Hadiah penenang dari Lian nyatanya tidak benar-benar bisa menenangkan gundah yang bersarang di hati Salsa.
Gelisah yang masih terus memenuhi rongga dada menyesakan untuk Salsa, yang bahkan membuatnya tak bisa menelan apapun untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong sejak pagi.
Sore ini Salsa masih berada di kampus. Dia baru saja mengikuti rapat organisasi untuk acara bazar yang akan di langsungkan beberapa hari lagi. Salsa dan kawan-kawan di organisasi nya berniat untuk mengadakan bazar yang menjual pakaian yang masih layak pakai untuk dijual kembali. Bukan hanya pakaian sebenarnya barang-barang lain yang masih memiliki nilai jual bisa juga menjadi opsi. Dan hasil dari bazar tersebut akan mereka sumbangkan ke panti asuhan ataupun panti jompo yang memang membutuhkan bantuan.
Salsa sedang mengemasi barang-barangnya.
"Sal jangan lupa laporannya ya". Ucap Fikri yang merupakan koordinator acara kali ini.
"Oke".
Salsa berjalan keluar. Hari ini tak nampak batang hidung kawan-kawannya. Pertama Lian yang menghilang sekarang Aro pun ikut menghilang. Sama seperti Lian, Aro tak bisa dihubungi.
"Kak Salsa!". Panggil seseorang dari arah belakangnya. Salsa sudah hafal suara siapa itu. Hanya dia sedikit terkejut mengetahui kalau Bila masih ada di kampus jam segini.
"Kamu belum pulang?". Tanya Salsa saat bila sudah berada di sampingnya.
"Baru selesai kelas". Bila menjawab dengan sedikit terengah-engah. "Harusnya kelas pagi tapi di undur sampai jam tiga tadi". Lanjut Bila.
Salsa hanya mengangguk kecil mendengar pernyataan Bila. "Bil kamu tau si Aro kenapa gak ke kampus?".
"Gak tau aku kak, chat aku gak dibales. Semalem sih dia chat aku, ngajak berangkat ke kampus bareng. Terus tiba-tiba tadi pagi gak ada kabar. Untung kelas aku di undur".
"Aku lagi nunggu-nunggu dia juga sih sebenarnya mau aku marahin". Ucap Bila dengan ekspresi yang penuh kekesalan.
Salsa terkekeh melihat Bila yang kesal terhadap Aro. "Terus sekarang kamu mau pulang?". Tanya Salsa.
"Iya".
"Bareng aku aja".
Salsa dan Bila berjalan sama-sama menuju parkiran. Kebetulan hari ini Salsa menggunakan mobil untuk ke kampus.
Setelah mengantarkan Bila selamat sampai rumah. Entah mengapa dirinya bukan langsung pulang ke rumah, Salsa justru membelokan mobilnya menuju markas yang sudah lama tak dia datangi. Begitupun dengan ketiga temannya yang lain.
Suasana rumah itu sepi sunyi. Hanya ada bi irah yang sedang menyapu halaman menggunakan sapu lidi, bi irah memang bertugas untuk membersihkan rumah tersebut sesekali.
Mobil Salsa memasuki pekarangan rumah yang menjadi markas mereka berempat. Bi irah tampak menatap ke arah mobil Salsa dengan penuh tanda tanya. Salsa keluar dari mobil. Seketika ekspresi wajah bi irah berubah menjadi sumringah.
"Neng Salsa". Ucap bi irah antusias.
"Iya bi". Salsa menghampiri bi irah kemudian mencium punggung tangannya.
"Sendirian neng?".
"Iya nih bi".
"Masuk dulu aja neng, istirahat. Bibi bikinin minum dulu".
"Gak usah bi, aku mau duduk di dalem aja sebentar".
"Siap neng".
Salsa berlalu masuk ke dalam markas yang sudah lama tak dia singgahi, meninggalkan bi irah seorang diri untuk melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanfictionCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
