Petualangan mereka berempat di labuan Bajo tak berhenti hanya sampai di Pulau kalong saja. Masih ada beberapa destinasi yang menunggu untuk mereka singgahi.
Seperti saat ini matahari belum terbit tetapi mereka semua sudah bersiap untuk memulai perjalanan mereka menuju pulau padar. Disana mereka akan menikmati sunrise dari atas pulau tersebut.
Sampailah mereka di pulau tersebut dan mulai untuk tracking di tengah gelapnya langit.
Langkah demi langkah mereka jajaki, semburat cahaya matahari mulai terlihat. Perlahan matahari mulai menunjukkan eksistensinya bertepatan dengan mereka yang telah sampai di puncak.
Bila masih asik berpose dengan latar belakang cantiknya pulau padar di bantu dengan Aro yang sejak awal trip memiliki pekerjaan tambahan menjadi photographer mereka.
Salsa memilih mencari sudut yang lebih sepi pengunjung agar dia bisa lebih tenang menikmati nikmat Tuhan yang terbentang di hadapannya.
Lian celingak celinguk mencari keberadaan Salsa ditengah kerumunan orang. Matanya menangkap seorang perempuan yang sedang duduk anteng seorang diri seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
"Sendirian aja".
Salsa menoleh sekilas kemudian dia kembali fokus dengan pemandangan di depannya.
"Mau roti ga?". Tanya Lian. Sebelum turun dari kapal tadi Lian sengaja mengambil satu bungkus roti sandwich rasa cokelat karena Lian tau bahwa Salsa tidak memakan sarapannya tadi.
Salsa hanya diam menatap roti yang diberikan oleh Lian tanpa mengambilnya. Dengan inisiatif tinggi Lian membuka bungkus roti itu kemudian menyerahkannya kepada Salsa.
"Udah ini makan dulu, lu ga sarapan tadi".
Salsa menerima roti itu memang perutnya lumayan lapar karena skip sarapan tadi. Tapi dia lebih terkejut lagi mengetahui fakta kalau Lian tau dia tidak sarapan.
Kayanya dia beneran mata-matain gua deh. Batin Salsa
"Sini sampahnya". Lian mengambil alih bungkus roti yang ada di tangan Salsa kemudian memasukkannya ke dalam tas, dia akan membuangnya nanti. Kemudian dia berganti menyodorkan sebotol air minum kepada Salsa yang tentu diterima dengan senang hati.
Lian tersenyum melihat Salsa yang penurut seperti ini. Salsa mengembalikan botol air minum itu kepada Lian. Kemudian Lian meneguk sisanya sampai habis.
"Kalo mau minum lagi, masih ada tenang aja". Ucap Lian
"Lu niat banget ya".
"Ya kita kan harus persiapan, lu bisa aja pingsan sal. Ga sarapan, ga bawa air. Trek nya kan lumayan ini".
"Iya iya makasih ya".
"Sama-sama".
Matahari semakin tinggi, sudah tiba waktunya mereka untuk turun dan kembali ke kapal.
Di perjalanan menuruni bukit, secara tiba-tiba Lian berjalan di samping Salsa dan membisikkan sesuatu.
"Gua sebelumnya udah bilang kan sama lu sal, nikmatin trip nya ga usah mikirin yang lain dulu".
"Jangan murung terus, cantiknya sih ga hilang. Cuma jadi kurang perfect aja". Lian mengusap sekilas kepala Salsa yang terbalut hijab kemudian turun menyusuri bukit lebih dulu meninggalkan Salsa yang masih membeku di tempatnya.
Salsa menjadi orang terakhir yang sampai di bawah. Ketiga temannya sudah menunggu di dekat boat yang akan mereka tumpangi.
"Lama banget". Ucap Aro
"Kenapa kak? Ada yang sakit?". Tanya Bila sedikit khawatir pasalnya Salsa terlihat sedikit lemas.
"Gapapa, udah ayo. Maaf jadi lama nunggu".
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanfictionCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
