32. Eve

50.8K 3.2K 129
                                        

haloww~

oiya oiya, part ini spesial loh 😻👀

Happy Reading!
✦◌✦
🤎🐻

Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Levan yang baru saja selesai mandi. Mengacak surai hitamnya yang masih meneteskan air, tangan Levan mengikat tali bathrobe yang melekat pas ditubuh kekarnya seraya berjalan kearah kasur.

Pandangan Levan yang sebelumnya datar perlahan melunak, saat melihat Lou masih meringkuk nyaman diatas kasur layaknya seorang bayi. Tangan Levan terulur, merapikan rambut Lou yang tampak berantakan, sebelum kemudian beralih mengusap pipi merah anak itu dengan punggung tangannya.

"Time to wake up, bayi beruang." ujar Levan, menyingkap selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuh mungil bayinya.

Lou yang merasa terganggu langsung menggeliat pelan. Mulut mungilnya menguap kecil, dengan sepasang mata bulat yang perlahan ikut mengerjap.

"Selamat pagi." sapa Levan, sembari menahan tangan mungil si bayi yang hendak mengucek matanya.

"Selamat pagi Papa." balas Lou kembali menguap, dengan tangan yang beralih menggenggam jari sang Papa layaknya seorang bayi.

"Lou tidur sama Mama Papa?" Lou menatap sekitar dengan wajah bantalnya, baru menyadari jika ini bukan di kamarnya sendiri.

"Baru sadar, hm?" Levan balas menggenggam hangat tangan mungil bayinya.

Tentang masalah semalam, Lean telah memberitahu Levan akan apa yang terjadi saat mereka di Cafe. Untuk sekarang, Levan hanya akan memberi pemuda itu sebuah peringatan kecil. Mengingat jika Lean telah berhasil menghajarnya sampai masuk ke rumah sakit.

"Papa, Lou semalam pulang jam berapa?"

"Jam sembilan."

"Kenapa Papa tidak marah?" tanya Lou dengan polosnya, membuat Levan langsung mendekatkan wajah. 

"Lou mau Papa marah?"

"Tidak mau, Lou tidak mau Papa marah." balas Lou langsung menggeleng ribut.

Levan menarik senyum kecil. "Papa tidak marah, sekarang ayo mandi." ajaknya kemudian, merentangkan kedua tangan yang langsung disambut oleh si bayi.

"Loulou sayang Papa." Lou segera memeluk leher jenjang Levan, membiarkan tubuh mungilnya diangkat kedalam gendongan koala.

"Papa sayang Loulou juga, tidak?" Lou memiringkan kepala, menatap paras tampan sang Papa agar segera membalas ungkapan sayangnya.

"Papa juga sayang Loulou." balas Levan, menundukkan wajah mengecup pipi chubby si bayi. "Kalau tidak nakal." lanjutnya kemudian, dengan senyum samar yang terkesan jahil.

✦◌✦

Pintu lift terbuka, menampilkan sepasang kaki jenjang Levan yang melangkah keluar diiringi dengan suara ketukan dari sepatu pantofel miliknya. Seperti biasa, setelan jas mahal dari desainer ternama telah melekat dengan sempurna pada tubuh kekar pria itu.

Dalam gendongan koala sang Papa, kedua kaki pendek Lou tampak menendang-nendang udara dengan mulut mungil tersumpal pacifer. Bayi Levan itu kini juga telah rapi dengan seragam sekolahnya, ditambah ia juga mengenakan sebuah cardigan rajut berwarna coklat lembut yang telah disiapkan oleh Lovisa.

Levan membawa langkahnya menuju ruang makan, dimana yang lain ternyata telah berkumpul, dengan Lovisa yang tampak baru selesai menata makanan dibantu oleh para Maid.

LOUISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang