Salsa berpisah dengan ketiga kawannya yang lain. Dia menerima ajakan Bara untuk pulang bersama dengannya. Sejak tadi Salsa hanya diam dia hanya mengeluarkan suaranya jika perlu.
Bara merasakan kecanggungan itu sebenarnya, namun dia berpikir bahwa itu semua disebabkan oleh Salsa yang merajuk karena tak dikabari nya beberapa hari belakangan ini.
Awalnya Aro sempat meminta Salsa untuk pulang bersama dengan mereka saja karena sejujurnya Aro tak rela melihat Salsa bersama dengan lelaki itu. Bagaimanapun juga Salsa sudah seperti adiknya sendiri. Dia tak ingin Salsa kembali merasakan sakit.
Namun Salsa menolak dia meyakinkan Aro bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya Aro menyerah tapi dengan syarat jika terjadi sesuatu Salsa harus buru-buru memberitahu Aro dan Salsa menyetujuinya.
Terhitung sudah sepuluh menit berlalu sejak Salsa mendaratkan bokongnya menduduki kursi penumpang dari mobil yang dikendarai oleh Bara.
Namun selama itu pula Salsa masih terus diam membisu. Sesekali dia menanggapi omongan Bara namun hanya dengan gelengan ataupun anggukan semata, bila diperlukan Salsa tersenyum namun tentu saja semuanya sekedar paksaan.
"Bar jangan langsung pulang ya". Bara menoleh dengan cepat kala mendengar Salsa memanggilnya dengan sebutan bar bukan bay seperti biasanya.
"Kenapa?".
"Ada yang harus kita obrolin".
"Kenapa kamu panggil aku Bar bukan Bay".
"Itu kan nama kamu".
"Tapi biasanya ga gitu".
"Aku minta maaf sa". Lanjut Bara
Salsa menghela nafasnya dia sudah sedikit muak rasanya mendengar permintaan maaf Bara yang tak ada habisnya.
"Makanya cari tempat berhenti dulu, ga usah terlalu banyak tanya".
Bara diam. Dia memilih menuruti apa kata Salsa.
Mobil yang dikendarai Bara berhenti di sebuah taman yang tak terlalu ramai. Tadinya Bara ingin berhenti di salah satu coffeeshop agar mereka bisa sambil makan dan minum, namun Salsa menolak. Jadilah mereka berada disini sekarang. Duduk berdampingan.
Salsa memandang anak kecil yang sedang asik bermain perosotan seolah tak kenal lelah anak itu bolak balik menaiki perosotan itu sejak tadi.
Berbeda dengan Salsa, Bara justru asik memandangi perempuan cantik yang berada disebelahnya. Perempuan yang sangat dia kagumi sejak hari pertama dia melihatnya. Namun entah mengapa perasaan Bara terasa gelisah saat ini.
"Bar".
"Aku rasa udah waktunya kita selesai".
Hati Bara mencelos mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Salsa. Kenapa tiba-tiba seperti ini pikirnya.
"Kenapa tiba-tiba sayang?". Tanya Bara dengan pandangan seperti meminta penjelasan. Dia menggenggam tangan Salsa erat.
"Aku udah pikirin ini dari beberapa hari kemarin, dan ini keputusanku".
"Aku ga mau sa". Tegas Bara
"Kamu harus mau". Ucap Salsa tak kalah tegasnya. Saat ini dia menatap Bara dengan pandangan yang menyiratkan permohonan, kesedihan, serta kekecewaan. Namun sayangnya Bara tak bisa mengartikan itu.
"Seenggaknya kasih aku alasan sa, tapi kalau alasan kamu karena Lian aku ga mau".
"Kenapa jadi bawa-bawa orang lain". Salsa mulai merasa sedikit kesal.
"Sa kedekatan kamu sama Lian itu berbeda. Ga menutup bahwa ada sesuatu diantara kalian".
"Kok kamu jadi nuduh aku?". Kali ini Salsa benar-benar sudah tak bisa santai. Bisa-bisanya jadi dia yang balik dituduh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanfictionCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
