haii, maaf ya udah lama banget ga up 🙏🏻
makasii juga buat yang udah khawatir, aku baik kok disini🤍
Happy Reading!
-✦◌✦-
🤎🐻
ㅤㅤ
"Dasar tidak peka." Ravel menusuk potongan brownies dengan garpu yang tersedia, menggeleng miris melihat Lion yang tampak tak menyadari tatapan menusuk dari bayi beruang mereka.
Lion saat ini sedang duduk bersebelahan dengan Jake, hanya menemani remaja itu bermain game sembari mengajari beberapa trik untuk melawan musuh. Namun tanpa keduanya sadari, sedari tadi Lou terus memperhatikan dengan penuh rasa cemburu.
"Lou marah." gumam Lou tiba-tiba, menggembungkan pipi sembari mengalihkan pandangan. Bibir mungilnya tampak kotor karena remahan biskuit yang tadi ia makan, membuat Ravel yang sadar, segera membersihkan wajah si bayi dengan jemarinya.
"Sudah, sudah, kan masih ada kakak disini. Kak Lion cuma lagi di pinjam sebentar kok." ucap Ravel membalas, membuat Lou yang kini berada di pangkuannya langsung mendongak dengan tatapan sengit.
"Jangan menatap kakak seperti itu."
"Ish!" Lou mendengus, sembari mendorong sebal wajah Ravel yang baru saja mengecup pipi chubby nya.
Untuk Eve, ia saat ini juga sedang berada di pangkuan Darel, yang memang sengaja menjauhkan anak itu dari Lou karena ia terlalu rewel pada sang Gege.
Karena perut kecilnya sudah terisi penuh duluan, Eve tampak menolak saat Dave ingin menyuapinya brownies. Bayi Leovan itu sudah sepenuhnya teralihkan pada acara kartun yang sedang menayangkan episode baru.
Jika sudah seperti ini siapapun jadi tidak bisa mengganti tayangan televisi, jadi hanya bisa pasrah ikut menonton.
"Sudah Lou bilang Lou tadi mau ikut kak Lean saja." rengek Lou mulai bersandar pada dada bidang Ravel, mendusel disana dengan bibir mungil yang melengkung kebawah.
Ravel langsung menggeleng, menahan pinggang si bayi dengan satu tangan agar tak jatuh. "Tidak boleh, anak kecil tidak boleh ikut." balasnya kemudian, yang berhasil membuat Lou semakin merengek.
Lean dan Nathan baru saja pergi keluar. Karena mereka memiliki janji temu hari ini, dengan teman-teman bisnis sesama pewaris seperti mereka. Bukan untuk urusan penting, hanya pertemuan biasa dihari libur seperti layaknya hal yang sering dilakukan oleh para anak-anak seumuran mereka.
Sebenarnya meski dibilang libur sekalipun, Levan dan yang lain masih sering menghandle beberapa pekerjaan dari sini. Ravel dan Lion juga nantinya akan ikut turun tangan jika sudah siap. Karena mereka juga calon ahli waris di perusahaan raksasa milik sang Papa, seperti Lean sang kakak.
Meski begitu Levan tidak akan terlalu menuntut, jika nanti keduanya mungkin memiliki impian dan rencana masa depan sendiri. Berbeda dengan Lou, yang bahkan tidak pernah terbersit sedikitpun di pikiran Levan untuk membiarkannya bekerja mencari uang sendiri. Tak bisa di pungkiri, bahwa Lou memiliki hak istimewa sebagai bungsu kesayangannya.
"Kenapa Lou tidak suka kak Lion dekat-dekat sama kak Jake?" tanya Ravel dengan iseng, memandangi wajah si bayi sembari menyuapinya potongan kecil brownies.
Lou hanya menggeleng, mengunyah brownies dengan pelan sembari memainkan lengan besar Ravel yang masih memeluknya. "Pokoknya tidak suka."
"Kalau kak Ravel yang dekat-dekat bagaimana?"
"Tidak boleh juga!" balas Lou langsung, mendelik garang pada Ravel yang segera mengatupkan bibir rapat.
"Kakak hanya bercanda, kakak hanya bercanda." ucap Ravel, menarik senyum gemas sembari mengusap surai sang adik untuk menenangkannya. Ia benar-benar seperti sedang berhadapan dengan seorang bayi yang tidak rela berbagi apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOUISE
JugendliteraturLouise namanya, bocah cengeng super manja yang baru menginjak usia 13 tahun. Lou adalah pecinta susu strawberry, si bungsu yang akan mengaum layaknya bayi beruang jika ia sudah marah. Lou itu tipe seorang anak yang selalu menginginkan perhatian lebi...
