17

9.9K 601 24
                                        

Mobil hitam itu melesat, membawa Thunder menuju area apartemen mewah yang ada di pusat kota. Namun, siluet seorang wanita yang berdiri di depan gerbang, membuatnya segera menghentikan laju mobil di pinggir jalan. Perlahan kaca mobil itu turun, memperlihatkan sosok wanita yang langsung melempar tatapan marah begitu menyadari eksistensinya.

"Mengapa Anda melakukan itu?"

Tidak langsung menjawab, Thunder menghela napas sejenak. Ia menoleh dengan enggan pada sosok wanita yang berdiri dengan napas memburu. Tak menyembunyikan sedikit pun rasa marah sekalipun itu pada sang atasan.

"Kenapa aku tidak bisa melakukannya?"

Wanita itu menggigit bibir, agaknya ingin mara tetapi berusaha ditahan. Setidaknya, ia masih tahu batasan antara atasan dan bawahan.

"Aku bukan anak kandung Cornelius Mackenzie. Kau tahu jelas jika aku ketahuan, mereka pasti tidak akan melepaskanku!" Delilah, dengan perasaan campur aduk menambahkan dengan tegas. "Dan lagi, aku bukan anak Gracia Huileen."

Lagi-lagi Thunder menghela napas, membuang muka malas. "Jika aku bilang kau adalah anak kandung Cornelius Mackenzie, maka semua harus berjalan seperti itu. Bahkan ..." Thunder mendelik tajam, lurus pada sepasang mata cantik yang menatapnya marah. "Jika aku bilang kau adalah kesayangan Charles Mackenzie, maka kau harus."

Gracia mendengkus tidak percaya dengan yang barusan dia dengar. "Mackenzie bukan pebisnis sembarangan. Apakah ini cara Anda memperlakukan bawahan? Melempar mereka begitu saja ke kandang singa tanpa peduli-"

"Nona Delilah Huileen, sepertinya, kau sangat berambisi menjadi atasan, ya?" Kedua alis Thunder menukik. "Apakah kebaikanku membuatmu lupa siapa dirimu?"

Thunder menyeringai. "Jika kau memang peduli keselamatanmu, kau tidak seharusnya memprovokasi majikanmu."

Maksud Thunder adalah, tidak seharusnya Delilah membuat Carmelyn dalam bahaya. Itu membuat Thunder sedikit kehilangan kendali atas Carmelyn. Tidak, lebih tepatnya, Thunder tidak ingin ada orang lain yang bisa menentukan takdir apa pun untuk Carmelyn. Mau takdir baik, atau buruk, semua harus atas persetujuan Thunder. Bukan atas dasar inisiatif orang lain, terlebih bawahannya.

"Pintar-pintarlah merebut hati Cornelius dan Charles. Itu satu-satunya caramu bertahan hidup. Karena, jika kau gagal," Thunder mendelik, makin tajam dan gelap.

"Kau tahu betul aku suka bau darah."

***

Carmelyn hanya bisa menghela napas panjang saat si gadis menatapnya tajam, nyaris tidak berkedip selama bermenit-menit. Gadis itu menggunakan celana kargo dan kaos putih ketat yang memamerkan lekuk indah tubuhnya yang langsing, tetapi bugar. Rambut lurusnya tampak dikucir ekor kuda, tampak cantik sekaligus mengeluarka aura tegas.

"Aku benar-benar sudah capek! Satu menit lagi, deh!" ucap Carmelyn sambil mendudukkan diri, bersandar pada pohon di belakang tubuhnya.

Sekarang, dia tengah berada di jalur pendakian. Di mana hanya ada jalan setapak dari tanah dikelilingi pohon pinus yang menjulang. Itu benar-benar hanya hutan. Tak ada pendaki lain yang lewat.

"Sejak dulu, hidupmu selalu banyak drama, Carmel!" cibir wanita itu kesal.

"Maaf, Viona, tapi aku benar-benar tidak kuat kalau jalan lagi." Carmelyn memandang sekeliling yang sepi. "Kalau balik, udah jauh, ya?"

Mengeram, wanita yang dipanggil Viona itu langsung menarikk rambut ekor kuda Carmelyn, memaksanya untuk segera bangkit. "Kau bilang ingin mendaki untuk melupakan Thunder. Kalau setengah-setengah seperti ini, bukankah namanya omong kosong?"

"Huwaaa!" Carmelyn terpaksa berdiri, dan memaksa kakinya berjalan mengikuti langkah Viona.

"Kau tahu, Carmel, sudah sangat lama kita tidak berhubungan."

Villain's Dirty Scandal Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang