26.

9K 558 26
                                        

"Suami?" Sebelah alis Thunder terangkat.

Carmelyn ikut mengangkat kedua alisnya. "Bukan?"

Itu membuat Thunder tertegun melihat wajah polos memandangnya kebingungan. Membuat Thunder lantas menanggapinya dengan senyuman. Pri itu menggenggam tangan Carmelyn, meremasnya lembut.

"Aku tidak tahu apa yang baru saja kau mimpikan. Tapi, seperti itu hal yang bagus?"

Bagus kepalamu! batin Carmelyn terasa meledak, dikuasai keinginan untuk menghantamkan kepala Thunder ke dinding. Namun, ia sedang berusaha menahan keinginan itu. Jika terlalu cepat dan gegabah, bukankah itu tidak akan menyenangkan?

Tatapan mata Thunder lurus, memandang antusias pada Carmelyn. Wanita itu mencebikkan bibir, memandang tautan tangan mereka. Ia ingat, dulu Thunder membuatnya merasa diperhatikan, tetapi di sisi lain, dia juga membuatnya merasa terabaikan. Tidak, bukan sekadar abai, tapi seolah Carmelyn tidak ada.

"Papa membutuhkan bantuan mu!"

Masih teringat jelas suara Carmelyn yang panik pada hari itu. Hari di mana perusahaan Papanya dikabarkan terkena dampak defisit secara global karena sektor tambang mengalami masalah. Bukan masalah biasa, tetapi masalah boikot global karena dampak keputusan pemerintah. Keluarga Mackenzie yang menaruh saham besar di bisnis salah satu komoditas tambang, mengalami rugi besar karena komoditas yang awalnya diprediksi akan laku keras, ternyata malah dibanting karena keputusan pemerintah yang mendadak.

"Aku akan membantunya."

Begitu 'lah ucapan Thunder, yang belakangan Carmelyn ketahui hanya omong kosong.

"Thunder, kenapa pengawalmu tidak mengizinkanku keluar rumah? Papa sakit, aku harus pergi ke sana."

Itu adalah panggilan telepon yang Carmelyn lakukan. Namun, bukan suara Thunder, yang menjawab di seberang justru suara wanita. Suara yang paling dia benci seumur hidup.

"Nona Mackenzie, apakah Anda masih tidak paham jika Anda menjadi tahanan rumah?" sahut Delilah memprovokasi.

"Apa?"

"Carmelyn, kau sungguh sudah sadar? Huft, astaga, aku lega!"

Carmelyn tersadar dari lamunan singkatnya saat menyadari Viona mengguncang tubuhnya dari sisi yang lain. Thunder langsung menghempas pegangan Viona di lengan Carmelyn, seolah sedang mengusir serangga.

"Kau membuatnya tidak nyaman!" tegur Thunder menatap sengit ke arah Viona.

Namun, Viona hanya melengos dan memasang wajah bersalah saat melihat Carmelyn. Jika dilihat lagi, ada jahitan di kepala Carmelyn karena benturan yang cukup keras. Dua puluh meter, itu jelas sebuah keajaiban jika seseorang masih bisa bertahan hidup.

Saat Viona menyentuh bahu Carmelyn, wanita itu mendesis. Kesabaran Thunder yang setipis tisu, beradu dengan Viona yang sedang panik karena rasa bersalah. Perpaduan yang sangat tidak cocok.

"Berhentilah mengganggu Carmelyn!" bentak Thunder.

Kali ini bukan hanya omong kosong, pria itu berjalan memutari brankar, menyahut lengan Viona dengan paksa lalu menariknya tanpa ganggu gugat. Viona jelas berusaha mengelak, tetapi tenaganya jelas kalah jauh saat Thunder menghempasnya keluar ruangan. Viona ingin berteriak atas kelancaran Thunder, tetapi pria itu lebih dulu menutup pintu begitu keras hingga membuat suara dentumannya menggema di seluruh penjuru lorong.

***

"Kenapa Papa tidak memberitahuku jika Carmelyn kecelakaan?" protes Charles pada Cornelius yang sedang menyuapi Carmelyn.

"Papa tidak ingin membuatmu panik."

"Tapi keadaan Carmelyn sampai seperti ini, apakah Papa pikir Carmelyn tidak pantas dikhawatirkan?!"

Villain's Dirty Scandal Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang