hai,
mana yang sebel karena aku upnya ketunda terus, tabok ravel aja sini 😔
Happy Reading!
✦✦◌✦✦
🤎🐻
ㅤㅤ
Di area lorong sayap kanan mansion yang sepi, Lion bersandar pada dinding dengan kedua tangan yang bersedekap dada. Wajahnya datar, memandang dengan kilat tajam pada Jake yang berdiri dihadapannya saat ini.
"Aku, cemburu."
"Cemburu? Pada siapa?"
Jake mendelik tipis, terlihat jelas sangat enggan untuk melanjutkan percakapan ini.
"Jelaskan." nada rendah Lion kembali mengudara, tak ingin dibantah. Raut wajahnya masih kaku, menuntut jawaban dari ungkapan Jake barusan. Akan penjelasan yang ia minta.
Jake mendengus, membuang pandangan. Tak ingin menatap Lion sebelum kembali berucap, "aku cemburu. Bocah cengeng itu selalu memusuhiku, bahkan selalu berusaha mengabaikanku."
"Sedangkan saat bersama kalian, dia akan bertingkah manis dengan dengkuran manja seperti anak kucing." ketus Jake, bergumam melanjutkan. Mengusap ujung hidungnya kesal dengan raut wajah yang suram.
Terlihat jelas seperti seorang bocah yang sedang merajuk, karena dipaksa untuk mengakui kesalahan oleh sang Ibu.
Tubuh Lion perlahan berdiri tegak, mendengarkan setiap kata yang Jake ungkapkan dengan nada penuh keengganan. Seakan, rahasianya ini adalah beban terberat yang sudah begitu lama ia pendam dalam hidupnya.
"Dia? Dia siapa?" tanya Lion kemudian, meski sudah bisa menyimpulkan siapa seseorang yang saat ini Jake bahas.
Jake menatap Lion dengan pandangan tak percaya, lalu berubah menjadi kilat tak bersahabat. Sadar jika sang kakak sedang memancingnya untuk semakin berkata jujur.
"Kakak pikir, siapa lagi bocah cengeng yang aku kenal di dunia ini?!"
"Mm." Lion sedikit mengalihkan pandangan, pura-pura memasang wajah seolah sedang berpikir.
Sebelumnya, Lion tidak terlalu memperhatikan hal ini. Yang ia tahu, Lou dan Jake saat kecil memang sering bertengkar setiap keduanya bermain bersama. Jake, yang keras kepala dengan sifat nakal dan jahil sejak lahir, selalu saja mengganggu dan berebut mainan dengan Lou.
Dan itu selalu berakhir dengan Lou yang menangis kalah, hingga ia tidak mau lagi bermain dengan Jake. Semakin beranjak dewasa, hubungan keduanya justru semakin berjarak, sangat kontras dengan hubungan para saudara yang lain.
Lion dan yang lain awalnya tidak terlalu memikirkan hal ini, mereka merasa cukup wajar jika Lou dan Jake tidak terlalu akur.
Sifat keduanya sama-sama sulit untuk mengalah, tidak cocok. Lou yang sangat perasa, begitu sensitif atau sederhananya memang cengeng. Tentu sangat bertolak belakang dengan sifat Jake, yang pada dasarnya ia memang sosok yang keras. Hingga terbiasa tak begitu mengutamakan perasaan lawan bicaranya.
Namun kini, Lion sungguh dibuat tak menyangka. Jika selama ini, Jake ternyata begitu menginginkan sosok Lou sebagai seorang adik. Ingin bocah yang selalu ia katai cengeng itu untuk ikut menganggap dirinya sebagai seorang kakak, seperti yang lain.
Jake ingin dekat dengan Lou seperti yang lain, namun ia tak tahu caranya dan justru membuat Lou semakin menjauhi.
Sekarang Lion sepertinya mengerti. Kenapa setiap bermain bersama dulu Jake selalu membuat Lou menangis, pasti karena Jake tidak terima Lou lebih asik dengan mainan hingga mengabaikan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOUISE
FantasyLouise namanya, seorang bungsu dari salah satu keluarga konglomerat di China. Bocah cengeng kelewat manja yang baru menginjak usia 13 tahun. Lou, adalah pecinta susu strawberry, si kecil yang akan mengaum layaknya bayi beruang jika ia sudah marah. L...
