Happy Reading!
✦✦✦
🐻🤎
ㅤㅤ
Atlasio Herlas, nama putra pertama dari kakak laki-laki Lovisa. Atlas, dan keluarganya memilih tinggal di luar negeri karena sang Ayah harus mengurus cabang baru perusahaan yang berada disana. Dan setelah 5 tahun berlalu, akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk kembali ke China dan kembali menetap.
Sejak dulu Lean dan Atlas memang sudah sangat akrab, keduanya selalu saling terbuka satu sama lain. Karena itu, saat Atlas kembali datang ke perusahaan untuk menemui Lean setelah sekian lama, Lean bisa dengan santai menceritakan segala hal tentang Lou.
"Hiks! Papa! Lou mau Papa!" Lou masih menangis, tak peduli meski Atlas mulai kewalahan karena terus menggendongnya kesana kemari. Bahkan saat Chris membujuk dengan susu dan permen jelly kesukaannya, tangis Lou justru semakin menjadi.
"Loulou, nanti tenggorokannya bisa sakit jika terus menangis. Sudah ya sayang?" Atlas mengusap pipi chubby Lou, seraya terus menepuk-nepuk punggung mungilnya agar segera tenang.
Atlas berjalan menuju kaca besar ruangan yang menampilkan suasana kota, dimana saat ini matahari bersinar cukup terik ditengah sibuknya orang-orang yang sedang beraktifitas.
Lou mengalihkan pandangan saat hangat sinar matahari menerpa dirinya dan Atlas, netra emas bocah itu mengintip ramainya kendaraan yang ramai berlalu-lalang dibawah sana.
Namun baru sebentar Lou terdiam, tangisannya kembali pecah saat mengingat jika saat ini dirinya tengah di gendong oleh orang asing.
"Sudah, sudah. Loulou, sudah, ya?" Atlas menghela nafas pelan, melihat Lou yang kembali menangis setelah barusan tak sengaja menatap wajahnya.
"Loulou, ini Kakak, loh. Masa Loulou sudah tidak kenal Kakak lagi sekarang?" tanya Atlas berusaha menarik perhatian, yang bahkan tak dihiraukan sama sekali oleh si bocah.
Meski wajar Lou tak lagi mengenalinya karena pertemuan terakhir mereka adalah beberapa tahun yang lalu, Atlas tetap saja tidak terima.
Penampilan Atlas yang sekarang juga sangat jauh berbeda. Wajah yang semakin menawan dengan potongan rambut yang kekinian, wajar sekali jika Lou sampai tak mengenalinya.
"Kenapa dahimu panas sekali?" gumam Atlas, begitu mengusap rambut depan Lou yang sedikit basah karena keringat. Merasa aneh, ia semakin meraba dahi anak itu yang ternyata memang terasa sangat panas.
Punggung tangan Atlas langsung beralih menyentuh pipi lembut Lou yang tampak memerah, dan seperti dugaan rasa panas seketika menyengat kulit tangannya.
"Loulou demam?!" panik Atlas tiba-tiba, membuat Chris yang sedari tadi memperhatikan dan masih memegangi botol susu ikutan panik.
"Siapa yang demam?"
Suara berat Lean yang baru saja membuka pintu ruangan, langsung mengintrupsi keduanya. Melihat Lou menangis hingga sesenggukan dalam gendongan Atlas, Lean langsung mengambil langkah lebar menghampiri.
"Kakak- hiks! Kakak!" Lou memberontak dari gendongan Atlas, merentangkan kedua tangan mungilnya kearah sang kakak.
"Wait, baby!" Atlas kesulitan menahan tubuh mungil Lou, membuat Lean dengan segera menerima rentangan tangan sang adik dan membawanya kedalam gendongan koala.
"Baby?" ulang Lean, mendelik tajam.
"Loulou kan adikku juga!" dengus Atlas, berkacak pinggang. Merasa sedikit pegal setelah menggendong Lou cukup lama.
Lou memeluk erat leher jenjang Lean, membenamkan wajah sembabnya disana. Lean yang ingin maju untuk menendang kaki jenjang Atlas, langsung terhenti saat kaki mungil si bayi ikut memeluk erat pinggang rampingnya seakan takut ditinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOUISE
FantasyLouise namanya, seorang bungsu dari salah satu keluarga konglomerat di China. Bocah cengeng kelewat manja yang baru menginjak usia 13 tahun. Lou, adalah pecinta susu strawberry, si kecil yang akan mengaum layaknya bayi beruang jika ia sudah marah. L...
