bab 41 | gejolak

706 71 2
                                        

Lian dan Salsa kembali kedalam gedung tempat diselenggarakannya acara.

Kedua keluarga masih asik saling berbincang dan bersenda gurau. Salsa membawa Lian untuk menghampiri kedua orang tuanya.

"Om, Tante". Belum sempat Salsa berbicara Lian sudah mendahuluinya.

"Eh Lian, sudah makan nak?". Tanya mamah Salsa

"Udah Tante".

"Lian, apa kabar? Om sudah lama sekali gak lihat kamu".

"Sehat om, om gimana kabarnya?".

"Sehat-sehat". Jawab papah Salsa dengan senyumannya.

"Emm gini om, Tante. Saya mau izin bawa Salsa pergi sebentar, boleh?".

Mamah dan papah Salsa saling lirik satu sama lain dengan mamah Salsa yang tersenyum penuh arti.

Bukan hanya Lian tetapi Salsa juga gugup menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.

"Bol-".

"Enggak!".

Belum selesai papah Salsa berbicara sudah lebih dulu dipotong oleh seseorang.

"Enggak boleh, Salsa harus langsung pulang habis ini". Ucap Mas Kevin yang sudah memperhatikan mereka sejak tadi.

"Mas apaan sih". Sahut Salsa

"Mamah papah izinin kan?". Tanya Salsa kepada kedua orang tuanya.

Orang tua Salsa terlihat bingung tak tau harus menjawab apa. Mereka hanya tak ingin ada keributan disini.

"Sal udah gapapa, kalo memang tidak diizinkan tidak apa-apa om Tante. Mohon maaf saya sudah lancang". Ucap Lian

"Gak! Mah pah aku pulang sama Lian".

"Ayo Li". Tanpa menunggu apapun lagi Salsa langsung menarik tangan Lian.

"Salsa!". Panggil mas Kevin dengan suara tegasnya. Yang kemudian menarik perhatian beberapa orang disana.

"Sal". Suara lembut Lian berhasil menghentikan Salsa.

"Balik ya, ingat ini acara penting mas Kevin. Kita masih bisa pergi kapan-kapan". Bisik Lian dihadapan Salsa.

Terlihat ekspresi Salsa seperti sedang menahan amarahnya.

Lian perlahan melepas genggaman Salsa di pergelangan tangannya.

Dengan berat hati Salsa kembali menghampiri kedua orang tuanya.

"Sini duduk dulu sa". Mamah Salsa membawa anak perempuannya untuk duduk di sampingnya.

Salsa hanya diam dengan rahang yang mengeras. Papah Salsa menatap mas Kevin datar dan hanya bisa menghela nafasnya.

Lian berjalan keluar gedung menuju tempat dimana motornya terparkir.

"Li! Li!". Panggil Aro yang ternyata menyaksikan apa yang terjadi tadi.

Lian menghiraukan dia naik ke motornya, saat hendak memakai helmnya tangannya ditahan oleh Aro.

"Ada apa sih?".

"Gue balik duluan ro".

"Jelasin dulu ada apaan".

"Gapapa".

"Lu mau kemana?". Tanya Aro

"Gatau".

"Ke markas! tungguin gue disana". Perintah Aro.

Kemudian Aro berbalik menuju parkiran mobil, disana ada Bila yang berdiri menatap Aro dan Lian dari kejauhan.

"Ayo bil". Panggil Aro

Belum Terlambat Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang