"kalau kamu jadi software, aku nggak butuh update lagi, soalnya kamu udah versi paling sempurna."
Hujan masih turun, perlahan tapi pasti. Menyapu kaca jendela dengan titik-titik kecil yang jatuh seperti rindu yang tertahan. Sore itu, kota terlihat lebih kalem dari biasanya. Payung-payung berwarna melintas seperti bunga yang sedang mekar di antara abu-abu aspal yang dingin.
Muhi dan Yegi berjalan berdampingan di lorong toko buku yang berderet rapi. Aroma kertas dan tinta, serta suara bisik-bisik dari pengunjung lain membuat suasana jadi seperti dunia yang mereka miliki berdua. Yegi menggenggam jemari Muhi erat—bukan sebagai bentuk kepemilikan, tapi penguatan. Seolah berkata; “Aku akan selalu di sini, bersamamu.”
“Mas, kamu lebih suka novel atau puisi?” tanya Muhi, berhenti sejenak di depan rak sastra Indonesia. Yegi menimpalnya dengan tersenyum, menatap tumpukan buku seolah menatap kenangan disana.
“Dulu Mas suka puisi. Tapi setelah kenal kamu, Mas jadi suka dua-duanya. Karena kamu itu puisi, tapi juga punya alur cerita."
Ah, Mas suka ngibul." Ujar Muhi, tertawa kecil dengan malu-malu
Yegi memutar matanya kearah Muhi dengan tersenyum, lalu matanya tertuju pada salah satu buku bersampul putih yang terletak agak tersembunyi di pojok rak.
“Eh, Buku ini," ujar Yegi sambil menarik sebuah buku, kemudian meniup pelan debunya, “Sapardi.”
S
ambungnua membuat Muhi melangkah lebih dekat.
“Hujan Bulan Juni. Buku sejuta umat yang isinya gak pernah basi,” ucapnya, sambil menerima buku itu dan membolak-balik halamannya.
Mereka melangkah ke pojok ruangan, mencari bangku baca. Setelah duduk berdampingan, Muhi membuka halaman acak lalu membaca pelan:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”
Suasana mendadak lebih senyap. Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena kata-kata itu seakan menggantung di udara. Menyusup ke dalam perasaan yang belum sempat didefinisikan.
“Puisi itu selalu jadi favorit Mas loh,” ujar Yegi pelan. “Karena cinta emang gak harus ribut. Gak perlu janji-janji tinggi. Cukup hadir, dan tetap bertahan meski tak banyak berkata.”
Muhi menoleh. Tatapannya lembut. “Aku suka yang ini,” katanya, kemudian membuka halaman lain.
“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.”
Yegi mengangguk perlahan. “Mas ngerasa, puisi-puisi Sapardi itu seperti doa-doa yang gak pernah kita sadari. Lirih, tulus, dan penuh makna. Kayak kamu.” Ujarnya dengan refleks Muhi mencubit pelan lengan Yegi.
“Mas ini bilang kayak gitu terus, nanti aku beneran percaya loh.” Ucap Muhi kemudian membuang muka, hal itu membuat Yegi tersenyum merasakan kehangatan disetiap rasa malu yang Muhi tunjukkan.
“Memang Mas ingin kamu percaya. Karena Mas gak cuma pacaran sama kamu buat hari ini. Mas ingin, kamu di setiap halaman hidup Mas, kamu ada di dalamnya. Mas ingin, setiap Sabtu sore, kita book date. Entah di toko buku, kafe, atau ruang baca di hati masing-masing.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
De TodoSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
