejak tadi duduk diam, kini mengangkat pandangannya. Wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat lebih lembut. "Kamu sudah dewasa, Nak," katanya, suaranya berat, namun penuh cinta. "Kita tahu, kamu harus mengikuti jalanmu sendiri. Tapi ingatlah, rumah ini selalu punya tempat untukmu."

Muhi menatap ayahnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih, Ayah. Aku akan selalu ingat pesan Ayah dan Ibu."

Dengan langkah hati-hati, Muhi mendekati mereka berdua. Tanpa sepatah kata lagi, ia memeluk ibu dan ayahnya dengan erat, seperti ingin menyimpan setiap kenangan ini dalam pelukannya. Beberapa detik, mereka hanya berdiri dalam diam, merasakan ikatan yang tak terputus meskipun jarak akan segera memisahkan mereka.

"Jaga diri baik-baik, nak," kata ibu Muhi, matanya sedikit berkaca-kaca, namun senyumnya masih terpancar. "Jangan lupa makan dengan baik, dan jangan terlalu keras bekerja. Ingat, istirahat itu penting."

Muhi tersenyum lembut, meskipun ada perasaan yang sangat berat di dadanya. "Aku janji, Bu."

Setelah melepaskan pelukan, Muhi melangkah mundur pelan, tas di bahunya semakin terasa berat, seolah membawa beban perasaan yang tidak mudah untuk dilepaskan. Di luar jendela, langit masih cerah, tapi hatinya terasa seperti mendung yang tak kunjung reda.

"Sampai jumpa lagi, Ayah, Bu," katanya dengan suara yang nyaris hilang, namun penuh dengan kasih sayang.

Dengan langkah yang sedikit ragu, Muhi melangkah keluar dari rumah itu. Pintu rumah yang perlahan tertutup kembali seolah menandai sebuah babak baru dalam hidupnya. Ia tahu, ia harus pergi. Tapi di dalam hatinya, rumah ini—tempat di mana ia dilahirkan, dibesarkan, dan dicintai—akan selalu menjadi tempat yang paling ia rindukan.

Sebelum akhirnya melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah rumah itu, menyimpan bayangan ibu dan ayahnya yang masih berdiri di depan pintu. Dalam perasaannya, ada satu keyakinan yang kuat—bahwa tak peduli sejauh apa ia pergi, rumah ini dan orang-orang di dalamnya akan selalu menunggunya kembali.

Riski berdiri di samping Muhi, matanya menatap pintu rumah dengan perasaan yang tak mudah dijelaskan. Meskipun ia lebih sering berada di kota untuk urusan pekerjaan, kali ini perasaannya berbeda. Hari ini, ia juga harus pamit.

"Riski, kamu juga mau pergi kekota Nak?" Tanya  Ibu Sansa, dengan suaranya yang tak lembut, namun penuh perhatian. Riski sudah mereka anggap seperti anak sendiri, tak heran jika Ibu Sansa merasa sedih juga.

Riski mengangguk, meskipun wajahnya tidak menunjukkan kegugupan, ada ketegangan di matanya. "Iya, Buk. Iki harus kembali lagi, pekerjaan menanti."

Ibu Sansa kemudia. mendekat, tangan terlipat di depan dada. "Jaga diri baik-baik, Riski. Jangan lupa mampir lagi kalau ada waktu."

Riski tersenyum tipis. "Tentu, Bu. Terima kasih atas segala kebaikannya."

Dengan langkah yang tenang, ia melangkah mendekati Muhi, memberi salam perpisahan singkat, lalu menyapa kedua orang tua Muhi dengan hormat.

"Kami berangkat kekota ya, Ayah, Ibu jaga diri baik-baik nanti kami kabarin kalo udah sampe." Ujar Riski dan Muhi dengan itu, keduanya melangkah keluar, meninggalkan rumah yang penuh kenangan.

"Ayah, Ibu. Jovan ijin bawa Riski sama Muhi kekota lagi ya." Ujar Jovan yang memang sengaja keluar terakhir, dengan senyum hangat Jovan berpamitan kepada kedua orang tua Muhi.

"Nak Jovan." Panggil Andra–Ayah Muhi, dengan wajah yang tak dapat di dekripsikan, hingga menghentikan langkah kaki Jovan.

"I-iya Ayah, kenapa?" Jawab Jovan dengan sopan, kemudian berjalan kembali kedalam rumah menghampiri Andra.

"Ayah minta sama kamu, buat jaga Muhi dan Riski ya. Meski Ayah yakin Riski bisa melindungi Muhi tapi Ayah juga masih butuh kamu untuk menjaga Riski dan Muhi, Ayah yakin sama kamu Nak kalo kamu bisa menjaga Muhi dan Riski." Pinta Andra dengan mata berkas-kaca, Jovan tau betapa sayangnya Andra kepada Muhi juga Riski. Membuat Jovan mengangguk dengan cepat, ia tau bahwa apapun yang terjadi ia harus melindungi kedua perempuan yang kini tengah menjelma sebagai sahabatnya.

"Jovan janji, Ayah." Putusnya, lalu berpamitan dan beranjak pergi.

Badai Kepulangan.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang