(θ‿θ) ~ Vote & Coment, Please! ~ (θ‿θ)
*** <( ̄︶ ̄)> ***
Bugh!
Satu tinju menghantam wajah Cornelius telak. Tak menyia-nyiakan waktu sedetik pun tanpa pukulan susulan yang bertubi-tubi dari Thunder yang datang dengan segunung amarah. Ditindihnya pria yang sudah menginjak usia kepala lima tetapi masih bugar layaknya umur tiga puluh tahunan itu.
Tentu anak buah masing-masing sudah bersitegang siap serang andai ada salah satu yang ikut campur dalam pertarungan antar bos berbeda generasi itu. Thunder mendominasi, tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Cornelius untuk membalas pukulannya. Baru setelah pria itu terengah-engah dengan wajah babak belur, Thunder menghentikan serangannya.
Dicengkeramnya kerah baju Cornelius hingga tubuhnya sedikit terangkat. Rahang Thunder mengeras, napasnya memburu layaknya harimau yang mengendus aroma daging segar.
"Di mana Carmel? Apa yang kau lakukan pada Carmel sampai dia memutuskan pernikahan? Pak Tua sialan, aku akan membunuhmu jika kau menyakiti Carmel seujung kuku pun."
"Cih! Kau pikir Carmel akan senang melihat Papa kesayangannya jadi seperti ini?"
Thunder menyeringai. "Tentu. Pasti dia senang melihat pembunuh ayah kandungnya dihajar sampai mati!"
Seketika raut wajah Cornelius semakin gelap. Entah mengapa, ucapan Thunder langsung membangkitkan singa yang tertidur dalam dirinya. Secepat kilat, Cornelius mendorong leher Thunder, tetapi berhasil ditahan oleh tangan Thunder sehingga posisi mereka kini saling berhadapan sembari adu lutut.
"Mulutmu benar-benar minta dirobek, ya?" sinis Cornelius tak mau buang waktu, ia mendorong tubuh Thunder hingga membuat pria itu bangkit dan menahan tubuh dengan tumpuan kaki belakang.
Keduanya berhadapan, berjalan melingkar sembari melempar tatapan penuh intimidasi. Agaknya mereka berdua seperti dua hewan pemburu yang sedang berebut daging segar. Saling mengintai dan bersiap menyerang dengan cakar dan taring saat ada kesempatan.
"Aku tidak ingin buang-buang waktu. Katakan di mana Carmel, maka aku akan mengatakan satu rahasia lucu."
Cornelius terkekeh sinis. "Kau pikir aku menyembunyikan Carmel? Asal kau tahu, Brengsek! Carmel sendiri yang tidak mau bertemu denganmu. Dia memutuskan pernikahan juga dengan kesadarannya. Meskipun terlambat, setidaknya dia sadar jika pria brengsek sepertimu tidak pantas dan tidak akan pernah pantas untuknya."
"Kau pikir aku percaya?" desis Thunder berlari maju menerjang Cornelius.
Keduanya terlibat perkelahian sengit, sampai-sampai ketegangan di antara kedua bodyguard mereka tak bisa dibendung. Aula kantor Mackenzie Group mendadak jadi area pertandingan liar. Suara gedebuk terdengar ngilu, satu per satu mulai tumbang, bukan mereda, serangan malah semakin brutal. Adu pukulan, tendang, bahkan saling hajar dengan benda keras tanpa ampun hingga banyak yang jatuh babak belur.
Yang jelas, Thunder benar-benar habis kesabaran hingga ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya telak ke dahi Cornelius. "Sekali lagi, di mana Carmel?"
Masih dengan senyum angkuh meski sudut bibirnya mengeluarkan darah, Cornelius menjawab dengan enteng. "Dia tidak ingin bertemu denganmu."
Thunder menyeringai. "Jika kau tidak mengatakan di mana Carmelyn, maka anak kandungmu sekarang mungkin sedang diseret Raymond Cristopher sebagai budak pemuas nafsu."
Kemudian Thunder mengeluarkan secarik kertas hasil tes DNA. Pria itu menyeringai saat kedua mata Cornelius membelalak tak percaya. Namun, sedetik kemudian Cornelius menyeringai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Villain's Dirty Scandal
Roman d'amourBos Besar langsung panik saat calon istri yang bakal jadi objek balas dendam atas kematian ortunya mendadak tantrum ingin membatalkan pernikahan di H-3 pernikahan. Carmelyn, mendadak dapat ingatan dari kehidupan sebelumnya. Ternyata selama ini Carm...
