Ngga semua masalah itu, solusinya nangis.
Di dalam mobil, suasana mulai santai setelah perjalanan yang sudah memakan waktu lama. Jovan mengemudi dengan tenang, sementara Muhi duduk di kursi penumpang depan, matanya sesekali tertuju pada pemandangan luar. Di kursi belakang ada Riski, ya meski sendiri namun percayalah Riski adalah orang terandom saat perjalanan jauh seperti ini.
"Van," Panggil Riski sambil sesekali melirik ke spion, "Pernah nggak sih, lo punya pengalaman kocak kayak surat cinta ungu? Atau mungkin punya cerita yang lebih parah?" Sambungnya membuat Jovan langsung menoleh ke belakang, terlihat bingung sejenak.
"Surat cinta ungu? Gila, itu kocak banget. Gue sih pernah ngasih sesuatu yang lebih klasik, guys. Gue pernah ngasih cewek gue, tiket konser." Ujarnya dengan cepat, dengan mata yang terus melirik jawaban kedua sahabatnya itu.
Muhi langsung menoleh dengan rasa ingin tahu yang besar. "Tiket konser? Wah, romantis banget. Tapi, lo kasih tiket konser yang gimana tuh?"
Jovan mengangguk serius, meskipun senyum nakal mulai muncul di bibirnya.
"Jadi gini, waktu itu gue ngasih tiket konser band favorit dia. Masalahnya, gue lupa ngecek tanggalnya. Yang ternyata tiket konser itu, bentrok sama tanggal ulang tahun dia."
Riski dan Muhi saling pandang, hampir nggak percaya. "Gila, Jovan!" kata Muhi sambil menahan tawa. "Jadi lo kasih tiket konser ke cewek lo, tapi malah ngelanggar jadwal ulang tahun dia?"
Jovan nyengir lebar, "Iya, dan gue baru sadar setelah dia ngeliat tiket itu, dia cuma ngomong, ‘Makasih ya, Jovan, tapi kenapa nggak kasih surprise yang lebih romantis? Kaya, ngasih perhatian yang lebih ke tanggal ulang tahun gue, misalnya?’" Ujar Jovan, sembari menirukan suara sang mantan yang terlihat sangat cocok jika Jovan yang melakukannya. Membuat Riski langsung terbahak.
"Ya ampun, Jovan, lo dikasih 'tiket balik' dari hubungan itu. Udah kayak kartu undangan perpisahan aja!"
Muhi ikut tertawa, “Ya, paling nggak, lo masih bisa bilang, ‘Nih, tiket konser, sama kayak hubungan kita, nungguin tanggal yang pas banget!'”
Jovan menepuk dahi dengan kencang, merasa malu dengan hal yang telah ia lakukan. "Iya, sih, itu jadi pelajaran. Kalau mau ngasih sesuatu, pastiin dulu tanggalnya bener, jangan asal-asalan kayak ngasih tiket konser sambil berpikir 'Mungkin aja ini jadi momen special', yang malah jadi momen kelam."
Riski, yang hampir nggak bisa berhenti ketawa, menambahkan, "Lo tau, sih, Jovan, lebih baik kasih surprise kayak, ngasih mie instan gitu, daripada kasih tiket konser yang malah bikin hubungan jadi berantakan."
"Mie instan! Ini baru ide brilian! Gue sih lebih memilih ngasih mie instan yang enak, daripada ngasih tiket konser yang bikin cewek gue kecewa." Muhi langsung tertawa terbahak-bahak.
“Gue kayaknya mulai mikir, deh, harus belajar ngasih mie instan ke orang yang tepat. Tapi yang pasti, nggak ada tanggal yang bentrok."
Ungkap Jovan dengan tangan yang tarus memegangi kening.
Tawa mereka makin pecah, dan perjalanan yang semula terasa sedikit berat, kini terasa jauh lebih ringan. Kejenakaan seperti ini, dengan percakapan yang ngaco dan lucu, memberikan warna dalam perjalanan yang akan segera berakhir. Mereka tak tahu seberapa lama lagi mereka akan bersama, tapi yang pasti, setiap detik penuh canda ini akan selalu mereka ingat.
Muhi yang sudah kembali duduk dengan posisi nyaman, menyandarkan punggungnya di jok, menoleh ke samping dan menatap Jovan yang tampak agak merenung. "Jovan, lo pernah nggak sih ngerasa kayak, lo udah bertahun-tahun hidup, tapi kok masalah nggak selesai-selesai gitu?"
Jovan mengerutkan dahi, bingung. "Hah? Masalah apa? Lo ngomong soal hidup lo yang terus-terusan ribet, ya?"
"Ya gitu deh, kadang hidup ini kayak game yang nggak pernah selesai. Misalnya, lo udah dapet level tinggi, tapi tiba-tiba muncul lagi musuh baru. Terus, pas lo pikir bisa santai, ada quest baru yang muncul. Cuma bedanya, nggak ada save point, jadi ya." Muhi tersenyum, kemudian mengangkat bahu tak acuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
De TodoSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
