16. Lagi?

46 40 4
                                        

Saat kamu hanya bisa memendam perasaan kepada seseorang, saat itu juga, kamu harus siap melihat dia bersama yang lain.

Pagi ini Muhi dan Syahrul sengaja untuk bertemu lagi, setidaknya mereka bisa menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama tak saling bersua. Gadis itu dengan cepat memilih pakaian, berkali-kali mengganti pakaian hingga menemukan pakaian yang ia yakin akan membuat Pemuda itu menyukainya. Gadis itu tampak manis dengan dress cantik berwarna biru, warna yang memang sampai saat ini menjadi warna kegemaran keduanya.

Muhi berjalan pelan di sepanjang trotoar kota, matanya menangkap setiap rincian yang kini terasa asing—meski ini adalah jalan yang sering ia lewati. Pagi yang menyejukkan mengusap lembut wajahnya. Tak jauh di depannya, Syahrul sudah menunggunya dengan senyum yang familiar, seperti dulu. Senyum yang selalu bisa menghapus semua kebingungannya.

"Maaf kalau aku mengganggu," kata Syahrul, mengangkat alisnya dengan cara yang selalu membuat Muhi merasa nyaman. "Kamu nggak keberatan kalau kita sementara jalan-jalan sebentar, kan?"

Muhi hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Syahrul. Mereka berjalan berdampingan, tak lagi terburu-buru seperti dulu, tak ada rasa canggung meskipun sudah lama tidak berjumpa. Seiring berjalannya waktu, perasaan yang sempat tertahan itu perlahan mulai mengalir kembali, membentuk kenangan-kenangan lama yang telah lama terkubur dalam pikiran mereka.

"Kadang aku berpikir, kita sudah berubah banyak ya?" Lontar Syahrul, sambil menatap indahnya dedaunan di atas sana.

Muhi tersenyum kecil. "Mungkin, tapi tidak semuanya berubah." Suaranya lembut, tapi cukup jelas untuk membuat Syahrul menoleh padanya.

"Yang pasti, kita masih bisa duduk bersama dan merasa seperti dulu," Syahrul menambahkan, suara penuh kehangatan.

Mereka berhenti di sebuah kafe kecil yang pernah mereka datangi berulang kali, tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam, berbicara tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi yang sering mereka bicarakan bersama.

"Kamu masi ingat tempat ini?" Muhi bertanya sambil melirik ke arah meja yang biasa mereka duduki.

Syahrul tertawa pelan. "Tentu. Kita bahkan sering tidak mempedulikan waktu di sini."

Kemudian mereka duduk, menyaksikan banyaknga anak muda gang tengah bercanda tawa di sekelilinh mereka. Di meja itu, mereka memesan dua cangkir kopi, tidak ada obrolan berat, hanya percakapan ringan tentang hari-hari yang telah berlalu. Tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang teman-teman yang semakin sibuk, dan segala hal yang terjadi tanpa mereka sadari.

"Bagaimana dengan kamu?," tanya Syahrul, setelah beberapa lama terdiam. "Kamu bahagia?"

Muhi tertegun sejenak, menatap cangkir kopinya yang kini tengah ia pegang. "Aku, mulai bisa merasakannya," jawabnya pelan. "Mungkin ini yang dibutuhkan. Waktu."

Syahrul tersenyum. "Terkadang, waktu adalah cara terbaik untuk menemukan kembali diri kita."

Mereka menghabiskan waktu itu dengan kebersamaan yang tanpa tekanan, berbicara tentang segala hal yang terasa ringan, seolah waktu yang terlewatkan begitu saja tidak pernah ada. Malam semakin larut, tetapi kedekatan itu terasa begitu hangat, lebih dari sekadar kenangan yang terpendam.

Tak ada janji yang diucapkan, tak ada kata-kata besar yang mengikat, hanya dua jiwa yang kembali saling berbagi kehadiran. Mungkin mereka tak lagi seperti dulu, namun hari itu, mereka kembali menemukan cara untuk berbicara tanpa perlu kata-kata yang terlalu banyak.Menghabiskan waktu bersama, sekadar untuk menikmati kehadiran satu sama lain, adalah hal yang cukup.

Sore itu Muhi dan Syahrul memutuskan untuk mengunjungi SMA bangsa negara sekolah yang penuh dengan mecerian dan kenangan mereka bersama, di taman sekolah yang kini telah sunyi, Muhi berdiri di dinding kelad dengan mata terpejam, membiarkan angin sore mengusap wajahnya. Di kejauhan, langkah seseorang mulai terdengar, langkah yang selalu ia kenali—meski kini sudah lama tak mereka rasakan bersama. Syahrul, yang kini datang dengan senyum khasnya, membawakan seikat Lolipop seperti yang telah pemuda itu janjikan sebelum Muhi menyetujui untuk datang ke tempat itu seperti matahari yang muncul setelah hujan.

"Marmut!" Suara Syahrul memecah keheningan, disertai tawa ringan yang mengingatkannya pada hari-hari penuh kebebasan itu hari-hari yang selalu Muhi rindukan. Bahkan panggilan itu mampu membuat Muhi tersenyum tulus, bayangan saat mereka masih bersama dulu terpampang jelas di hadapannya.

Muhi membuka matanya dan menatap Syahrul dengan ekspresi tak bisa menahan senyum. "Onta!" jawabnya tanpa sadar, menyebutnya dengan panggilan yang selalu membuatnya tersenyum geli, dulu mereka selalu mendapatkan sorakan karena panggilan yang terkesan unik dan nyeleneh itu namun sekarang ia sangat merindukan memanggil pemuda itu dengan sebutan konyil yang dulu ia berikan.

Syahrul mendekat dengan langkah santai, senyumnya tak pernah berubah. "Kamu masih ingat, ya?" katanya, sambil duduk di sebelah Muhi sembari memberikan seikat lolipop.

"Bagaimana mungkin aku lupa? Dari dulu kamu panggil aku Marmut, dan aku selalu panggil kamu Onta. Itu sudah jadi kebiasaan, btw makasi lolipopnya," jawab Muhi, suara penuh kehangatan. Lalu membuka satu lolipop kemudian memberikannya kepada Syahrul. "Nih, upah kamu karena udah beliin aku lolipop."

"Bener si aku aja ngga bisa lup–, thanks ya lolipopnya," Syahrul tertawa, matanya mengedipkan kenangan yang tak pernah pudar. "Kamu tahu kan, kenapa aku panggil kamu Marmut? Karena kamu itu selalu ceria, selalu penuh energi, seperti marmut yang lari ke sana kemari." Lanjutnya membuat Muhi tertawa pelan, merasakan kehangatan dari kata-kata Syahrul.

"Dan kamu, Onta, karena kamu selalu tenang, seolah tak ada yang bisa menggoyahkanmu, bahkan kalau dunia sedang berputar cepat sekalipun."

Syahrul mengangguk, matanya merenung sejenak, seolah mengenang masa lalu yang tak bisa diulang.

"Iya, kita dulu memang seperti itu. Kamu dengan keceriaanmu, aku dengan ketenanganku. Mungkin itulah yang membuat kita saling melengkapi."

Muhi menatap Syahrul, kemudian terdiam sejenak. "Dulu, rasanya semuanya lebih sederhana. Kita tidak terlalu memikirkan apapun selain bagaimana membuat hari-hari kita lebih berwarna. Bahkan, kebiasaan panggilan ini pun menjadi cara kita untuk tetap dekat meski dunia terus berubah."

Syahrul tersenyum lagi, senyuman yang hangat, yang tak pernah benar-benar hilang. "Iya, waktu itu kita tidak peduli tentang masa depan, tentang apa yang akan terjadi. Yang kita tahu hanya, kita saling berbagi momen ini, dan itu sudah cukup."

Mereka terdiam, menikmati kebersamaan yang tidak perlu banyak kata. Hanya ada senyum dan tawa, dan panggilan-panggilan yang membawa mereka kembali ke masa yang dulu terasa begitu indah.

"Marmut," Syahrul berkata pelan, menatap Muhi dengan serius, namun mata itu tetap penuh kehangatan. "Aku senang kita bisa bertemu lagi, setelah sekian lama."

Muhi memandangnya dengan lembut, senyum tipis muncul di wajahnya. "Aku juga, Onta. Kadang, pertemuan itu hanya perlu waktu, bukan?"

Di bawah langit senja yang semakin meredup, mereka duduk bersama, dalam keheningan yang penuh makna. Tak perlu kata-kata lebih, karena mereka tahu, dalam setiap pertemuan, selalu ada kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Panggilan itu—Marmut dan Onta—adalah pengingat dari sebuah masa yang tak akan terlupakan.

Badai Kepulangan.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang