Aku masih merindukanmu—merindukan setiap tawa yang kau lepaskan, merindukan setiap candaan kecil yang selalu menghiasi hariku. Kini, semua itu hanyalah kenangan yang samar, tetapi tak pernah benar-benar pudar.
—Muhi
---
"Jadi?"
"Apa?"
"Siapa wanita yang dulu bersamamu?" tanya Muhi, suaranya pelan namun jelas mengandung pertanyaan yang sudah lama membebaninya.
Mereka baru saja selesai berbelanja. Muhi masih menahan rasa kesal. Jovan, yang awalnya dengan senang hati menjemputnya, tiba-tiba menerima telepon mendadak dan meninggalkannya sendirian di depan toko. Saat tengah memilih pakaian, pandangan Muhi tiba-tiba menangkap sosok yang dikenalnya—gadis itu.
Gadis yang dulu ia curigai sebagai orang ketiga. Sosok yang menghancurkan hubungannya dengan Syahrul.
Ketika mereka akhirnya saling berhadapan, Muhi tetap diam. Namun gadis itu, tanpa menyadari ketegangan yang terasa di udara, tersenyum lebar, seolah menyapa teman lama.
“Kak, Kakak itu mantannya Kak Syahrul, kan? Yang mutusin Kak Syahrul gara-gara lihat aku sama dia di taman?” tanyanya, dengan nada ceria yang membuat hati Muhi terasa perih.
Muhi hanya terpaku. Pertanyaan itu seperti menamparnya, membuka kembali luka lama yang sudah berusaha ia kubur. Namun, sebelum Muhi sempat menjawab, gadis itu melanjutkan. Senyumnya memudar perlahan, berganti dengan raut wajah yang penuh rasa bersalah.
“Maaf banget, Kak. Aku nggak tahu kalau waktu itu bakal bikin Kakak salah paham,” ucapnya dengan suara pelan, sambil menundukkan kepala. Tangannya sibuk memainkan kukunya, mencerminkan kegelisahan yang mendalam.
“Maaf? Untuk apa?” Suara Muhi bergetar. Ia berusaha menahan emosi yang bergejolak, tetapi rasa sakit di dadanya sulit ia sembunyikan.
“Waktu itu aku lagi ribut sama pacarku,” ujar gadis itu akhirnya. “Aku minta tolong Kak Syahrul untuk pura-pura jadi pacarku supaya pacarku cemburu.”
Penjelasan itu menghentikan waktu bagi Muhi. Kata-kata gadis itu menghantamnya seperti badai. Jantungnya berdegup kencang, tetapi bukan karena marah—melainkan karena rasa bersalah yang begitu besar menyeruak, menghancurkan semua prasangka yang selama ini ia genggam erat.
“T-tapi…” Suara Muhi terdengar patah-patah. Kenangan masa lalu muncul satu per satu di benaknya—tangis, pertengkaran, dan keputusan tergesa-gesa untuk meninggalkan Syahrul tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Seolah semuanya belum cukup menyakitkan, Syahrul tiba-tiba muncul di tempat yang sama, wajahnya tampak bingung namun tetap tenang. Gadis itu segera melibatkan Syahrul, memperjelas semuanya.
“Bukannya dia sudah jelaskan? Aku hanya sepupunya,” ujar Syahrul dengan nada datar, meskipun terselip sedikit rasa kesal. Tatapannya mengarah pada Muhi, seakan mengatakan sesuatu yang tak terucapkan—campuran kekecewaan dan penantian.
“Oh.” Hanya itu yang bisa Muhi katakan.
Sebuah kata sederhana, tetapi menyimpan begitu banyak emosi—rasa malu, sesal, dan kesedihan yang tak bisa ia ungkapkan.
Saat mereka melangkah keluar toko, Muhi hanya diam, menunduk, membiarkan rasa bersalah terus menghantam dirinya. Gadis itu telah meminta maaf, Syahrul telah menjelaskan, tetapi semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa Muhi telah menghancurkan hubungan mereka karena prasangka yang ia buat sendiri.
Dan kini, ia hanya bisa meratapi kenangan—tawa dan candaan kecil yang pernah ada, tetapi takkan pernah kembali.
Di sebuah taman yang hampir terlupakan, di mana langit senja menggenggam warna jingga yang tak sempurna, Muhi duduk seorang diri. Dulu, tempat ini adalah saksi bisu akan tawa dan cerita yang mereka bagi, di antara jejak langkah yang kini mulai terhapus oleh waktu. Angin sore membawa semilir yang menyentuh kulitnya, namun hatinya tetap dingin.
Pemuda itu datang, langkahnya pelan namun pasti. Matanya masih mencari-cari, seakan ingin memastikan bahwa Muhi benar-benar ada di sana, di tempat yang sama seperti dulu. Ia duduk di sampingnya, hati berdebar seperti detak jam yang tak bisa ia hentikan.
"Maaf, aku terlambat." Ujar pemuda itu dengan suaranya mulai tercekat, mencoba menjelaskan sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Muhi hanya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa," jawabnya, walau dalam hatinya ada serpihan rindu yang sempat ia kubur dalam-dalam.
Sesaat, keheningan menyelimuti mereka. Hanya terdengar gemericik air di danau kecil itu, seperti bisikan yang tak ingin terdengar.
"Dulu, aku kira kita hanya salah arah. Aku kira aku yang salah, membuatmu pergi tanpa alasan."
Ungkap pemuda itu memecah keheningan, suara hatinya yang tak bisa lagi ia tahan.
Muhi menunduk, meraba kenangan yang tersembunyi di balik kata-kata itu. "Aku bukan pergi, Syahrul," jawabnya pelan, "Aku hanya, takut. Takut kita hanya terjebak dalam kebisuan yang tak pernah kita pahami."
Syahrul terdiam sejenak, mengerti bahwa ada begitu banyak yang tak sempat mereka ucapkan. "Aku juga takut," katanya lirih, "Takut kita akan saling menghilang tanpa pernah benar-benar tahu alasan kita berhenti."
Muhi menatap pemuda yang ia sebut sebagai mantan itu, matanya memantulkan cahaya senja yang mulai memudar.
"Ternyata, kita hanya terperangkap dalam bayang-bayang yang kita buat sendiri," ujar Muhi pelan, sembari mengamati indahnya masa lalu yang selalu ingin ia miliki lagi.
"
Kita lupa bahwa kadang, kebisuan bukanlah jawaban. Kita terlalu lama saling menunggu, tapi tak ada yang berani bergerak." Lanjutnya, Syahrul hanya mengangguk pelan, matanya menelusuri langit yang kini mulai gelap.
"Jadi, ini hanya salah paham?" Tanyanya, suara lembut seperti hembusan angin yang membawa harapan. Dengan senyum manis yang seakan enggan untuk tertahan meski hanya sebentar.
"Iya," jawab Syahrul, suaranya kini penuh kelegaan, "Hanya salah paham yang membuat kita terpisah begitu lama."
Mereka duduk diam, namun kali ini tidak ada jarak. Hati mereka saling memahami, tanpa perlu berkata apa-apa lagi.
Ketika senja akhirnya menyerah pada malam, mereka berjalan bersama, menapaki jejak yang sempat terhenti. Tidak ada janji untuk kembali seperti dulu, hanya ada langkah yang lebih pasti—Karena mereka tahu, dalam setiap pertemuan, ada ruang untuk saling memahami, bahkan setelah segala yang terlupakan.
Dan malam itu, di bawah langit yang bertabur bintang, mereka menyadari bahwa mungkin, perpisahan hanya akan mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap detik yang kita miliki.
Siapa yang mau ikut kapalnya
Onmut yuuu² vote & komen yaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Badai Kepulangan.
RandomSemuanya Hanya Tentangmu Muhi, seorang gadis yang tenggelam dalam keputusasaan, berdiri di tepi hidupnya sendiri, siap melangkah menuju akhir. Namun, di detik terakhir, seorang pemuda menghentikannya. Dia duduk di sampingnya, memeluk tubuh mungil Mu...
