Keesokan harinya di siang hari setelah dokter selesai memeriksa kondisi Lian yang ternyata sudah cukup pulih, dokter tersebut memutuskan untuk memperbolehkan Lian pulang hari ini.
"Udah semua ini tan?". Tanya Aro yang masih setia menemani Lian.
Sejak pagi-pagi sekali Aro sudah berada di rumah sakit bahkan dia rela melewatkan kelasnya pagi tadi.
"Sudah sepertinya nak".
"Ya udah ayo tan".
Lian, bunda, dan Dini bergegas turun keluar dari rumah sakit sedangkan Aro menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
Mereka berempat menuju ke rumah orang tua Lian sesuai dengan permintaan bunda Lian awalnya Lian menolak dia ingin di apartemen saja tetapi bundanya langsung melarangnya.
"Oh iya nak Salsa kok gak keliatan kemana ya?". Tanya bunda Lian.
Lian melirik ke arah spion tengah sedangkan Aro melirik Lian sekilas.
"Emm Salsa masih di kampus kayanya tan, mungkin nanti nyusul".
"Oh gitu, Tante senang deh sama anak itu, cantik, pintar, terus sopan sekali".
Aro melirik Lian dengan ekspresi meledek sedangkan Lian terlihat mengusap hidungnya yang tak gatal kebiasaan Lian jika sedang salting.
Salsa yang dipuji kok Lian yang salting.
Obrolan demi obrolan terjalin diantara mereka. Sesekali Lian menanggapi dia menjadi lebih pendiam akhir-akhir ini.
Tak terasa mereka sudah sampai di kediaman orang tua Lian.
Aro membantu Lian yang sedang menurunkan beberapa barang bawaannya.
"Kalo udah dapat lampu Hijau sih kata gua mah gas". Bisik Aro
"Pala lu gua gas". Balas Lian kemudian berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
"Yeeuu si babi, nanti giliran udah diambil orang nangeeess".
Aro menyusul masuk kemudian.
"Kalian makan dulu sana, tadi bibi sudah masak". Ucap bunda Lian kepada anak-anaknya dan juga Aro.
"Sama bunda ayo". Sahut Lian
Mereka berempat makan dengan suasana tenang sesekali diselingi dengan obrolan ringan antara mereka.
Lian dan Aro saat ini berada di gazebo belakang rumah Lian.
"Ro".
"Hm".
"Makasih ya udah mau jadi teman gua".
Seketika Aro langsung menoleh ke arah Lian dan menatapnya dengan pandangan sedikit geli.
"Ngapain sih pake kaya begitu anjing, geli banget gua. Tuh liat merinding". Ucap Aro sembari menunjukkan lengannya kepada Lian.
"Si babi ga bisa diajak serius emang". Balas Lian
"Anjir lu pikir gua cowok apaan". Ucap Aro sembari mengibaskan rambut ghoib nya.
"Idih najis Aro."
"Hahahaha".
"Gua serius anjir". Kesal Lian
"Iya sama-sama".
"Sebenarnya gua juga males temenan sama lu cuma karena gua kasian aja sih akhirnya yaudah deh". Celetuk Aro asal
"Bangke emang lu! Tapi kalo dipikir-pikir emang hidup gua nih kasian".
"Eh bukan gitu maksud gua Li". Panik Aro
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanficCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
