Bab 40 | lamaran

734 71 8
                                        

Salsa sudah siap dengan kebaya tradisional khas Jakarta yang saat ini menjadi semacam dresscode untuk keluarga kedua belah pihak.

Seperti biasa Salsa terlihat sangat cantik namun kali ini nampak lebih anggun.

Salsa akan berangkat bersama dengan keluarganya sedangkan ketiga temannya yang lain menaiki mobil terpisah.

Beberapa keluarga Salsa yang lain seperti om dan tantenya saat ini sudah berkumpul di rumahnya untuk bersama-sama berangkat ke tempat dimana acara lamaran tersebut dilangsungkan.

Sedangkan ketiga temannya memilih akan langsung menuju lokasi

Salsa sudah siap duduk di bangku paling belakang. Biasalah kasta terendah di keluarga.

Sesampainya di lokasi, Salsa diminta untuk membawa kotak cincin. Saat ini mereka masih sibuk bersiap-siap sebelum memasuki area gedung.

Salsa melihat ketiga kawannya yang sedang bercengkrama tanpa berpamitan oleh kedua orang tuanya Salsa lantas berjalan menghampiri kawan-kawannya.

"Beneran Dateng lu semua". Ucap Salsa

"Lah kan diundang". Jawab Aro sedikit sewot

"Yaudah santai".

Tiada hari tanpa ribut untuk salsa dan Aro.

Lian tampak gagah dengan balutan kemeja batik berlengan panjang. Jujur ini pertama kalinya Salsa melihat Lian memakai batik. Terlihat berbeda.

Mereka tak sengaja saling tatap namun pada akhirnya buru-buru mengalihkan. Lian menjadi sedikit canggung dia merasa malu akibat hal kemarin.

Saat ini sudah tak ada lagi yang Lian sembunyikan. Salsa sudah mengetahuinya tetapi Lian masih belum tau apa yang harus dilakukannya setelah ini.

Salsa rasanya ingin menyapa Lian namun dia sama canggungnya seperti Lian.

Aro yang melihat keanehan tersebut lantas mengernyitkan alisnya.

"Lu berdua kenapa dah? Jadi tiba-tiba bisu begini. Jadi curiga gua. Ada kejadian apa kemarin?". Cecar Aro

"Ngomong apa sih lu". Sahut Lian sambil menoyor kepala Aro.

"Mau tau aja urusan orang". Kali ini Salsa yang menyahut.

Dari kejauhan mas Kevin melihat adiknya yang sedang berbincang dengan ketiga kawannya. Raut wajah mas Kevin terlihat datar dan rahangnya sedikit mengeras.

"Mah itu Sasa panggil suruh kesini, bentar lagi masuk". Ucap mas Kevin kepada mamahnya

Mamahnya lantas melihat ke arah pandangan anak lelakinya itu.

"Sa!". Panggil mamah Salsa sedikit keras.

Salsa yang merasa namanya dipanggil lantas menoleh.

"Gua duluan ya". Salsa langsung menghampiri keluarganya dia berdiri di belakang papahnya yang berdiri di samping kanan mas Kevin sedangkan mamahnya berdiri di samping kiri mas Kevin.

Mereka memasuki gedung lamaran, acara berjalan lancar sampai selesai setelah itu diisi oleh keluarga kedua belah pihak saling berbincang dan menikmati sajian yang sudah disediakan.

"Oy bang selamat ya! Lancar-lancar sampai hari-h". Ucap Aro sembari memeluk mas Kevin dan menepuk-nepuk bahunya.

"Thanks ro, udah lama juga nih gak ngopi kita".

"Iya nih, atur aja bang".

"Eh bang, ini Lian, ini Bila". Lanjut Aro memperkenalkan Lian dan Bila kepada mas Kevin.

"Oh iya. Hallo". Mereka saling berjabat tangan satu sama lain.

Saat mas Kevin berjabat tangan dengan Lian, mas Kevin terlihat membisikkan sesuatu yang membuat ekspresi Lian seketika berubah dari tersenyum menjadi datar.

Belum Terlambat Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang