Muhi melangkah dengan santai, setelah acara kumpul-kumpul selesai. Pikirannya masih penuh dengan obrolan ringan tadi, tawa temen-temennya, dan sedikit rasa penasaran soal Yegi. Tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar seseorang memanggil namanya.
“Muhi!” Geram gadis itu membuatnya berhenti dan seketika menoleh. Muhi tidak mengenal gadis di hadapannya ini, tapi ekspresi wajahnya yang tampak memerah sudah cukup membuat Muhi berdecak.
"Lo ngapain manggil nama gue kaya gitu? Sedakan disini Gue nggak kenal lo." Jawab dengan nada datar mencoba untuk menghindari perbincangan yang memang tidak penting.
“Jangan sok nggak kenal ya! Lo pikir gue nggak tahu? Lo pacaran sama Yegi, kan?” Teriak gadis itu mulai emosi, suaranya makin meninggi, membuat Muhi muak.
Muhi yang memang sedari awal sedang mengalah mood yang baik, ia hanya menyandarkan diri di tembok.
"Eh, lo siapa kocak?." Protes Muhi masih dengan nada datar, hampir terdengar sangat tidak peduli.
“Jangan pura-pura nggak tahu! Gue udah lihat lo berdua! Lo bohongin gue, kan?”. Gadis itu terus menerus mengajukan argumennya, kemudian ia mendekat dengan wajah penuh amarah.
Muhi hanya berdiam diri, memberikan sedikit senyuman di sela-sela emosi gadis tersebut.
“Gue nggak pacaran sama siapa-siapa, dan gue nggak ngerti kenapa lo bersikap kayak gini.” jawabnya kasar, tetap berusaha menjaga jarak.
“Jangan sok nggak tahu diri, lo! Gue tahu lo sama Yegi tuh pacaran! Kalau lo nggak bisa jujur, lebih baik kita nggak usah ngomong lagi!.” Putusnya sembari berbalik dan pergi dengan cepat.
Muhi hanya melihay gadia Itu pergi tanpa menjelaskan apapun. Beberapa detik kemudian, Muhi bisa menghela napas panjang. Semua kejadian tadi bener-bener membuatnya merasa kesal, dan dia masih tidak ngerti apa yang baru aja terjadi.
Sesampainya di rumah, Muhi duduk di depan ponselnya. Ada beberapa pesan dari Yegi, hanya saja Muhi menatapnya dengan kosong. Rasanya tidak ada yang spesial lagi dari semua ini.
Tanpa pikir panjang, Muhi buka aplikasi pesan, cari nama Yegi, lalu tanpa ragu langsung ngeblokir kontaknya.
"Yaudah deh, gue nggak butuh drama kayak gini." kata Muhi dalam hati, sambil memutuskan untuk menutup bab itu. Dia nggak peduli lagi, yang penting hidupnya harus terus jalan.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian dengan gadis yang mengaku pacarnya Yegi. Muhi merasa semakin bingung dan kesal. Perasaan yang semula dia anggap tidak penting kini mulai mengusik hatinya. Ia merasa cemas tanpa alasan yang jelas, apalagi setelah kejadian itu. Yegi yang tiba-tiba menghilang, dan Muhi hanya bisa berpura-pura tidak peduli. Tetapi, semakin lama, Muhi merasa ada yang hilang. Sesuatu yang seharusnya ada di sana.
Suatu hari, setelah pulang kerja, Muhi sedang duduk di ruang kerjanya, mencoba menenangkan diri setelah hari yang panjang. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka. Tanpa menunggu lama, Yegi masuk dengan ekspresi serius di wajahnya.
“Mas Yegi,” Gumam Muhi, dengan suara pelan, namun tegas. Ia menatap Yegi dengan tatapan tajam, seakan ingin menuntut penjelasan atas semuanya.
Yegi hanya mampi berdiri di depannya, mengamati Muhi dengan tatapan penuh arti. “Kenapa lo nyalahin gue, Muhi? Lo nggak ngerti gimana perasaan gue waktu itu. Gue nggak pernah mau bikin lo salah paham,” ucapnya, suara Yegi terdengar lebih lembut, namun ada kesan kesedihan yang ia coba sembunyikan.
Muhi terdiam sejenak, merasa kata-kata Yegi benar-benar memukul hatinya. Ia tidak bisa menahan kecewa, merasa dikhianati meskipun sebenarnya ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. “Gue nggak nyalahin lo, Mas. Cuma, lo harus ngerti juga, kalau gue nggak suka dengan yang kayak gitu. gadis tiba-tiba datang marah-marah, dan tiba-tiba ngaku pacar lo. Itu bikin gue bingung, Sialan.” Ucap gadis itu dengan nada dingin, meskipun di dalam hatinya ia tahu ada rasa cemburu yang tidak bisa ia ungkapkan. Yegi diam, menunduk sejenak, kemudian mengangkat wajahnya dengan tatapan penuh penyesalan.
“Dek, Mas ngerti, Mas nggak seharusnya bikin kami ngerasa kayak gitu. Tapi Mas janji, itu bukan kayak yang kamu kira.”
Ujar Yegi, dengan nada yang membuat Muhi luluh namun lagi-lagi Muhi hanya menarik napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi.
"Mas Yegi, lo gak bisa cuma ngomong begitu aja. Ini bukan soal lo ngakuin atau enggak, ini soal perasaan gue yang nggak bisa lo ngerti."
Setelah beberapa detik, Muhi merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Yegi sudah mencoba menjelaskan, tapi kenapa ia masih merasa marah? Kenapa hatinya masih tidak tenang? Seharusnya, ia bisa lebih terbuka dan tidak terlalu keras. Tapi entah kenapa, ia merasa ada yang hilang, seolah ia merasa kehilangan sesuatu yang penting. Tanpa sadar, ia sudah membiarkan dinding di antara mereka semakin tinggi.
“Gue nggak tahu kenapa lo selalu bikin gue bingung, Mas,” kata Muhi dengan nada yang lebih lembut. “Lo datang dan tiba-tiba semuanya berubah. Sekarang lo pergi lagi tanpa kabar. Gue nggak ngerti apa yang lo mau, tapi satu hal yang pasti, gue jadi merasa kayak… nggak berarti apa-apa buat lo.”
Yegi menatap Muhi, merasa perasaan yang sama mulai menghantui dirinya. Dia tahu, Muhi benar. Mungkin dia sudah terlalu egois dan tidak memperhatikan perasaan Muhi. "Dek, Mas nggak mau kamu ngerasa kayak gitu. Mas, juga merasa kehilangan kamu." jawab Yegi dengan nada yang pelan.
Namun, setelah itu, mereka hanya terdiam. Waktu seakan berhenti, dan Muhi merasakan kekosongan yang tiba-tiba datang dalam dirinya. Rasa kecewa yang ia pendam ternyata adalah rasa cinta yang ia coba hindari. Ia tidak bisa menyangkalnya lagi, bahwa ia mulai jatuh hati pada Yegi.
Sayangnya, Yegi tidak bisa merasakan hal yang sama. Mereka hanya berdiam diri, tidak tahu bagaimana cara melanjutkan pembicaraan. Keduanya merasa terjebak dalam kebingungannya masing-masing.
“Gue nggak tahu, Mas Yegi. Mungkin, kita memang nggak bisa jadi apa-apa,” kata Muhi pelan, sambil memalingkan wajah, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh.
Yegi menghela napas, merasakan kesedihan yang mendalam. "Gue nggak mau kayak gitu, Muhi. Tapi, gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin," ujarnya, dan akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan Muhi yang masih terdiam, menatap punggung Yegi yang semakin menjauh.
Ucapan Yegi yang terus berubah, ubah. Nama panggilan yang selalu ia ubah dalam sekejap membuat Muhi benar-benar gila, ia tak tau kedepannya akan seperti apa.
Setelah Yegi benar-benar pergi, Muhi kembali menduduki kursinya, merasakan kesepian yang begitu berat. Ia akhirnya sadar, meskipun ia sudah berusaha mengabaikannya, perasaan itu semakin besar. Perasaan yang ia coba hindari, tapi akhirnya tak bisa ditahan lagi. Muhi mulai sadar, bahwa mungkin ia memang sudah jatuh cinta pada Yegi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
De TodoSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
