haloww, selamat malam guysss~
Happy Reading!
—✦◌✦—
🤎🐻
Disaat gelapnya langit mulai disapu pergi oleh sinar matahari pagi, para pekerja di mansion pun tampak sudah mulai sibuk beraktivitas dengan melaksanakan tugas masing-masing.
Karena mansion besar milik Weimin terletak di tengah-tengah kebun anggur, yang luasnya bahkan tak bisa dijangkau oleh pandangan mata. Pemandangan hamparan hijau ribuan pohon anggur yang membentang asri sudah menjadi hal biasa, begitu para pelayan mulai membuka seluruh gorden mewah di mansion tersebut.
Udara segar yang tak tersentuh oleh polusi, ditemani sejuknya hembusan angin musim dingin yang terus menerpa dedaunan pepohonan disekitar. Dengan penjagaan ketat disekitar wilayah hingga tak sembarang orang bisa masuk, Mansion megah ini benar-benar tampak bak sebuah istana yang tersembunyi.
Tempat ini sangat sesuai atas keinginan Weimin dan Gloria, yang sama-sama menyukai ketenangan hingga memilih menjalani kehidupan menjauh dari bisingnya kota.
Berbeda dengan para pekerja serta Nyonya di Mansion ini yang terlihat telah ikut bergabung di dapur, sebagian besar para Tuan serta Tuan muda mereka masih terlelap nyaman di dalam kamar masing-masing.
Karena acara kumpul keluarga besar selalu dilakukan saat libur panjang berlangsung, jadi di saat-saat ini juga menjadi kesempatan untuk mereka bisa beristirahat sepuasnya.
Contoh langsungnya saja Levan, yang saat ini masih terlelap nyaman dibawah selimut meski di sebelahnya si bayi sudah bangun dan terus bergerak kesana kemari. Ini karena semalam ia tidur terlalu larut, demi menonton acara pertandingan bola di ruang keluarga bersama Leovan dan Weimin.
"Papa! Bangun!" seru Lou tiba-tiba, beranjak duduk dengan wajah sebal, menatap sang Papa yang terlihat tak terganggu sama sekali oleh kerusuhannya.
Bosan menunggu Levan yang tak kunjung bangun, Lou memilih meraih sandal bulunya dan mulai beranjak turun dari kasur. Meraih botol susu miliknya yang telah kosong dari atas meja nakas, Lou pun langsung berjalan kearah pintu kamar untuk turun menemui Lovisa.
"Papa semalam tidur jam berapa sih?" Lou bergumam sendiri dengan bibir mencebik. Kaki mungilnya terus melangkah menyusuri lorong kamar, dengan satu tangan yang memegangi botol susu sibuk mengusap pelan mata bulatnya.
Tanpa bayi beruang itu sadari, langkahnya justru dibawa menuju kearah tangga. Lupa jika letak lift disini dan di Mansion miliknya berada diarah yang berbeda. Hingga saat dirinya sudah hampir menginjak anak tangga pertama, tubuh mungilnya tiba-tiba diangkat oleh seseorang dari belakang.
Lou berseru terkejut, menepuk-nepuk kesal tangan seseorang yang saat ini tengah mengangkat tubuh mungilnya.
"Lepas! Lepas!"
Begitu diturunkan dan sepasang kaki pendeknya kembali menapak lantai, Lou segera memutar tubuhnya untuk melihat siapa seseorang yang baru saja membawanya menjauh dari posisi tangga barusan.
"Dasar ceroboh."
Lou seketika melangkah mundur, menjaga jarak begitu tahu siapa yang berada dihadapannya saat ini. Seorang remaja laki-laki dengan surai hitam berantakan khas seseorang yang baru bangun tidur, memandangnya dengan wajah datar dari atas sampai bawah.
Jake, remaja laki-laki itu melangkah maju, mendekati Lou yang kini semakin mundur. "Kenapa kau terus menghindar? Memangnya aku orang jahat?"
"Iya! Jangan dekat-dekat!" balas Lou kesal, menatap tajam Jake yang justru tertawa kecil.
"Kalau aku memang orang jahat memangnya kau mau apa? Mengadu pada Mama dan Papa agar aku dihukum? Begitu, hm?" Jake menyeringai samar, mengejek Lou yang raut wajahnya semakin memerah begitu mendengar ucapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOUISE
Teen FictionLouise namanya, bocah cengeng super manja yang baru menginjak usia 13 tahun. Lou adalah pecinta susu strawberry, si bungsu yang akan mengaum layaknya bayi beruang jika ia sudah marah. Lou itu tipe seorang anak yang selalu menginginkan perhatian lebi...
