20. Problem

40 29 4
                                        

Sudah dua tahun Muhi bekerja di toko kecil yang terletak di tengah kota. Awalnya, semuanya berjalan lancar, sampai dia bertemu Leon, seorang rekan kerja yang selalu mencolok dengan gaya busananya yang flamboyan dan cara bicaranya yang terkadang berlebihan. Leo sering membuat suasana menjadi hidup—atau lebih tepatnya, gaduh. Temannya, Kirana, tak kalah mencolok. Dengan sikapnya yang terkadang mengusik, Kirana selalu siap memberikan komentar sinis yang mengganggu.

Muhi, yang sejatinya adalah orang yang lembut dan lebih suka bekerja tanpa banyak bicara, merasa tertekan setiap kali berhadapan dengan mereka berdua. Mereka berdua sering mencari perhatian dan tak bisa berhenti mengusik. Meskipun begitu, Muhi berusaha tetap tenang, meski hatinya meronta. Sejak awal, dia tahu bahwa Leon dan Kirana membuatnya merasa tidak nyaman, namun dia selalu menahan diri.

Pada suatu sore yang tenang, setelah toko mulai sepi, Muhi tengah merapikan rak barang di bagian belakang toko. Tiba-tiba, langkah kaki yang menggema terdengar. Leon datang dengan kaos berwarna cerah yang selalu mencolok, disertai dengan Kirana yang melangkah dengan angkuh, seolah baru saja meraih kemenangan.

"Eh, Muhi," sapa Leon dengan suara berat yang agak mengganggu, "Gue rasa hidup lo perlu sedikit warna. Lo tuh kayak pudar banget."

Muhi menatap Leon dengan tatapan tajam, matanya tetap fokus pada rak yang sedang dia atur. "Gue nggak butuh warna dari lo, ya Leon. Gue cuma butuh kerjaan gue selesai."

Kirana yang berada di belakang Leon ikut tertawa, suaranya dibuat sengaja nyaring agar bisa didengar Muhi. "Aduh, Muhi-Muhi, lo tuh nggak asik banget. Coba deh sedikit terbuka sama dunia luar. Hidup itu nggak cuma soal kerja."

Muhi merasa darahnya mulai mendidih, tapi dia mencoba menahan diri. Leon dan Kirana memang sudah sering menggoda, tapi kali ini mereka benar-benar melampaui batas. "Lo pikir gue nggak tahu itu, Kirana?" jawab Muhi dengan nada datar namun tajam. "Tapi kalau yang lo sebut 'terbuka' itu cuma gangguan, gue nggak butuh saran dari kalian."

Leo merasa terganggu dan mendekat lebih dekat dengan Muhi.

"Gue nggak ngerti deh, Muhi. Lo itu kenapa? Selalu dingin dan jauh. Lo pikir lo lebih baik dari kita, ya? Cuma karena lo diem aja?" Hardik Leon, dengan tangan yang selalu menyentuk barang yang akan Muhi susun.

"Iya, lo cuma diem doang, nggak pernah coba sosialisasi. Lo nggak punya temen, Muhi, lo tahu itu?" Timpal Kirana, dengan tak kalau jahilnya ia mulai memberantaki barang-barang.

Muhi menatap mereka dengan tatapan yang mulai terbakar. "Dan lo pikir gue butuh temen kayak lo berdua?" ujarnya hampir berbisik, namun dengan penekanan yang jelas. "Lo berdua cuma pengen cari perhatian. Gue nggak punya waktu buat itu."

Leo mendekat lagi, kali ini suaranya lebih mengejek. Bukannya terlihat seperti pria tangguh, namun wajah Leon justruh tampak seperti Ani-ani yang sedang merayu para duda.

"Hahaha, Muhi, lo terlalu serius deh. Kenapa sih lo nggak bisa sedikit bercanda? Lo tuh nggak punya humor sama sekali."

Muhi tak bisa lagi menahan amarahnya. "Gue nggak butuh humor lo, Leon. Gue cuma butuh kerjaan gue selesai tanpa diganggu orang yang nggak tahu etika!"

"Ah, lo tuh sok galak banget, Muhi. Kalau lo nggak suka diganggu, kenapa sih nggak bilang dari dulu? Jangan cuma diem aja." Goda Kirana dengan senyum sinisnya menyeringai, Muhi yang sudah tidak sabar lagi, melangkah maju dan mendekati mereka.

"Cukup!" teriaknya dengan suara keras, penuh penekanan, yang membuat Leon dan Kirana terkejut.

Saat itu, langkah kaki terdengar dari arah pintu. Deva dan Dapa baru saja tiba, merasakan ketegangan yang menyelimuti suasana. Deva, yang lebih vokal, langsung tahu ada yang tidak beres begitu melihat Muhi yang tampak marah.

"Ada apa ini?" tanya Niala, dengan suara lantang yang memecah kesunyian. "Kenapa sih kalian berdua ngerecokin Muhi?"

Leo dan Tia berbalik, mencoba mengalihkan perhatian dengan senyum sinis. "Oh, nggak ada apa-apa kali, Nia. Cuma sedikit bercanda sama Muhi." Kata Leon dengan nada yang mengejek.

"Iya, cuma bercanda kok. Lo tahu kan, Muhi tuh kaku banget, nggak bisa bercanda sedikit." Ujar Kirana ikut menimpali, dengan wajahnya yang tanpa dosa.

Niala langsung menatap tajam ke arah Tia. "Bercanda? Lo pikir ini bercanda? Kalau lo nggak bisa menghargai orang, mendingan lo pergi aja," katanya dengan suara tenang namun penuh kekuatan.

"Kenapa sih kalian selalu nyari masalah sama Muhi? Dia nggak ganggu hidup kalian, jadi lo juga jangan ganggu hidup dia!" ujar Dapa dengan tegas, matanya tak beranjak dari Leon dan Tia.

Dava, yang biasanya pendiam, kali ini tak bisa menahan amarahnya, Leon dan Kirana yang biasanya merasa tak terkalahkan dengan kata-kata mereka, kini merasa terpojok. Mereka berdua mencoba untuk tetap terlihat cuek, namun ekspresi mereka mulai meredup.

"Ya udah, ya udah," kata Leon sambil mengangkat tangan, "Kita nggak ada urusan lagi kok."

"Iya, iya, gue pergi. Nggak usah ribut-ribut." Ujar Kirana, yang kesal namun tak mau terlihat kalah, berbalik dan melangkah pergi.

Muhi berdiri dengan napas berat, matanya menatap Deva dan Dapa yang kini berada di sampingnya. "Makasih," ucapnya, suaranya sedikit serak. "Gue nggak tahu harus gimana lagi kalau mereka berdua terus ganggu gue kayak gitu."

Nial menepuk bahu Muhi dengan lembut. "Lo nggak sendiri, Muhi. Kita selalu ada buat lo. Mereka itu cuma orang-orang yang nggak ngerti batas."

Dava mengangguk setuju. "Kita temenan bukan cuma di tempat kerja, tapi di kehidupan juga. Lo nggak perlu takut buat berdiri tegak."

Muhi akhirnya tersenyum, meskipun matanya masih terlihat lelah. "Makasih, kalian berdua. Gue rasa sekarang, gue lebih kuat buat ngadepin mereka."

Suasana dalam toko pun kembali tenang, meski sedikit lebih berat setelah ketegangan itu. Namun, dengan kehadiran Niala dan Dava, Muhi merasa tak ada lagi yang bisa menghalangi jalannya untuk tetap profesional, meskipun ada orang-orang yang tak bisa menghargai batas. Mereka berempat, dengan dukungan satu sama lain, bisa menghadapi apapun yang datang—termasuk Leon dan Kirana yang selalu berusaha mengusik.

Badai Kepulangan.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang