Dalam waktu singkat, karir Erdian hancur. Hanya semalam, tetapi bumi seolah langsung terbalik di punggungnya. Klarifikasi Erdian maupun usaha dari agensi tidak bisa menolongnya. Termasuk video pembelaan dari Viona.
Satu hal yang hanya bisa dipikirkan Carmelyn adalah semua itu perbuatan Thunder. Entahlah, ia memang tidak punya bukti, tetapi perasaannya berkata demikian. Maka dari itu, Carmelyn menyusutkan ego untuk menghubungi Thunder lebih dulu. Tentu, Thunder menyambut baik.
Itu 'lah mengapa pria itu kini berdiri menjulang dengan senyum lebar di depan rumah Carmelyn. Thunder memuji pakaian Carmelyn, yang sebenarnya menurutnya biasa saja karena itu hanya gaun berlengan pendek berwarna cream selutut. Thunder menggandengnya ke mobil, melesat hingga sampai 'lah di hotel mewah milik Thunder.
"Kamu mau makan apa?" tanya Thunder antusias sembari membuka buku menu.
Carmelyn hanya memesan secangkir kopi. Itu membuat alis Thunder mengerucut. Melihat suasana hati Thunder berubah cukup kontras, Carmelyn pun segera menambah menu makanan. Bukan tanpa alasan, jika mood Thunder sudah hancur, akan sulit membujuknya.
Ah, iya, niat Carmelyn datang menemui Thunder adalah agar pria itu melepaskan Erdian dan mengembalikan karirnya.
"Baiklah, langsung saja, apa yang ingin kau katakan, Carmel?" tembak Thunder langsung dengan tatapan lurus.
"Baguslah, Thunder sendiri pasti udah tahu apa yang mau Carmel katakan."
Wajah Carmelyn mendongak, membalas tatapan Thunder tak kalah tegas. "Jangan hancurin orang lain lagi karena Carmel."
Thunder berdecih. "Seharusnya, sejak awal kau tidak perlu mempedulikan orang lain selain aku."
Atmosfer mendadak langsung berubah dingin saat Carmelyn melihat onyx legam yang menatapnya dalam. Ada luapan emosi yang bergetar melalui udara yang mendadak semakin dingin, sampai-sampai membuat Carmelyn mengusap tengkuknya karena rasa tidak nyaman itu.
Menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri, Carmelyn berusaha membangun hubungan diplomasi yang baik dengan Thunder.
"Apa yang kau inginkan dariku, Thunder?" Carmelyn meneguk ludah dengan susah payah. "Asal masih dalam tahap yang wajar, aku bisa mengusahakan."
Mendengar tawaran menggiurkan itu, wajah seram Thunder sedikit cerah. Kerutan di wajahnya lenyap, tidak tersenyum, tetapi juga tidak marah, tetapi pandangannya tak lepas dari Carmelyn barang sedetik pun. Beberapa detik berlalu dalam kediaman yang beku, sampai ketukan kuku Thunder memecah keheningan.
"Carmel, kau sangat tahu apa yang kuinginkan."
Carmelyn menatap Thunder ragu. Antara berpura-pura bodoh atau memang sengaja menggoda Thunder. "Memangnya, apa yang Thunder inginkan?"
Seringai di wajah Thunder mengembang, menebar aura dominasi yang membuat bahu Carmelyn mendadak berat. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah santai diikuti suara ketukan pantofel, hingga si pemilik tubuh menjulang itu berhenti di belakang Carmelyn. Thunder membungkuk, sengaja menambah beban di pundak Carmelyn dengan telapak tangan besarnya, juga dagu yang ikut bertumpu di salah satu sisi tangan, begitu dekat dengan wajahnya. Sampai-sampai, Carmelyn bisa merasakan sedikit napas Thunder berhembus melewati pipi.
"Itu kamu, Carmelyn."
Thunder sengaja memiringkan wajah, membuat napasnya menerpa leher jenjang Carmelyn yang begitu mulus. Memperhatikannya begitu intens seolah ingin menerkam leher mungil itu.
"Yang kuinginkan itu selalu dirimu."
***
Carmelyn hanya bisa menggigit bibir saat melihat hanya dengan satu panggilan telepon dari Thunder pada bawahannya, pemberitaan di seluruh media mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Portal berita langsung memperbaiki nama Erdian dan menepis video yang beredar, mengklaimnya sebagai produk AI. Pihak manajemen juga berjanji akan mencari siapa penyebar video dan akan bertindak tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Villain's Dirty Scandal
RomanceBos Besar langsung panik saat calon istri yang bakal jadi objek balas dendam atas kematian ortunya mendadak tantrum ingin membatalkan pernikahan di H-3 pernikahan. Carmelyn, mendadak dapat ingatan dari kehidupan sebelumnya. Ternyata selama ini Carm...
