Setelah hari itu, Salsa kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Walau begitu Salsa tetap merasa seperti ada yang hilang dari hidupnya. Salsa hanya wanita biasa tak munafik hubungan yang sudah terjalin tahunan menumbuhkan rasa cinta yang dalam.
Hubungan Salsa dan Bara terjalin sangat baik. Bahkan mereka jarang sekali bertengkar. Bara berhasil membuat Salsa kembali merasa dicintai walau akhirnya tetap harus menelan pil pahit yang menyakitkan.
Hari ini Salsa memiliki janji dengan Lian untuk berkunjung ke rumah Lian. Lian memberitahu Salsa bahwa bundanya meminta Salsa untuk berkunjung ke rumah.
Saat pertemuan pertama Salsa dengan bundanya Lian waktu itu memang membuat bundanya Lian senang sekali. Mereka sempat berbincang sebentar dan Salsa sempat berjanji akan kembali berkunjung.
Salsa diberitahu oleh mamahnya bahwa Lian sudah menunggu di bawah. Tadinya Salsa ingin berangkat sendiri saja karena jika Lian yang menjemput akan jadi bolak-balik. Tetapi Lian tetaplah Lian dia tetap pada pendiriannya untuk menjemput Salsa.
Setelah rapih dengan pakaiannya Salsa menyemprotkan parfum kemudian mengambil tasnya dan berjalan turun ke bawah.
Dibawah Salsa melihat Lian tengah mengobrol dengan mamahnya. Lian melihat ke arah Salsa begitu Salsa turun.
"Dek tunggu sebentar". Mamahnya beranjak kemudian berjalan ke arah dapur meninggalkan Salsa dan Lian berdua.
"Udah sal?". Tanya Lian
"Udah, tapi bentar tunggu mamah dulu".
Tak lama mamah Salsa kembali dari dapur membawa paperbag.
"Lian ini Tante titip buat ibu kamu ya".
"Ya ampun Tante gausah repot-repot".
"Udah gapapa, tadi Tante bikin pie susu. Kali aja ibu kamu suka"
"Terimakasih ya Tante, kalo gitu saya izin bawa Salsa dulu ya tan".
"Iya nak, hati-hati ya. Salam buat ibu kamu ya".
"Iya Tante".
"Mah, Sasa pamit dulu". Ucap Salsa
"Iya sayang hati-hati".
***
Di perjalanan tak ada percakapan berarti diantara mereka. Entah mengapa setelah Lian mengetahui bahwa Salsa dan Bara sudah tak memiliki ikatan apapun Lian merasa sedikit bingung harus bertindak seperti apa.
Dia merasa harus lebih bersabar dalam mengambil hati Salsa. Lian selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk menjalaninya secara pelan-pelan. Jangan sampai salah langkah dan malah membuat Salsa ilfeel atau menyakitinya.
"Sal".
"Hm?".
"R You okay?".
Salsa menatap Lian dengan alis terangkat seperti bingung dengan pertanyaan Lian kemudian dia mengangguk untuk menjawabnya.
"Kenapa emangnya?". Salsa balik bertanya.
"Engga soalnya dari tadi diam aja kayanya".
"Lu ga keberatan kan buat ketemu nyokap gua?". Lanjut lian
"Ah engga kok, sebelumnya gua juga emang udah janji sama nyokap lu buat mampir lagi kapan-kapan".
"Oh syukur deh, gua takut lu jadi ga nyaman". Balas Lian
"Ga kok Li santai aja". Salsa jadi tak enak hati, Lian jadi berpikir seperti itu karena dia terlalu banyak diam.
"Tapi nyokap sehat kan Li?".
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanfictionCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
