43. Not friendly

32K 2.7K 127
                                        

Happy Reading!
✦◌✦
🤎🐻


Hari sudah menjelang sore, warna keemasan dari sinar matahari mulai mendominasi luasnya langit. Seharian ini, para wanita telah menghabiskan sebagian waktu mereka di rumah kaca milik Gloria. Mengadakan acara minum teh ditemani topik perbincangan yang seakan tak pernah habis.

Sedangkan untuk para pria, untuk sekarang mereka tengah mengisi aktifitas dengan bersantai di ruangan Weimin. Setelah tadi bermain billiard bersama dengan para remaja yang juga ikut bergabung.

Suara ketukan terdengar pada pintu ruangan Weimin, menarik atensi dari pembicaraan ringan yang sedang berlangsung di dalam ruangan itu.

"Masuk." Weimin membuka suara, sembari meletakkan secangkir kopi yang baru saja ia minum.

Pintu ruangan terbuka, menampilkan wajah bulat Lou yang menyembul dari balik pintu. Tersenyum lebar, anak itu langsung membawa langkah kecilnya memasuki ruangan.

"Papa~" suara Lou mengalun merdu, menyapa Levan yang langsung merentangkan tangan menyambut kedatangannya.

Sebuah senyum kecil langsung terbit di wajah Weimin dan Leovan yang memperhatikan. Keduanya saling melempar pandang, dengan Weimin yang menampilkan wajah bangga melihat perlakuan manis Levan pada sang cucu.

"Sudah ganti baju?" Levan segera mengangkat Lou keatas pangkuan, membawa tubuh mungilnya yang mengenakan hoodie kebesaran kedalam dekapan.

"Sudah, sama Mama." Lou mendongak, menatap lugu sang Papa yang tengah menghirup aroma manis dari rambutnya.

"Papa?"

"Hm?" Jemari panjang Levan beralih menyingkap poni depan Lou, dengan sepasang mata tajamnya membalas tatapan si bayi.

Plester penurun panas sudah tak lagi menghiasi dahi bayi itu, karena kondisinya yang begitu cepat membaik setelah terus dipaksa untuk meminum obat.

"Lou mau minta izin, boleh?"

"Minta izin untuk apa?"

Lou menggoyangkan lengan Levan. "Papa jawab dulu, boleh atau tidak?"

"Katakan dengan jelas."

Lou segera menunduk, saat menyadari bahwa raut wajah sang Papa perlahan berubah datar.

"Lou mau ikut kakak." cicit Lou, mulai memainkan kedua tangan mungilnya.

"Kemana?"

"Keluar, sama kak Lion sama kak Dave juga."

"Untuk apa?" Leovan ikut bertanya, merasa heran saat mendengar jika Dave anaknya yang paling pemalas tiba-tiba saja mau keluar.

Lou menoleh pada Leovan, sebelum kemudian kembali menunduk. "Kakak bilang mau beli camilan buat nanti malam." jawabnya, masih dengan suara kecil.

Sebenarnya, Dave ataupun Lion itu sama-sama pemalasnya. Namun karena tadi mereka kalah tanding bermain game dari Ravel dan Darel, mereka kini terpaksa harus menuruti keinginan keduanya untuk keluar membeli camilan serta minuman soda kaleng.

Dan entah bagaimana bisa, Lou secara tidak sengaja mendengar percakapan Lion dan Dave. Hingga anak itu langsung merengek untuk ikut.

"Cucu Opa sangat ingin ikut, ya?" Weimin pun ikut bersuara, menatap Lou yang terlihat menganggukkan kepala.

"Papa? Lou tidak boleh ikut, ya?" Lou perlahan kembali mengangkat pandangan, karena Levan hanya diam tak menanggapi.

Pandangan Levan masih datar, mengunci dalam tatapan takut bayinya yang menanti jawaban dengan kedua tangan mungil saling meremas.

LOUISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang