35. Affection

39.3K 3.2K 88
                                        

haloww~ aku balik lagi~

terimakasiii atas komennya, karena kalian antusias aku jadi semangat 😋

Happy Reading!
-✦◌✦-
🤎🐻

Levan melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, sedang sepasang iris legamnya terus memandang lurus kedepan tanpa ekspresi.

Meski terlihat tenang, namun aura kemarahan yang tertahan jelas menguar dari sosoknya yang dominan. David yang mengikuti dari belakang bahkan dibuat menelan ludah. Ia tetap tak akan pernah bisa terbiasa, melihat kemarahan dari sosok sang Tuan yang selama ini telah ia layani.

Mereka kini tengah menyusuri lorong rumah sakit bagian VIP milik keluarga Wang, menuju ruangan tempat Lou di rawat atas perintah langsung Levan pada Felix. Alter juga telah ditangani, dan ruang rawatnya juga sama-sama berada dilantai ini.

Lean belum diberitahu apapun tentang kejadian ini, karena nanti ia masih harus menghadiri rapat penting yang tak mungkin untuk dibatalkan secara tiba-tiba.

Sesampainya di depan pintu ruang rawat Lou, Felix yang baru saja keluar langsung menunduk dalam melihat kedatangan Levan.

"Apa anak itu masih berada di sekolah?" Levan bertanya tanpa basa-basi, menatap dingin Felix yang masih menunduk dalam.

"Ya, Tuan." jawab Felix, mengerti siapa yang di maksud oleh sang Tuan.

Levan berjalan melewati Felix, kemudian membuka pintu ruang rawat bayinya. "Kembali kesana, dan beri balasan yang setimpal. Atas perbuatannya pada Tuan muda yang telah kau jaga dan rawat selama ini."

Mendengar perintah Levan, yang secara tidak langsung memberi kebebasan pada Felix untuk membalas perbuatan Nicho. Membuat David sedikit menegang.

Felix segera menegakkan tubuh, menatap punggung lebar Levan yang langsung melangkah masuk. "Terimakasih atas perintah Anda, Tuan."

Dalam sekejap ekspresi Felix tenang langsung berubah. David yang hendak menyusul Levan bahkan dibuat bergidik, saat dirinya dan Felix sama-sama menundukkan kepala formal untuk saling berpamitan.

Habis sudah kesabaran Levan, ia tak lagi peduli meski Felix nanti akan membabi buta membalas anak itu dihadapan orang-orang. Kali ini Levan akan menunjukkan dengan terang-terangan, pembalasan seperti apa yang akan diterima jika berani mengusik para keturunan keluarga Wang.

✦◌✦

Di dalam ruang rawat Lou yang begitu luas dengan fasilitas super lengkap. Levan yang baru saja masuk dibuat harus menghentikan langkah, saat melihat bayi beruangnya segera bersembunyi dibalik selimut begitu melihat kedatangannya.

"Papa seram jangan dekat-dekat Loulou." ucap Lou dari balik selimut, merasa tak nyaman akibat aura yang dikeluarkan oleh sang Papa.

Mendengar ucapan si bayi, Levan justru dibuat semakin gelap mata. Karena meski sekilas bisa melihat dengan jelas, bekas tamparan pada pipi chubby yang biasanya akan menggembung merajuk kepadanya.

Serta sebuah luka kecil pada bibir mungil, yang seharusnya digunakan hanya untuk merengek dan minum susu, bukan untuk terluka.

"Lou tidak sayang Papa ternyata." Levan kembali melanjutkan langkahnya, mendekati si bayi yang berganti meremat selimut.

"Kenapa Papa bilang seperti itu?!" seru Lou tak terima, langsung keluar dari balik selimut menatap Levan.

Bukannya menjawab, Levan kini langsung membungkuk, menahan wajah bayinya dengan kedua tangan. Lou meringis kecil, saat pinggir bibirnya yang telah diobati diusap pelan oleh Levan.

LOUISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang