Hari-hari berikutnya berjalan sebagaimana biasanya. Salsa kembali ke kampus menjalani rutinitas sebagai mahasiswi semester akhir.
Salsa sedang duduk seorang diri di kantin yang ada di lantai satu kampusnya menunggu kelas yang sekitar 30 menit lagi baru akan dimulai.
Segelas kopi dingin menemani Salsa yang sibuk dengan ponselnya. Sebuah telepon masuk dari mas Kevin dengan rasa malas Salsa mengangkat telepon tersebut.
"Halo sa".
"Halo". Jawab Salsa dengan nada malasnya. Dia masih sedikit kesal dengan abangnya itu.
"Mas balik ke Surabaya dulu ya".
"Iya".
Diseberang sana terdengar suara kekehan mas Kevin. Saat sadar bahwa adiknya masih marah dengannya.
"Jangan ngambek mulu".
"Sok asik lu".
"Haha udah ah mas mau berangkat ke bandara. Kamu jangan bandel, jangan keseringan main".
"Bawel ah".
"Terakhir". Ada jeda dari ucapan mas Kevin. Salsa menunggu dengan sabar.
"Jangan pergi pergi sama Lian".
"Gak usah ngatur mas".
"Sa".
"Udah ah mas, aku udah gede gak usah terlalu berlebihan gitu".
Dengan hati yang dongkol, Salsa mematikan teleponnya sepihak.
Setelahnya Salsa memilih melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
Salsa mengikuti kelas sebagaimana mestinya. Beberapa kali dirinya menguap saat mendengarkan penjelasan materi dari dosennya di depan sana.
Menit demi menit berlalu kelaspun berakhir. Salsa keluar dari kelas hendak menuju perpustakaan untuk mengerjakan beberapa tugas mengingat saat ini baru menunjukan pukul dua siang.
"Woy!". Seseorang tiba-tiba merangkul pundaknya.
"Astaga!". Salsa berjengit kaget mengelus dadanya yang seketika berdebar kencang.
"Emang anak setan". Salsa memukul dada Aro yang saat ini sudah tertawa kencang.
"Lu sendiri?". Tanya Salsa
"Lian gak masuk, gatau kenapa". Sahut Aro yang sudah tau maksud Salsa. Gengsi nomor satu untuk Salsa.
Tiba-tiba ponsel Aro berdering terlihat nama Lian tertera disana. Aro melirik Salsa sekilas kemudian melipir. Salsa mengerutkan alisnya.
"Halo". Ucap Aro. Salsa diam-diam memperhatikan Aro. Salsa tak tau siapa orang yang sedang berbicara dengan Aro namun ekspresi Aro terlihat sedikit —panik.
"Lu dimana?".
"Oke, gue bangga sama lu".
Setelahnya telpon terputus. "Siapa?". Tanya Salsa sesaat Aro sudah kembali.
"Teman". Jawab Aro singkat.
"Lu udah makan?". Tanya Aro.
"Belum".
"Makan dulu ayo, gue traktir". Salsa menatap Aro heran. "Tumben". Ucap Salsa.
"Yaelah, mumpung gue lagi baik".
"Yaudah ayo cepat takut lu berubah pikiran". Salsa menarik tangan Aro menuju parkiran kampus.
Bila hari ini tidak masuk kelas karena dia sedang keluar kota untuk menghadiri pernikahan sepupunya. Ya begitulah mungkin memang sekarang sudah memasuki musim orang ketemu jodohnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Belum Terlambat
FanfictionCinta datang terlambat atau perasaan yang tidak disadari? Tidak ada yang benar-benar terlambat selagi mau mencoba berhenti jadi pengecut and let's make a move
