Semuanya Hanya Tentangmu
Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
gak mau berlebihan lagi, i will treat you like treat me.
Hari ini, Muhi merasa bad mood. Entah karena kegiatan malam ini atau karena sosok pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan membawa sebuket lolipop. Namun, senyumnya tak bertahan lama. Perasaan itu kembali pudar begitu ingatannya teringat pada perilaku pria tersebut yang telah lama membuat hatinya hancur.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Marmut, maafin aku ya. Aku tahu aku salah." ujar pria itu, kini tengah berjongkok di hadapannya dengan sebuket lolipop yang digenggamnya.
"Nggak mau." balas Muhi dengan tegas, kemudian berpaling dari hadapan Syahrul. Garis-garis kesedihan itu semakin terasa di hatinya, seolah setiap kali ia melangkah, selalu ada Syahrul yang mengikutinya, membuatnya merasa muak.
"Sialan, tahu gini gue nggak bakal mau kerja di kota," umpat Muhi setelah sadar dari lamunannya.
"Udah, Muhi. Lo masih mikirin mantan lo itu? Lagian, apa sih yang lo pikirin dari dia?" tanya Niala yang sejak tadi memperhatikan tingkah Muhi.
"Susah, Nia, susah. Gue udah berusaha," keluh Muhi, membuat Niala memeluk tubuh ramping Muhi. Pelukan itu membuat Muhi menangis, lalu tertidur di pangkuan Niala.
Niala yang sadar kalau Muhi sudah terlelap mencoba memindahkan tubuh gadis itu dengan hati-hati. Dengan telaten, Niala mengusap pelan helai rambut yang menutupi wajah manis Muhi. Sejujurnya, Niala tak tahan melihat sikap Leon dan Sinta, apalagi saat ia selalu menyaksikan tangisan yang keluar dari Muhi setiap malam. Tangisan itu selalu terkait dengan keluarga dan juga pria berengsek yang selalu muncul di mana pun Muhi berada. Meski baru mengenal gadis itu selama sebulan, Niala merasa hatinya teriris setiap kali melihat Muhi menangis di malam hari.
"Nia, bangun Nia, ayo sholat subuh dulu," panggil Muhi sambil mengoyangkan pelan lengan Niala, membuat Niala terbangun dengan tatapan linglung.
"Haya oe olang cina oei," jawab Niala, membuat Muhi terdiam sejenak lalu tertawa sekencang-kencangnya. Tawa Muhi membuat Niala terkejut dan langsung terbangun.
"Ya Allah, Nia, lo ngapain sih, hah? Sejak kapan jadi orang Cina?"
"Orang Cina? Apaan dah, ngigo lo ya?" balas Nia, membuat Muhi tertawa lebih kencang, sampai akhirnya Nia mendapatkan sebuah geplakan manis dari Muhi.
"Karep, wes, kono sholat," ujar Muhi sambil duduk di ujung ranjang, sembari memainkan ponselnya. Nia langsung menuruti, tanpa banyak bicara.
"Lo nggak sholat?" tanya Nia sekali lagi sebelum meninggalkan kamar, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Muhi. Setelah itu, Nia meninggalkan Muhi sendirian di kamar. Tangan Muhi lincah menari-nari di atas keyboard ponsel pintarnya, sesekali mengeluh.
"Sopo to iki? Kok koyone aku ra kenal," monolog Muhi pelan sambil menggaruk kepala. (Siapa sih ini? Kayaknya aku nggak kenal.)
"Nahkan tenan, Yegi Mahendra? Sopo to. Mana pengikutnya, akeh sih tapi yo aku ra kenal." (Tuh kan bener, Yegi Mahendra? Siapa sih, mana pengikutnya banyak, tapi tetep nggak kenal.)