"lama banget lu". Omelan kecil Aro menyambut kedatangan Lian. "Dari mana si?".
Lian menghela nafas kasar kemudian menjatuhkan badannya ke sofa tepat di samping Aro.
"Rumah Salsa".
Seketika Aro menegakkan badannya kala mendengar nama Salsa disebut. "Udah clear semuanya?".
"Boro-boro".
"Ketemu aja enggak". Lanjut Lian.
"Yaelah". Aro kembali merebahkan badannya.
"Gua liat dia si, dari jauh tapi".
"Udah kaya sinetron lu". Ledek Aro. Dia jadi ikut pusing memikirkan kisah cinta kedua sahabatnya. Padahal dirinya sendiri masih jomblo sampai sekarang.
"Gua gak berani anjing, belum punya muka buat ketemu dia lagi".
"Punya muka satu, emangnya masih kurang?". Ucap Aro yang terdengar sedikit jengkel.
"Bukan gitu anjing". Lian melemparkan bantal sofa ke arah Aro dan berhasil mengenai wajahnya.
"Dia kan gak mau ketemu gua ro".
"Lu kan gak tau alasan dia gak mau ikut gua hari itu apa". Sahut Aro.
"Apa alasannya?".
"Ya gak tau gua juga, orang dia cuma geleng kepala doang". Jawab Aro dengan ekspresi wajah yang terlihat bodoh.
"Kalo ternyata semisal dia emang gak mau lagi ngeliat gua gimana Aro babiiiii, bisa-bisa gua diusir sama dia".
"Lu berasa diri lu dukun apa gimana sih li? Sok tau lu. Si Salsa bukan tipe orang kaya begitu Li, gua yakin".
"Lu gak mau bantuin gua?".
"Kan— keluar lagi tuh kalimat keramat". Sahut Aro malas.
"Kita kan temenan udah lama ro".
"Gak mau gua! Cari tau sendiri". Aro membalikkan tubuhnya menghadap sandaran sofa dan membelakangi Lian.
"Ro".
"Hm".
"Selama gua ga ada, ada cowok yang deketin dia gak?".
Aro menyeringai. Ide jahil terlintas di kepalanya. Kemudian Aro kembali membalikkan badannya menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Sempat ada—".
"Anjing!". Lian mengumpat dan menegakkan badannya, menatap Aro dengan tatapan tajamnya.
"Siapa orangnya?". Tanya Lian menggebu-gebu.
"Gua belum selesai ngomong ya lianjing".
"Kok lu gak kasih tau gua Aro bangsat".
"Kalo gua kasih tau, terus lu mau apa? Lu bisa apa? Mau kabur lu".
Lian tak menyahut.
"Gua sempet liat dia di cafe Deket kampus berdua sama cowok".
"Mukanya agak familiar si". Aro terlihat sedang berpikir sedangkan Lian menunggu Aro untuk menyebutkan nama orang tersebut dengan tak sabar.
"Satu kampus?". Tanya Lian
"Iya soalnya dia pake almamater kampus kita".
"Gua agak familiar sih sama mukanya, mirip si Gilang anak teknik sipil". Lanjut Aro
"Gilang". Lirih Lian.
"Yang pernah minjem motor lu, waktu acara pekan olahraga dulu". Ucap Aro karena Lian terlihat sedang mengingat-ingat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
Fiksi PenggemarCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
