Bab 49: Terungkap

413 75 8
                                        

Dunia digemparkan dengan berita kematian Lee Haechan serta pertengkaran antara Lee Sunkyung dan Lee Bona di rumah duka. Sekarang, semua mata tertuju pada Keluarga Lee karena dua berita yang sangat menggemparkan itu.

Saat ini kediaman Keluarga Lee telah dikerumuni oleh wartawan. Selain itu, perusahaan utama juga dikerumuni oleh wartawan yang menginginkan sebuah penjelasan dari Lee Jeno selaku pemimpin baru di perusahaan tersebut.

Dan saat ini, Lee Sunkyung, Lee Huibeom, dan Lee Bona berdiri di hadapan Lee Huisang yang duduk dengan nyaman di kursi kebanggaannya. Kakek tua itu hanya menatap lekat anak-anaknya serta menantunya. Tidak ada sepatah kata yang ia ucapkan setelah ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan tersebut.

Ruangan itu tidak terlalu terang karena Lee Huisang menutup sebagian jendela menggunakan gorden. Sehingga, mereka bertiga tidak bisa melihat keadaan di sekitar ruangan karena cukup gelap.

Pandangan mata mereka hanya tertuju pada Lee Huisang yang sedang menghidupkan cerutunya. Keheningan ini terasa lama karena sejak tadi tidak ada satu pun yang membuka mulut mereka.

"Semua kekacauan ini, bukan lah salahku, Abeoji."

Lee Sunkyung dan Lee Huibeom sama-sama menoleh ke arah Lee Bona yang mengatakan semua kalimat itu dengan wajah penuh percaya diri. Sorot matanya seolah mengatakan bahwa semua ini memang bukan salahnya.

"Kau duluan yang memancingku, eonni" desis Lee Sunkyung dengan kesal.

Padahal, Lee Sunkyung masih dalam keadaan berduka. Sebelum dia berada di sini, dia ada di kamar Haechan dan sedang mengenang semua momen bersama anaknya meskipun kebanyakan momen mereka dipenuhi oleh perdebatan antara ibu dan anak. Tetapi, Lee Sunkyung merindukan anaknya.

Dia ingin waktu kembali berputar sehingga Sunkyung pergi ke konser Haechan dan menghalangi anaknya itu untuk pergi yang sampai sekarang tidak ada yang tahu mengapa Haechan pergi sampai nekad membatalkan konsernya.

"Diam."

Satu kata itu, membuat Sunkyung dan Bona mengatupkan bibir mereka. Tatapan mata mereka tertuju pada Lee Huisang yang sedang menghembuskan asap cerutunya.

"Tidak ada gunanya saling menyalahkan. Saat ini, posisi kita berada di ujung jurang. Mereka, sudah siap mendorong kita masuk ke dalam jurang."

Kalimat yang dilontarkan oleh Huisang membuat mereka bertiga mengernyitkan alis mereka dengan bingung.

"Maksud Abeoji?" tanya Lee Huibeom.

Dia tidak tahu siapa "mereka" yang ayahnya ini maksudkan.

Lee Huisang menghembuskan asap cerutunya itu lagi.

"Zhong dan Huang."

***

Chenle mengerjapkan matanya ketika dia melihat Jisung duduk di lobi hotel. Chenle baru saja ingin menyusul ayahnya pergi ke rumah sakit tetapi tiba-tiba saja sudah ada Jisung di hotel ini. Dia pun melangkahkan kakinya mendekati Jisung yang langsung berdiri ketika dia melihat Chenle berjalan menghampirinya.

"Ada apa?" tanya Chenle, dia pun duduk di sofa tersebut diikuti oleh Jisung.

"Tidak ada, aku hanya ingin menyapamu saja karena mumpung kau ada di Seoul" jawab Jisung terdengar tidak peduli.

Chenle yang mendengar jawaban dari Jisung itu pun mendengus geli. Dia menatap Jisung yang semakin hari terlihat semakin percaya diri. Di raut wajah anak itu seolah mengatakan bahwa dia lah pemenang dari semua permainan ini.

[FF NCT DREAM] The Rotten AppleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang