Bunda Lian duduk termenung di tepian kasur tepatnya di kamar Lian. Teringat akan anak lelakinya yang saat ini sedang tak ada di rumah. Walau tak menampik dirinya sempat kecewa namun dia tetap merasa bangga pada anak lelakinya tersebut karena berani untuk jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan.
Tangannya bergerak mengelus sprei yang terpasang rapih membungkus kasur king size milik Lian.
"Nak, bunda kangen..". Setetes airmata jatuh membasahi pipi perempuan paruh baya itu.
Flashback..
"Bun Lian mau ngomong sebentar". Ucap Lian kepada sang bunda yang tengah sibuk merapihkan piring di dapur.
"Mau ngomong apa?". Bunda Lian berbalik menatap Lian sepenuhnya.
"Ikut Lian dulu ayo". Lian menggandeng tangan sang bunda kemudian membawanya menuju ruang keluarga.
"Mau ngomong apa nak?". Tanya bunda Lian setelah mendudukan dirinya di sofa.
Lian menarik nafasnya perlahan. Mencoba menekan rasa gugupnya yang sebenarnya masih sangat terlihat jelas dari raut wajahnya. Tangannya gemetar, Lian takut dengan segala kemungkinannya.
"Kenapa nak?". Tanya bunda Lian yang terlihat khawatir dengan kondisi anaknya. Bunda mengusap punggung tegap Lian, berusaha menenangkan sang anak.
"Bun, Lian minta m-maaf". Suara Lian terdengar lirih seolah tak kuasa untuk mengatakan semuanya.
"Untuk?".
"Bun— Lian harus rehabilitasi". Suara Lian tercekat dibagian akhir kalimatnya.
Wanita paruh baya tersebut termenung menatap anak lelakinya jantungnya berdegup kencang menunggu kelanjutan ucapan anaknya.
"Lian kecanduan—".
"Apa?". Potong bunda Lian cepat dengan suara tegasnya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Narkoba bun".
Refleks sang bunda membanting punggungnya untuk bersandar di sandaran sofa. Energinya seolah menguap hilang entah kemana. Hatinya mencelos mendengar pengakuan Lian. Airmatanya sudah tak tertahan, badannya gemetar.
Lian buru-buru turun dari sofa dan berlutut di hadapan bundanya. Lian pun tak dapat menahan airmatanya. Semua emosi yang dia pendam tumpah detik itu juga.
"Lian minta maaf Bun, Lian salah".
"Lian salah". Lirih Lian sembari terus menciumi punggung tangan wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu. "Lian minta maaf karena bikin bunda kecewa, maaf karena Lian belum bisa jadi anak yang baik untuk bunda".
"Sejak kapan?". Tanya bunda dengan suara yang pelan sekali.
"Setahun lalu". Jawab Lian
Bunda Lian memejamkan matanya mencoba menetralisir sesak di dadanya. Bagaimana bisa anak lelakinya terjerumus seperti ini.
Bunda Lian terisak, perasaan kecewa tentu menghinggapi hatinya. Itu semua valid. Lian pun sudah bisa memprediksi itu.
"Bunda gagal—". Ucap bunda Lian terhenti sejenak.
"Bunda gagal mendidik kamu". Lanjutnya.
Lian langsung mengakat kepalanya dan menatap bundanya dalam, dibalik mata yang basah karena air mata itu. "Enggak Bun, Lian yang salah. Lian yang gak bisa membatasi diri Lian sendiri".
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
Fiksi PenggemarCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
