Lian saat ini sudah dipindahkan ke ruang inap.
Suasana di dalam ruangan tersebut hening tak ada suara. Ruangan itu hanya diisi oleh Lian yang sedang terbaring dan Salsa yang memandanginya.
Salsa sejak tadi tak berpindah sedikitpun. Bukan karena dia tak ingin tetapi karena tangannya yang terus masih digenggam oleh Lian.
Perlahan Salsa melepaskan tangannya dengan hati-hati sekali, takut membangunkan Lian yang terlelap.
"Hmmm". Lian bergumam namun matanya masih terpejam dan genggamannya semakin mengerat.
Lagi.
Salsa masih terus berusaha melepas satu persatu jari Lian.
Berhasil.
Salsa mengendap jalan menuju toilet meminimalisir suara yang mungkin akan ditimbulkan olehnya.
Selesai buang air kecil, salsa membasuh wajahnya untuk sedikit menyegarkan dirinya.
Dia menatap pantulan dirinya di cermin.
Mencoba mencari-cari apa yang sebenarnya dia rasakan.
Apa semuanya akan berakhir sama? Apa yang dia lakukan sudah benar?
Rasa bimbang dan ragu yang menghantuinya masih bersarang di pikiran Salsa. Bukan hal yang mudah untuk menghilangkannya. Karena memang saat ini bukan waktu yang tepat untuk membuat semuanya jelas.
Biarlah semuanya tetap abu-abu sebelum berganti menjadi warna-warni yang indah atau mungkin menjadi hitam.
Braakkkk.
Seolah dirinya kembali ditarik ke dunia nyata kala mendengar suara benda terjatuh dari arah luar.
Salsa buru-buru keluar dari kamar mandi.
Betapa kagetnya dia melihat tiang infus yang sudah tergeletak di lantai dan infus yang seharusnya tersambung ke tangan Lian sudah terlepas begitu saja.
Salsa buru-buru keluar ruangan untuk mencari keberadaan Lian.
Dari kejauhan Salsa bisa melihat Lian sedang ditenangkan oleh salah satu perawat. Dengan terburu-buru Salsa menghampiri mereka.
"Lian".
Lian dan perawat yang bersamanya lantas langsung menoleh ke arah Salsa.
"Sal". Lian berlari ke arah Salsa kemudian memeluknya erat sekali.
"Lu ngapain disini?". Tanya Salsa di dalam dekapan Lian.
"Mba, ini mas nya tolong dibawa masuk aja dulu, nanti saya kesana buat pasang infusnya". Sela seorang perawat yang tadi terlihat bersama dengan Lian.
Salsa membawa Lian masuk kembali kedalam kamar inapnya, Lian duduk di kasur sambil terus memperhatikan gerak-gerik Salsa yang saat ini tengah membetulkan letak tiang infus yang sejak tadi rebahan di lantai.
"Lu kenapa keluar? Butuh sesuatu? Kan lu bisa panggil gua".
"Lu nya ga ada". Jawab Lian lirih
"Gua di kamar mandi".
"Ini lagi ngapain pake dicabut segala". Lanjut Salsa sambil mengangkat selang infus yang menjuntai.
"Lu itu lagi sakit Lian, ga usah banyak tingkah kenapa sih". Ucap Salsa yang sedikit terbawa emosi.
"Kan gua bilang jangan kemana-mana". Balas Lian dengan kepala tertunduk.
"Gua ke kamar mandi sebentar astaga. Berlebihan tau gak".
Lian mengangkat kepalanya menatap Salsa dengan pandangan yang sulit diartikan kemudian kembali merebahkan badannya dan menutup wajahnya menggunakan salah satu lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanfictionCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
