bab 46 | terungkap

559 54 3
                                        

Setelah melalui perdebatan kecil yang alot dengan Gema, karena dia yang terus memaksa Salsa untuk pulang bersama. Akhirnya Salsa bisa lepas setelah Aro menengahi.

"Gak usah maksa gem, Salsa bawa mobil sendiri. Lu Dateng kesini juga karena kemauan lu sendiri kan". Ucap Aro dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras, rupanya Aro pun sedikit jengkel dibuatnya.

Salsa agaknya merasa sedikit ngeri juga kala mengingat bagaimana ekspresi Aro yang terlihat sangat menyeramkan tadi. Salsa tak menyangka bahwa Aro ternyata memiliki sisi yang seperti itu.

Mobil yang dikendarainya bergerak tak tentu arah. Sejujurnya Salsa belum ingin pulang. Sampai akhirnya dia tersadar ketika mobil yang dia kendarai, dia berhentikan di depan sebuah toko kue. Salsa menatap toko kue di depannya dengan pandangan yang mengawang, entah untuk apa dia kesini.

Salsa keluar dari mobilnya dan bergerak masuk ke dalam toko kue tersebut. Harum semerbak khas toko kue menyambut kedatangan Salsa.

"Selamat sore, cari kue apa kak?". Sapa salah satu karyawan kala melihat Salsa yang berdiri di depan etalase memperhatikan satu persatu kue yang terpajang disana.

Pandangan mata Salsa terpaku kala melihat sebuah brownies cokelat. Entah dorongan dari mana Salsa merasa dia harus membelinya.

"Mba, saya mau brownies nya satu ya".

"Baik kak, ada lagi kak?".

"Gak ada itu aja".

"Oke, untuk payment nya disebelah sana kak. Nanti pesanan kakak akan saya antar kesana".

"Oh iya—". Salsa berjalan menuju kasir yang ditunjukan tadi.

Selesai membayar dia membawa brownies pesanannya dan kembali ke mobil.

Salsa sudah duduk nyaman di dalam mobil tapi dia belum berniat untuk kembali melajukan mobilnya. Matanya masih terus menatap sekotak brownies yang dibungkus dengan kantong plastik yang dia letakan di kursi penumpang. Brownies tersebut mengingatkannya terhadap seseorang.

Setelah lelah bergelut dengan hati dan pikirannya. Salsa memutuskan untuk melajukan mobilnya. Beberapa kali dia harus berhenti karena lampu merah. Langit terlihat mulai gelap karena memang hari sudah hampir malam.

Mobil Salsa berhenti tepat di depan sebuah rumah yang beberapa kali pernah ia sambangi. Salsa turun dari mobil. Mengumpulkan keberanian untuk menekan bel yang ada dihadapannya.

Ting..tong..

"Din tolong bukain pintu ada tamu kayanya". Ucap bunda sedikit berteriak.

"Biar saya aja Bu". Ucap ART yang sedang membantu bunda memasak di dapur.

"Gak usah bi, lanjut aja. Biar dini yang buka".

"Din". Teriak bunda sekali lagi.

"Iya Bun".

Dini berjalan ke depan rumah mengintip dari celah pagar untuk melihat siapa yang bertamu. Saat dia tahu siapa yang datang dini buru-buru membuka gerbang rumah tersebut.

Salsa langsung mengangkat kepalanya kala mendengar suara gerbang dibuka.

"Kak Salsa".

"Hai Din".

"Masuk kak, maaf ya nunggu lama kak".

"Gak kok".

"Mobilnya parkir di dalam aja".

Salsa memarkirkan mobilnya di depan garasi rumah Lian.

"Ayo kak".

Salsa mengekori Dini yang sudah lebih dulu masuk. Dengan menenteng sekantong brownies di tangan kanannya.

Belum Terlambat Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang