haloww~ kemaren niatnya mau up cepet eh malah kebablasan sampe hari ini,
hehe ><
Happy Reading!
-✦◌✦-
🤎🐻
"Kak Lean akan membawa kita untuk bertemu dengan kekasihnya."
Ravel berbisik pelan tepat di dekat telinga Lou, membuat pupil mata si bayi langsung membulat sempurna. Sedangkan Lion yang memiliki pendengaran tajam, segera memukul pundak Ravel hingga membuat sang kakak langsung meringis.
"Lil bro!" seru Ravel kesal, mengusap pundaknya dengan pelan. "Aku ini kakakmu! Lebih tua darimu! Ingat tidak?!"
"Iya, kata siapa kau Pamanku." balas Lion ringan, mengabaikan tatapan tajam Ravel yang seakan ingin mencakarnya.
Mengabaikan pertengkaran di belakang, Lou kini beralih mendekatkan tubuh pada Lean. "Kakak punya kekasih? Kenapa Lou tidak tahu? Cantik tidak orangnya?"
Mata bulat Lou mengerjap dengan serius, melontarkan pertanyaan beruntun sembari memandang paras tampan Lean yang tengah disorot oleh lampu jalanan.
Lean diam-diam mengumpati Ravel dalam hati, untungnya mobil yang ia kendarai kini telah sampai di depan sebuah Cafe yang terlihat cukup ramai pengunjung.
Melepas sabuk pengaman, Lean segera menoleh pada mata bulat yang masih setia menatapnya. Ia langsung mendekatkan wajah, mencuri kecupan pada hidung mungil Lou hingga membuat si bayi mengerjap.
"Kakak tidak pernah memiliki kekasih, jangan dengarkan ucapan konyol orang tak jelas seperti dia." Lean melirik Ravel kesal sembari melepaskan sabuk pengaman Lou. Menyelipkan tangan diantara kedua tangan si bayi, ia kemudian mengangkat tubuh mungil itu keatas pangkuan menghadap dirinya.
"Hei Big bro, orang tak jelas katamu?" balas Ravel tak terima, namun langsung ciut begitu melihat Lou menoleh padanya dengan wajah garang.
Puk!
"Awh! Bear?! Kakak kan hanya bercanda!" seru Ravel segera mengusap dahi putihnya, yang baru saja terkena lemparan dari beberapa permen strawberry si bayi beruang.
"Lou tidak suka tahu!" balas Lou dengan kedua alis menukik sebal.
"Iya, iya, Kakak salah." Ravel memajukan bibir bawahnya menatap si bayi.
"Sudah, sudah, sayang permennya." tegur Lean, menahan tangan mungil Lou yang hendak kembali mengambil permen dari dalam saku piyamanya.
"Hmphh! Itu permen Lou jangan sampai diinjak!" peringat Lou tajam, saat melihat kaki jenjang Ravel hampir menginjak permen strawberry yang barusan ia lempar.
Ravel berubah mendengus, melihat wajah panik si bayi yang lebih mengkhawatirkan permen dibanding dahinya. "Biar, mau kakak buang saja habis ini." balasnya ketus.
"Kakak!"
"Iya! Iya!" Ravel segera mengalah, ia langsung menunduk dan membantu Lion yang sudah mulai mengumpulkan permen strawberry si bayi.
Tangan besar Lean terangkat, mengapit pipi tumpah Lou agar menatap dirinya. "Siapa yang mengizinkanmu membawa permen sebanyak itu?"
Lou justru mencebikkan bibir. "Itu Kak Ravel mau buang permen Lou." adunya, menunjuk Ravel yang segera menggeleng ribut.
"Buang saja." balas Lean datar. Tanpa memperdulikan mata bulat si bayi yang mulai berkaca-kaca, tangannya segera bergerak membuka pintu mobil.
"Kakak~" Lou merengek lirih, saat Lean justru menggendongnya turun dari mobil. Lean hanya semakin mendekap si bayi, menyelimuti tubuh mungilnya dengan mantel yang ia kenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOUISE
Novela JuvenilLouise namanya, bocah cengeng super manja yang baru menginjak usia 13 tahun. Lou adalah pecinta susu strawberry, si bungsu yang akan mengaum layaknya bayi beruang jika ia sudah marah. Lou itu tipe seorang anak yang selalu menginginkan perhatian lebi...
