21

8.4K 569 14
                                        

"Brengsek!"

Thunder benar-benar tidak bisa lagi menahan emosi. Nama Erdian menjadi target amarah tak terbendungnya. Dengan satu jentikan jari, Thunder menggerakkan beberapa anak buahnya untuk mencari jejak digital atau skandal yang menjerat aktor yang sedang naik daun itu.

Setelah berkutat dengan laptop cukup lama, ia mendapatkan kiriman file dari bawahannya. Itu adalah video CCTV di mana Erdian tampak sedang mabuk di suatu tempat clubbing. Di video lain, tampak ia sedang merokok. Terakhir, file yang ia buka, menampilkan sosok Erdian sedang berjoget di tengah lantai dansa club.

Merasa kurang puas hanya dengan tiga video itu, Thunder menghubungi bawahannya.

"Hanya ini yang bisa kau kerjakan?"

"Dia orang yang cukup bersih, Bos."

"Aku ingin dia hancur. Cari lebih banyak skandalnya, skandal dating dengan artis lain atau buat saja dia menghamili seorang wanita. Aku tidak mau tahu, pokoknya buat dia hancur malam ini. Jika dia tidak hancur malam ini, maka, kau yang akan kuhancurkan sampai tubuhmu remuk." Tatapan mata Thunder lurus, makin tajam. "Kau mengerti?"

***

Tengah malam yang gelap dan sunyi, hanya terdengar suara kendaraan yang jarang melintas di sepanjang jalan yang sepi. Thunder, dengan wajah merah padam, mengemudi mobil mewahnya ke arah rumah Carmelyn. Hatinya terbakar oleh emosi yang tidak terkontrol. Gosip tentang Carmelyn dan Erdian, aktor papan atas, di media sosial, sukses membuatnya kebut-kebutan tanpa peduli apa pun selain bisa menemui Carmelyn untuk meminta penjelasannya.

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Thunder dan Carmelyn menjalin hubungan. Namun, hubungan mereka kini seperti di ambang-ambang. Thunder masih tidak terima setelah pembatalan pernikahan, ia malah diblokir oleh Carmelyn dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah melanjutkan hidupnya dengan orang lain.

Membanting roda setir dengan kepalan tangan, Thunder berdecak. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, Carmel."

Mobil Thunder berhenti di depan gerbang rumah Carmelyn. Ia langsung turun dan menggedor gerbang dengan keras. Tidak ada jawaban. Sepi, gelap, hanya ada suara deru mobil mewah yang cahaya lampunya menyorot ke gerbang. Thunder semakin marah dan menggedor lebih keras lagi.

Suara berisiknya itu sukses membuat sosok satpam rumah keluar dan berusaha menenangkan Thunder.

"Tuan Thunder, tolong jangan berisik. Ini sudah malam. Nona Carmelyn sedang istirahat," kata si satpam tampak mengantuk.

Thunder tidak mengindahkan permintaan si satpam.

"Panggilkan Carmelyn kalau tidak ingin urusan semakin rumit."

"Maaf, tapi Nona Carmelyn sendiri pasti sudah tidur. Anda bisa kembali ke sini besok."

Kesal, merasa percuma jika berbicara dengan si satpam, Thunder malah semakin marah dan mengamuk. Dengan wajah merah padam, ia berlari ke mobilnya dan membanting pintu mobil dengan kasar. Mobil mewahnya meluncur ke depan, menabrakkan mobilnya ke gerbang rumah Carmelyn. Tidak sekali, Thunder memundurkan mobil, mengambil ancang-ancang, dan melesat menabrak pagar rumah yang kokoh itu sekali lagi, lagi, dan lagi. Pagar rumah roboh, dan suara benturan mobil terdengar di tengah malam yang sunyi.

Si satpam berteriak, mengejarnya di belakang saat Thunder sudah sampai di depan rumah Carmelyn. Keheningan menyusul setelah kebisingan. Thunder keluar dari mobil yang baknya telah rusak, napasnya terengah-engah. Ia menatap ke arah rumah Carmelyn dengan mata penuh amarah dan kekecewaan.

"Tuan, saya mohon jangan buat keributan lagi."

Si satpam berusaha menghentikan Thunder, namun pria itu rupanya sudah terlalu marah.

Villain's Dirty Scandal Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang